Nov 4, 2018

Ziarah Bohemian Rhapsody


Sudah sekitar satu pekan ini, film Bohemian Rhapsody ditayangkan di bioskop. Saya yang sudah menantikan film ini sejak lama tentu tidak ingin ketinggalan menontonnya. Pada hari pertama penayangannya saya langsung memesan tiket, meskipun baru ada jadwal untuk tengah malam. Selesai menontonnya, saya pulang dan langsung tidur. Keesokan pagi, saya terbangun dengan hati yang aneh, senang yang memuncak sekaligus remuk tak terkira.

Bohemian Rhapsody merupakan film biopik mengenai Freddie Mercury, vokalis Queen, salah satu band terbesar sepanjang masa. Film dibuka dengan adegan para personel band sedang bersiap memasuki panggung untuk konser Live Aid, dan ditutup dengan aksi panggung Freddie dan kawan-kawan di gigs tersebut. Namun di sini saya tidak sedang ingin bercerita penuh mengenai isi film, apalagi meresensi dengan kritik yang berisi tentang kesalahan-kesalahan faktual dalam film ketika dibandingkan dengan kehidupan asli Freddie (ayolah, teman, film dibuat untuk menjadi film, menjadi seni – dan tentu saja, menjadi fiksi!), atau tentang kucing-kucing Freddie yang tidak pernah menua, atau kecepatan tempo dalam film yang membuat karakter para tokoh tidak dibangun dengan baik, hingga tuduhan film ini menunjuk secara tersirat tapi semena-mena kehidupan glamor sang vokalis dan, ini yang paling menonjok, perilaku homoseksual sebagai biang kerok AIDS yang dideritanya.


Saya bahagia saat menonton Bohemian Rhapsody. Saya pikir rasa ini yang paling penting dalam menikmati sebuah karya, entah itu karya yang berupa seni tari, novel, cerpen, musik, juga film. Setiap orang bebas berdebat mengenai nilai dan mutu ketika berbicara dalam konteks akademis, tetapi masing-masing orang pun memiliki preferensi yang berbeda atas keindahan. Barangkali komparasi tersebut sama seperti penikmat rock yang akan memicingkan mata sambal menahan geli ketika menonton dangdut, atau pengagum cerita-cerita dengan tema realisme sosialis yang terus-terusan memandang rendah karya fiksi sains dan metropop. Namun, ketika kita bahagia dengan jalan yang telah kita pilih secara sadar, apa peduli setan?

Perasaan macam itulah yang muncul ketika saya menonton film ini. Setiap kali soundtrack mulai menyambar pelan-pelan hingga muncul dengan jelas sebagai lagu yang telah akrab di telinga, saya berusaha sebisa mungkin untuk menahan diri agar tidak berjingkrak-jingkrak dalam studio. Kesenangan meluap-meluap setiap beberapa menit sekali, nyaris sepanjang film. Hingga saya memutuskan kembali menonton film ini persis satu pekan setelah film ini perdana ditayangkan untuk memastikan apakah saya bahagia oleh Bohemian Rhapsody sebagai film atau sebagai musik. Pada kesempatan kedua, memang, kelemahan film makin terlihat, seperti plot yang berlubang dan penokohan yang kurang dibangun. Biar begitu, saya tetap saja kegirangan, terutama saat adegan Freddie sedang berdebat dengan Rog, Deacy, dan Brian saat membikin lagu dan ketika mereka menuntaskan aksi panggung – apalagi konser Live Aid yang dapat mengantarkan saya ke puncak kenikmatan musik dan visual melalui lagu dan aksi teatrikal yang lincah dan centil dari Rami Malek – pemeran Freddie. Saya masih berkomat-kamit, ikut menyanyikan pelan-pelan single-single popular milik Queen.

Sayangnya, persis di titik inilah saya sadar, sebagian besar perasaan senang yang saya alami tidak disumbangkan oleh film maupun lagu dalam Bohemian Rhapsody, melainkan oleh nostalgia. Queen adalah salah satu band favorit bapak semasa hidupnya.

***

Saya tidak tahu apakah bapak mendengarkan Oasis, U2, atau Dream Theater. Saya mengakrabi nama-nama band legenda itu kemudian hari, saat saya mulai beranjak besar dan berteman dengan orang-orang yang memiliki referensi musik luas. Namun bapak memperkenalkan saya pada Deep Purple, Scorpions, dan Queen sejak saya masih sangat kecil.

Pada saat itu bapak memiliki koleksi kaset pita yang sangat banyak. Saya tidak ingat apakah itu menunjukkan album-album yang bapak sukai. Kebanyakan berisi album dari band dan penyanyi lokal seperti Panbers, Koes Plus, Gong 2000 atau Franky Sahilatua. Nyaris semua adalah orang-orang yang berada pada puncak kejayaannya sebelum saya lahir. Paling banter, untuk stock yang agak baru, saya hanya mengingat nama boomerang dan jamrud dari koleksi tersebut. Sisanya adalah koleksi band rock luar yang saya lupa siapa saja (beberapa di antaranya adalah band yang saya sebut di atas). Namun ketika kami membeli pemutar VCD dan mengisinya dengan sedikit VCD sebagai pelengkap, saya ingat satu dari yang sedikit itu adalah A Night at the Orchestra. Secuil ingatan purba saya berkata bahwa saya pernah terbangun pada suatu pagi (saya lupa apakah itu akhir pekan, atau hari libur, atau saya sedang sakit atau sedang ingin bolos sekolah) dan mendapati bapak menyetel Bohemian Rhapsody berulang kali hingga siang.

Beberapa potongan momen lain, datang seperti kilat yang menyambar sekejap-sekejap dalam ingatan, berusaha meyakinkan saya bahwa bapak memang menggilai Queen. Barangkali, kegilaan itu pula yang membuat bapak memelihara kumisnya agar tampak seperti Freddie. Bahkan, saya mendapati beberapa foto yang menampilkan hikayat masa muda bapak: berambut gondrong dan memakai setelan kemeja – celana layaknya bintang rock delapan puluhan.

Yang jadi persoalan, setahu saya, bapak tidak bisa memainkan alat musik. Yang dia andalkan hanyalah suara yang menurutnya sudah cukup lumayan untuk kelas-kelas karaoke. Kelakuan ini nyaris persis seperti Freddie Mercury dalam film Bohemian Rhapsody . Pada waktu berkenalan dengan Brian dan Rog, Freddie memamerkan suaranya dengan cara bernyanyi lantang di depan mereka berdua, tapi mengaku tidak dapat memetik gitar (meskipun orang-orang tahu bahwa mereka tidak berkenalan dengan cara seperti itu – hey, sekali lagi ini fiksi, tuan dan nona – dan Freddie cukup serius belajar piano dan olah vokal saat duduk di bangku sekolahan dan bergabung dengan kelompok paduan suara di sana).

Akan tetapi, bapak bukanlah Freddie. Mungkin prestasi terbaiknya dalam bermusik adalah bersekutu dengan teman-teman sekolahnya untuk bermain band atau menjuarai lomba menyanyi tingkat RT jauh sebelum saya memiliki cukup kesadaran di dunia ini. Pada akhirnya, bapak harus menyerah dengan keadaan. Dia bukanlah rocker dan untuk itulah dia memutuskan menjadi PNS hingga pensiun puluhan tahun kemudian. Menyanyi dan mimpi menjadi bohemian harus dia tinggalkan karena sadar hidupnya tidak di lintasan itu. Obsesinya pun hanya bisa disalurkan pada saat senggang dan memungkinkan, yaitu dengan cara menyetel melalui pemutar yang tersedia di rumah dan ikut menyanyi bersamanya atau menyumbangkan lagu saat kondangan ke tempat sanak dan saudara. Khusus yang terakhir, menurut ibu, menjadi hobi bapak yang menyusahkan para pengiring. Sebab, bapak tidak bisa bernyanyi campursari atau dangdut yang lazim diputar pada momen hajatan, sedangkan para pengiring tidak bersiap untuk lagu-lagu yang ingin bapak nyanyikan: Widuri karangan Broery Marantika atau My Way, andalan Frank Sinatra.

Setelah dua kali menonton Bohemian Rhapsody, serta menghabiskan waktu untuk bengong, merenung dan mengenang, asal mula perasan senang sekaligus remuk yang saya alami terjawab sudah.  Mengikuti Rami Malek pecicilan menyaru sebagai Freddie Mercury mau tidak mau  membuat hati saya serasa dilolosi – mengingat bapak, masa kecil, awal saya mengenang musik dan pengalaman dan segala remah yang membangun kenangan tentangnya. Itu adalah perasaan yang bercampur, antara bahagia oleh “reuni” dengan bapak sekaligus kesedihan karena tersadar bahwa masa-masa itu sudah sangat jauh tertinggal di belakang.

Meski berada di kota dan pulau yang berjauhan, saya merasa baru saja berziarah ke makam bapak dan perlu berdoa banyak-banyak.

1 comment:

  1. Aku pikir bakal baca tulisan yang se "vibe" sama obrolan kita di dm, Mas. taunya...... bangke kamu! *ambiltissue*

    ReplyDelete