Nov 4, 2018

Ziarah Bohemian Rhapsody


Sudah sekitar satu pekan ini, film Bohemian Rhapsody ditayangkan di bioskop. Saya yang sudah menantikan film ini sejak lama tentu tidak ingin ketinggalan menontonnya. Pada hari pertama penayangannya saya langsung memesan tiket, meskipun baru ada jadwal untuk tengah malam. Selesai menontonnya, saya pulang dan langsung tidur. Keesokan pagi, saya terbangun dengan hati yang aneh, senang yang memuncak sekaligus remuk tak terkira.

Bohemian Rhapsody merupakan film biopik mengenai Freddie Mercury, vokalis Queen, salah satu band terbesar sepanjang masa. Film dibuka dengan adegan para personel band sedang bersiap memasuki panggung untuk konser Live Aid, dan ditutup dengan aksi panggung Freddie dan kawan-kawan di gigs tersebut. Namun di sini saya tidak sedang ingin bercerita penuh mengenai isi film, apalagi meresensi dengan kritik yang berisi tentang kesalahan-kesalahan faktual dalam film ketika dibandingkan dengan kehidupan asli Freddie (ayolah, teman, film dibuat untuk menjadi film, menjadi seni – dan tentu saja, menjadi fiksi!), atau tentang kucing-kucing Freddie yang tidak pernah menua, atau kecepatan tempo dalam film yang membuat karakter para tokoh tidak dibangun dengan baik, hingga tuduhan film ini menunjuk secara tersirat tapi semena-mena kehidupan glamor sang vokalis dan, ini yang paling menonjok, perilaku homoseksual sebagai biang kerok AIDS yang dideritanya.

Mar 22, 2018

Di Atas Segala Lapangan Tanah Air Aku Hidup, Aku Gembira

Pagi ini saya tiba-tiba teringat tulisan Muhammad Hatta yang berjudul "Di Atas Segala Lapangan Tanah Air Aku Hidup, Aku Gembira". Kali pertama tulisan ini dipublikasikan dalam harian Daulat Ra'jat dengan titimangsa 20 Januari 1934.  Akan tetapi, isinya selalu relevan buat mereka dan segala yang mengaku orang Indonesia. Saya ketik ulang di blog ini untuk memperingati lima tahun saya penempatan, untuk rekan-rekan DJP yang baru saja hendak menjejakkan kakinya di seluruh wilayah Indonesia, dan untuk siapa saja yang berkenan membacanya.