May 9, 2020

What I Talk About When I Talk About Quarantine

Belakangan ini saya sedang membaca ulang buku Haruki Murakami yang berjudul What I Talk About When I Talk About Running. Meski tipis dan bisa habis dalam sekali duduk, buku ini menyenangkan sehingga tidak pernah membosankan untuk saya baca. Barangkali alasan lainnya adalah karena saya fanboy Murakami. Menurut saya, gaya dia bertutur sangat menarik. Tulisan dia bertempo pelan, berusaha menjelaskan suasana, detil, dan hal-hal kecil dengan baik tapi tidak terjebak menjadi guru yang mendikte terlalu banyak. Di buku ini, misalnya, suatu kali Murakami menjelaskan panasnya Athena saat dia menjalani lari maraton di kota tersebut, atau bagaimana kondisi jalanan tempat dia berlatih lari di dekat kampung halamannya yang berbukit-bukit. Selain itu, cara dia melompat dari penceritaan mengenai dirinya sendiri dan apa yang dia pikirkan selama karir panjangnya sebagai penulis (dan pelari) sungguh asoy. Sehingga saya merasa ceritanya tidak melulu berputar mengelilingi dirinya sendiri.

Itu adalah kesan saat saya membaca buku tersebut untuk kali pertama. Saat kembali membuka bukunya baru-baru ini, saya menangkap ada hal lain yang menarik. Murakami, pada suatu titik, memutuskan menutup bar yang selama ini menghidupinya, menghabiskan segala kebiasaan yang menurutnya buruk, dan fokus mengejar apa yang benar-benar dia inginkan setelah sekian lama: menulis. Konsekuensinya adalah dia berusaha keras untuk disiplin dan memacu diri, menjaga pola hidup dan pola tidur, serta – yang membuat saya berpikir ulang tentang teori introvert dan ekstrovert – menarik diri dari kehidupan sosial. Kalau tidak benar-benar perlu, katanya, sebisa mungkin dia tidak berinteraksi dengan orang lain. Dia mulai memutus lingkaran-lingkaran besar pertemanannya. Sebuah keputusan yang sangat berani mengingat sebelum ini dia memiliki bar yang mau tidak mau mengharuskannya berinteraksi dengan sangat banyak orang setiap harinya.

Namun ini bukanlah resensi buku What I Talk About When I Talk About Running. Hanya saja, hari-hari ini tak terhitung orang yang seperti Murakami, memaksa diri untuk karantina mandiri dan mengakhiri interaksi sosialnya demi memutus rantai pandemi Covid-19 keparat yang tengah menghantui dunia. Tidak berakhir sama sekali memang. Teknologi sekarang tidak memungkinkan orang untuk berdiam diri dan membiarkannya menjadi petapa yang hidup nyaris seorang diri. Masih ada makhluk tak kasat mata bernama internet. Sebagian dari diri saya bersyukur teknologi ini begitu memudahkan banyak hal, tapi sebagian diri saya yang lain hingga hari ini masih terus mengutuki internet sebagai penyebab hilangnya konsentrasi serta berkurangnya waktu baca dan beristirahat.

Walau dalam kondisi karantina mandiri, syukur dan kutukan sekali lagi patut kita haturkan kepada internet, dunia tetap berjalan meskipun mengalami perlambatan drastis. Berkat internet, kerja-kerja formal yang biasanya dikerjakan dalam kantor dapat diadaptasi (yang sering disebut oleh para pakar sebagai sebuah disrupsi) menjadi kerja di rumah saja. Banyak orang akan berpendapat perubahan ini menyenangkan dengan berbagai alasan, tetapi saya yakin tidak sedikit yang hingga hari ini masih belum menemukan jawaban yang tepat untuk mengatakan kerja dari rumah merupakan hal yang baik. Konteks hal tersebut bukanlah ajakan untuk tidak bersyukur, tentu saja. Saya pernah membaca artikel yang membahas kemajuan teknologi tidaklah serta merta membuat manusia menjadi semakin produktif. Alih-alih produk keluaran yang makin berkualitas, intensitas pekerjaan yang tinggi menyebabkan banyak waktu, terutama waktu beristirahat, terbuang sia-sia. Dengan perumpamaan yang menarik, artikel tersebut menganalogikan manusia modern ibarat hamster yang berada dalam roda putar. Kita merasa berlari cepat meskipun faktanya kita sedang bergerak di tempat, tidak ke mana-mana. Revisi yang semakin banyak, jam kerja yang berubah menjadi tak terbatas, pembahasan mengenai hasil kerja yang terus berulang, dan rapat yang tidak efektif semakin sering dilakukan. Belum lagi jika hal tersebut terjadi di negara dunia ketiga dengan berbagai masalahnya. Listrik yang sering padam hingga koneksi internet yang tidak stabil menjadi jalan cepat bagi kaum pekerja untuk menyulitkan diri sendiri.

Awal masa karantina, perkantoran dan banyak industri mulai melakukan perpindahan proses bisnis dengan sangat cepat. Kelas pekerja sebagai roda penggerak pun mau tidak mau harus ikut menyesuaikan diri dengan situasi. Bilik-bilik kantor bergeser ke tempat tinggal masing-masing. Pertemuan fisik beralih menjadi pertemuan dunia maya. Rapat-rapat rutin yang biasanya membosankan kian menjadi membosankan karena harus berganti media dari tatap muka menjadi tatap layar. Telepon video lama-lama menjadi, mengutip istilah ekonom, normal yang baru. Pada intinya, pekerjaan harus tetap dijalankan karena ekonomi harus berputar agar perut-perut yang lapar bisa terisi.

Sayangnya, beban pekerjaan antarorang bisa jadi sangat berbeda. Pun waktu yang tersedia, bagi beberapa orang bekerja dari rumah dianggap menjadi begitu banyak. Golongan pekerja tiap pagi dan sore harus menempuh perjalanan dengan waktu yang sungguh menyita merasa bahwa dengan bekerja dari rumah waktu yang tersisa dalam sehari jadi berlebih. Selain itu, tuntutan untuk terus produktif, terus belajar, dan terus berkembang membuat orang-orang dengan waktu berlebih ini memikirkan cara untuk menghabiskannya dengan optimal. Telepon video yang semula digunakan untuk keperluan kantor pun didayagunakan sebagai media “belajar”. Jadilah webinar (seminar berbasis web), kelas-kelas daring, dan dan diskusi jarak jauh menjadi barang yang meledak di pasaran. Ruang-ruang maya yang biasanya berisik oleh tulisan dan gambar kian ramai dengan tumpukan konten audiovisual.

Saya teringat salah satu jurnal Eka Kurniawan yang berjudul “Ketika Semua Orang Bisa Bicara, Apa Tugas Penulis?” di blog pribadinya. Di awal tulisan dia mengutip Pidato Kebudayaan Karlina Supeli yang berkata bahwa ruang-ruang publik sudah terlalu gaduh dengan komentar siapa saja yang bisa menjadi pakar apa saja di segala persoalan. Dulu saat masyarakat tak memiliki akses untuk bersuara, para penulislah yang menyuarakan mereka. Namun fenomena beberapa tahun terakhir, menurut Eka, memperlihatkan masyarakat luas kini sudah memiliki akses untuk bersuara. Akibat tidak langsungnya, komentar acak dan pemikiran yang berasal dari perenungan yang mendalam seringkali berakhir seperti benang kusut – nyaris tak dapat diurai. Misal dari debat-debat (yang seringkali tak bermutu) di twitter, saya melihat banyaknya orang dungu menang melawan para akademisi karena mereka memiliki jumlah pengikut yang lebih tinggi (juga fanatik) dan corong yang lebih kencang. Kasus anggapan remeh bahwa pandemik Covid-19 tidak lebih dari konspirasi adalah salah satunya.

Akses untuk bersuara kini merambah ke tempat-tempat lain yang tidak begitu ramai sebelum era bekerja dari rumah. Taruhlah di siaran langsung Instagram, saya pernah suatu kali melihat deretan notifikasi yang muncul di bagian atas aplikasi tersebut menyala dalam jumlah yang relatif banyak dalam satu waktu. Belum lagi siaran langsung Youtube dan konferensi video melalui berbagai aplikasi. Hal semacam ini menimbulkan problem tersendiri, setidaknya menurut saya.

Yang pertama adalah jumlah acara yang muncul merupakan indikasi semakin banyaknya orang ingin diberi ruang untuk bicara agar terlihat relevan dan tidak dilupakan. Padahal sudah hukum alam jika semakin bising media sosial, semakin besar kemungkinan orang untuk menjadi tidak terlihat dan terlewat begitu saja. Bagi banyak orang pecinta keterikatan (engagement), hal tersebut merupakan sebuah persoalan. “Persetan Andy Warhol, kami ingin terkenal dan menjadi pusat atensi meski hanya 15 menit. Bukankah menunjukkan kepada masyarakat internet bahwa kami terus hadir dan menemani para pengikut ada di buku manual penggunaan media sosial?”

Sayangnya, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan umpan balik yang diperoleh. Katakanlah saya membuka media sosial dan menemukan beberapa siaran langsung pada saat yang bersamaan, siapa yang harus saya tonton? Saya pernah iseng mengecek salah satu siaran langsung, ternyata penontonnya bisa dibilang hanya 1-2 orang. Artinya kebingungan membagi fokus juga dihadapi oleh orang lain. Selain itu, menjadi seorang pemirsa yang anteng menyaksikan acara orang yang sebetulnya memiliki kapasitas di bawah dia merupakan hal yang melelahkan. Hari ini, siapa yang memiliki kebesaran hati untuk tetap menundukkan diri?

Perkara berikutnya adalah tema pembicaraan yang seperti pertanyaan para politikus alias retoris. Beberapa malah mengambil topik yang cukup berani karena nyaris belum memiliki jawabannya. Contohnya, bagaimana ramalan perekonomian ke depan atau efektivitas kebijakan makroekonomi di masa pandemi atau semacamnya. Saya sendiri sepakat dengan Chatib Basri yang menyatakan semua prediksi akan sia-sia selama antivirus Covid-19 belum ditemukan. Jadi, selama kondisi belum normal kembali, pergerakan dunia bisa dibilang seperti momen bertemunya kurva permintaan dan kurva permintaan di pasar bebas. Seberapa pun besarnya campur tangan yang dilakukan otoritas, peran utama tetap berada di tangan para pelaku kegiatan sendiri. Sepanjang para pelaku masih dihantui oleh bayang-bayang virus yang belum tertangani, intervensi hanyalah menjadi obat pereda nyeri yang tidak menyembuhkan akar persoalan.

Tentu, sekali lagi, pemikiran tersebut hanyalah kelindan yang mengganggu waktu-waktu saya dalam jam tidur selama pagebluk. Nyaris semua bisa diperdebatkan bahkan oleh saya sendiri. Akses orang bicara, dalam banyak cerita, merupakan kabar baik. Kini akses informasi semakin luas, penyampaian kritik ditujukan langsung ke pihak terkait dengan mengurangi banyak birokrasi, perbaikan dilakukan oleh instansi pemerintah yang kerap menerima keluhan fasilitas publik, dan lain sebagainya. Selain itu, perbedaan antara orang yang ingin bicara karena mau selalu cari panggung dengan mereka yang melakukannya dengan tujuan coping mechanism atau ingin belajar dengan cara membagi hal yang mereka tahu sama susahnya dengan mencari mens rea dalam kasus korupsi atau itikad baik Wajib Pajak, apakah dia ingin ke luar negeri dalam rangka urusan penting atau ingin menghindari pajak.

Eka Kurniawan adalah contoh yang baik dalam mengurangi kebisingan dunia internet. Dia pernah “bunuh diri” dengan cara menutup akun media sosialnya agar bisa membaca buku lebih banyak, menulis jurnal lebih rutin, dan menulis lebih teratur. Mengutip jurnalnya, Eka ingin membisu, dalam arti menahan diri untuk tak berkomentar, dan mundur sedikit ke belakang, untuk membaca buku, berpikir, masuk laboratorium, melakukan percobaan, penelitian, dan sejenisnya. Namun apabila orang-orang tidak ingin lelah belajar dan ingin langsung ngomong sebanyak-banyaknya, itu adalah hak mereka. Haruki Murakami dalam What I Talk About When I Talk About Running pun mengamininya. Menurut dia, “I've always done whatever I felt like doing in life. People may try to stop me, and convince me I'm wrong, but I won't change.”

0 comments:

Post a Comment