Oct 4, 2017

Nala

Tiga tahun sebelum melanjutkan pendidikannya ke jenjang Diploma 4, sang pemuda dikagetkan oleh seseorang yang baru dikenalnya beberapa menit sebelumnya melalui vonis yang demikian halus, tetapi mengerikan. Saat itu adalah awal-awal sang pemuda menginjakkan kaki di dunia kerja. Karena belum mengenal banyak rekan kerja dan tidak mengerti tempat makan yang enak namun murah, saat istirahat siang sang pemuda memutuskan untuk makan di kantin kantor yang terletak tidak jauh dari kubikelnya.

Saat menunggu makanan tiba, seorang bapak yang berpakaian rapi -- kelihatannya seperti pegawai kantornya, kalau tidak pegawai kantor sebelah -- mendekatinya dan mengajaknya berkenalan. Saat si bapak berbasa-basi menanyakan umur, status pernikahan, dan asal daerah, makanan yang dipesan oleh sang pemuda tiba dan sang pemuda, demi budaya sopan santun, meminta izin kepada bapak tersebut untuk melanjutkan pembicaraan sembari makan. Si bapak tidak ambil pusing. Mengetahui sang pemuda makan, dia tetap melanjutkan pembicaraan. Jawaban 'belum menikah' yang dilontarkan oleh sang pemuda ternyata memancingnya untuk menggarap terus sang pemuda.

"Mas, apakah sudah punya calon?" tanya si bapak.
"Calon apa maksudnya ya, Pak?" jawab sang pemuda.

Sampai di titik ini, perasaannya sudah mulai tidak nyaman. Dia sudah tahu konteks pertanyaan si bapak dan dia memutuskan mengembalikan pertanyaan tersebut dengan harapan si bapak jengah. Sebagai pegawai baru akan sangat tidak etis jika dia memilih untuk mengakhiri pembicaraan dengan kalimat langsung.

"Tentu calon istri, Mas. Kamu sudah dewasa, masa belum berencana untuk berkeluarga."
"Oh, iya, Pak. Kebetulan belum. Masih nyaman sendiri."

Sebelum sang pemuda melanjutkan ucapannya, si bapak keburu memotong.

"Loh, Mas, kamu harus tahu kalau di usia mas sekarang seorang lelaki belum beristri, hanya ada dua kemungkinan: dia homo atau dia adalah seorang pezina."

Pemuda tersebut bengong mendengar si bapak berfatwa. Makanan yang sedang dia nikmati tiba-tiba terasa hambar.

***

Dua tahun yang lalu saya diterima menjadi mahasiswa Diploma 4 dan sekelas dengan sang pemuda. Namanya adalah Nala Kurniawan, legenda hidup saat saya masih berstatus sebagai mahasiswa Diploma 3 tujuh tahun sebelumnya. Jika kawan-kawan kampung sekitar mengenal Andreas Rossi Dewantara sebagai pemuda jenius luar biasa dan Meidiawan Cesarian Syah sebagai lelaki yang disebut-sebut sebagai Arjuna-nya kampus Ali Wardhana, Nala adalah gabungan keduanya. Kecerdasan dan ketampanan yang dimiliki olehnya merupakan dua hal yang sepaket lengkap. Bahkan hingga kami satu bimbingan skripsi dan menyelesaikannya, dosen pembimbing kami sampai terheran-heran, mengapa ada manusia yang nampak tidak punya cela seperti Nala.

Yang mengesalkan bagi lelaki medioker seperti saya adalah kebaikan hatinya. Nala merupakan orang yang akan menutup peluangmu memperoleh kekasih jika kalian bersaing untuk orang yang sama. Dia bukan jenis orang pintar yang menyimpan sendiri pengetahuannya. Dia akan membagi dengan senang hati ilmu yang dia miliki apabila kau, atau bahkan orang yang tidak dia kenal tiba-tiba menghubunginya karena sudah terlalu kebingungan dan pasrah menjelang ujian atau mentok saat skripsi. Nala juga bukan jenis orang yang memanfaatkan ketampanannya untuk mbathi perempuan-perempuan yang dia temui. Tambah lagi, sangat jarang saya menemukan kesempatan melihat Nala marah karena sesuatu hal yang sepele.

Sering sekali dia diminta mengajarkan adik-adik Diploma 3 yang banyak dihuni dedek-dedek milenial lucu mata kuliah tertentu dan dia akan datang dengan senang hati tanpa meminta kontraprestasi apapun. Tidak dengan uang meski saat tugas belajar kebutuhan seringkali semakin berat karena potongan tunjangan. Tidak juga dengan ajakan jalan karena dia rupanya memiliki janji setia dengan seorang perempuan, perempuan yang dia hadirkan ke dalam ucapan terima kasih skripsinya, perempuan yang dia ajak berkenalan ketika kebetulan perempuan tersebut membikin NPWP saat dia magang di loket pelayanan.

Perempuan tersebut beruntung memiliki pacar Nala. Nala juga bahagia dengan sang perempuan. Waktu-waktu sulit Nala membagi fokus belajar dengan biaya hidup yang harus terpenuhi bisa teratasi karena, ya begitulah. Saat Nala berulang tahun, pacarnya menghubungi Unggul Aji Mulyo dan diam-diam menyiapkan kejutan. Sang pacar menempuh jarak Lapangan Banteng - Bintaro sepulang kerja, menembus kegilaan macetnya kendaraan sepanjang jalan, terutama neraka HR Rasuna Said, dan membeli kue dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan sangat manis untuk sang kekasih yang sedang asyik berbincang dengan saya dan teman-teman yang lain.

***

Beberapa hari yang lalu, saya dan Nala dan kawan-kawan seangkatan lain yudisium dan resmi melepas status mahasiswa sekaligus pegawai tugas belajar. Barangkali, dalam dua tahun terakhir, Nala adalah salah satu orang yang paling banyak membantu saya dalam proses perkuliahan sehingga bisa mengakhiri perkuliahan ini dengan lancar. Saya sempat berkelakar kepadanya bahwa dia adalah orang yang memiliki irisan pertemanan terbanyak dengan saya di kampus. Sebagai tolok ukur, pada masanya, kami berada dalam lebih dari 20 grup whatsapp yang sama. Jika masing-masing grup tersebut mendapat porsi ucapan terima kasih dalam skripsi, Nala adalah nama yang akan saya sebut paling banyak. Menurut saya, hal tersebut bukan hanya membosankan, tetapi juga tidak sopan.

Saya akan mengucapkannya langsung, pun menuliskannya dalam halaman persembahan tersendiri. Dan inilah persembahan saya untuk Nala, sebuah ucapan terima kasih yang mungkin tidak terlalu berharga. Akan tetapi, semoga Nala tahu bahwa saya berutang banyak kepadanya.

P.S:
Semoga intensitas pulang Nala ke kampungnya di Pekalongan yang makin meningkat setelah kelulusan membuahkan berita baik. Semoga tidak lama lagi Nala kembali menemui si bapak yang sempat menegurnya beberapa tahun lalu dan memberikan undangan pernikahannya kepada si bapak dan berkata bahwa tidak ada usia yang ideal untuk sebuah pernikahan karena sejatinya ia akan hadir pada saat yang tepat.




Purwokerto, 19 September 2017

2 comments:

  1. Oh, Man... Why all the good guys are taken? *dikepruk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku belum. :(
      Eh tapi aku bukan good guy sih wkwkwkwk

      Delete