Mar 22, 2018

Di Atas Segala Lapangan Tanah Air Aku Hidup, Aku Gembira

Pagi ini saya tiba-tiba teringat tulisan Muhammad Hatta yang berjudul "Di Atas Segala Lapangan Tanah Air Aku Hidup, Aku Gembira". Kali pertama tulisan ini dipublikasikan dalam harian Daulat Ra'jat dengan titimangsa 20 Januari 1934.  Akan tetapi, isinya selalu relevan buat mereka dan segala yang mengaku orang Indonesia. Saya ketik ulang di blog ini untuk memperingati lima tahun saya penempatan, untuk rekan-rekan DJP yang baru saja hendak menjejakkan kakinya di seluruh wilayah Indonesia, dan untuk siapa saja yang berkenan membacanya.

***

HERBERT Spencer, ahli filsafat terkenal pada abad yang lalu mengatakan bahwa manusia itu pada hakikatnya bersifat kuno. Hatinya sering terikat oleh kebiasaan, perasaannya, berat kepada yang lama. Itulah sebabnya maka orang tak mudah membuat yang lama dan menerima yang baru. Demikian juga dalam pergaulan, orang sangat terikat kepada tempatnya yang lama, bahkan tempat tumpah darahnya.

Memang filosofi kehidupan ini kita alami setiap hari. Apa lagi bagi orang tani, sangat melekat hatinya kepada tanah yang dikerjakannya, kepada pekarangan yang didalaminya, apa pula kalau tanah itu diperolehnya sebagai pusaka nenek moyang, turun temurun dari buyut sampai ke kakek, dari kakek sampai ke bapak, dari bapak sampai ke anak dan dari anak turun ke cucu dan selanjutnya.

Sifat itulah yang menjadi seni perasaan provincialisme, yang menjadi halangan kepada majunya cita-cita persatuan bangsa. Itulah sebabnya maka cita-cita persatuan bangsa lambat timbul dalam negeri agraria, yang penduduknya terutama hidup daripada pertanian, di mana satu sama lain jarang berhubung dengan tukar menukar. Cita-cita persatuan lekas timbul dalam negeri industri, di mana rakyatnya yang memburuh terlepas dari ikatan tanah dan tempat, melainkan disusun bersatu oleh pabrik dan disiplin pekerjaan. Lihat Inggeris negeri industri, betapakah kuat persatuan kebangsaannya. Lihat pula sebaliknya tanah Italia pada pertengahan abad yang lalu, negeri agraria, berapakah sukarnya membangkitkan semangat persatuan, berapakah kuatnya sifat provincialisme yang menjadi sebab hilangnya kemerdekaan bangsa dan Tanah Air Italia. Mengembara Mazzini lebih dahulu dalam pembuangan, mengandung dalam dadanya api persatuan yang tak mau padam, barulah menyingsing fajar keinsafan yang bibitnya ditanam oleh Mazzini: Italia Merdeka. Dengan itu terlekatlah semboyan di bibir tiap-tiap putera Italia, mengatakan Italia fara de se, artinya: Italia membikin dirinya sendiri. Dalam pada itu, satu ajaran kita dapat daripada sejarah pergerakan kemerdekaan di Italia. Sekalipun sukar mencapai persatuan bagi tanah agraria dan bangsa pertanian, namun dengan usaha dan didikan cita-cita itu tercapai juga.

Keadaan Indonesia di waktu sekarang tidak seberapa bedanya dengan tanah Italia pada pertengahan abad yang lalu. Juga Indonesia terbilang tanah agraria. Selain daripada itu ia terbagi atas beberapa pulau yang besar dan beratus pulau-pulau yang kecil, satu sama lain dipisah-pisah oleh lautan. Lebih lagi daripada di Italia di zaman dahulu, terdapat di sini semangat persaingan dan provincialisme, Satu, sifat tani yang dipengaruhi oleh lingkungan tanah yang dikerjakannya; kedua, keadaan insulair (kepulauan), – kedua-duanya itu adalah dasar yang baik untuk menimbulkan perasaan buat hidup sendiri-sendiri serta berpikir sebagai katak di bawah tempurung.

Tidak heran, kalau pergerakan kebangsaan ditujukan kepada Tanah Air dan bangsa yang satu, kalau pergerakan pada langkah bermula mendidik persatuan. Bukan persatuan dalam pengertian menggabungkan beberapa partai politik menjadi yang tidak punya sifat dan rupa, melainkan persatuan dengan makna “berasa satu sebagai anak dari Ibu yang satu, Ibu Indonesia.” Dalam politik boleh berbeda paham, tetapi dalam rasa kebangsaan harus terikat oleh Tanah Air yang satu, yang dicintakan kemerdekaannya.

Itulah sebabnya, maka pergerakan kita bermula menuju hilangnya perasaan provincialisme. Tidak sedikit tempo yang dipergunakan untuk propaganda persatuan, supaya orang Batak menghilangkan perasaan kebatakannya, supaya orang Minangkabau menanggalkan keminang-kabauannya, supaya orang Sunda dan Jawa dan Madura melepaskan diri masing-masing daripada perasaan kebangsaan yang picik. Bagaimana juga tiap-tiap daerah dan kaum terikat oleh kebiasaan dan adat sendiri, semuaya harus merasa dirinya bagian dari Tanah Air yang satu. Berulang-ulang dipropagandakan, bahwa keadaan bangsa tidak ditentukan oleh bahasa yang sama dan agama yang serupa, melainkan oleh kemauan untuk bersatu. Dimana ada kemauan untuk bersatu dalam perikatan yang bernama “bangsa”, di waktu itu timbullah Kebangsaan Indonesia.

Ini kepercayaan, ini propaganda, akan tetapi tidak cukup dengan itu saja. Tidak cukup kalau kita dalam perasaan saja menamai diri kita “anak Indonesia”; di mana keadaan memaksa harus ditetapkan dengan bukti.

Masih banyak di antara kita yang bernama atau menamakan diri nasionalis Indonesia, akan tetapi pergaulannya dan semangatnya masih amat terikat kepada daerah dan tempat ia dilahirkan. Hatinya berat meninggalkan tanah tumpah darahnya, bercerai dengan pekarangan tempat buaiannya tergantung. Apalagi kalau ia terpaksa meninggalkan kotanya yang ramai dengan tiada kemauan sendiri, kalau ia ditempatkan ke satu daerah yang sunyi, yang adat dan lembaganya berlainan daripada yang dipakainya. Di sana timbul pilu dalam hatinya, teringatlah ia kepada kampung dan lupalah ia kepada Indonesia, yang daerahnya jauh lebih luas daripada kampung dan halaman si musafir tadi.

Siapa yang masih berperasaan begitu, bukanlah ia anak Indonesia, melainkan tak lebih dari anak provincial. Cita-cita Indonesia Merdeka makin dekat tercapai, bilamana semangat provincial semakin hilang dan anak Indonesia tulen semakin bertambah. Tandanya orang bernama anak Indonesia tulen, ia tak takut ke mana juga dalam Indonesia ini ia dibawa nasib. Di atas lapangan Tanah Air, ia hidup dan ia gembira.

Kita kaum revolusioner yang mengikut dan menganjurkan pergerakan radikal harus mempunyai perasaan yang demikian. Kita belum revolusioner dan belum radikal dalam semangat, kalau mulut kita tidak sesuai dengan isi hati kita. Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Teluk yang molek dan telaga yang permai, gunung yang tinggi dan lurah yang dalam, rimba belantara dan hutan yang gelap, ataupun pulau yang sunyi serta pun padang yang lengang, semuanya itu bagian Tanah Air yang sama kita cintai. Semuanya itu tidak boleh asing bagi kita. Apalagi, karena barisan kitalah yang senantiasa terancam oleh exorbitant rechten, yang sering memberikan korban buat pembuangan.

Kepada saudara-saudara kita yang menempuh jalan pembuangan dan hidup dalam perasingan, inilah syarat hidup yang kita peringatkan: “Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup, aku gembira, Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku”. (*)

0 comments:

Post a Comment