Apr 8, 2017

Pilihan

Beberapa waktu belakangan, saya cukup intensif berinteraksi dengan para rekan mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN yang tergabung dalam kepanitiaan Pekan Raya Perpajakan Nasional 2017. Kegiatan ini baru kali pertama diselenggarakan oleh Pusat Studi Perpajakan, sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus yang sama. Atas nama waktu, Pekan Raya Perpajakan selesai dilaksanakan dengan baik. Cukup sukses untuk pencapaian pada usia belia, baik para panitia yang menggerakan maupun organisasi penggagasnya.

Tentu kegembiraan tidak bisa dibagi rata pada semua pihak. Dalam bisik-bisik, saya mendengar beberapa panitia yang menyesalkan aktivitasnya dalam menyiapkan Pekan Raya Perpajakan membuat mereka kehabisan waktu untuk melakukan hal lain yang tidak kalah penting, seperti misalnya kuliah. Beberapa kali, karena agenda yang bertabrakan, seorang panitia harus mangkir dari daftar presensi yang biasa dipenuhi olehnya. Tidak jarang, di sela kuliah yang sebenarnya sudah dihadiri, dia pun terpaksa izin kepada dosen karena ada janji koordinasi dengan panitia lain maupun dipanggil oleh pihak lain yang berkepentingan. Di kampus ini, bolos merupakan jalan untuk mendekatkan diri pada status drop out. Saya bisa memaklumi hal tersebut. Politeknik Keuangan Negara STAN merupakan salah satu kampus yang terkenal dengan disiplinnya. Pun, hampir tidak ada orang waras yang menyerahkan dirinya terpental dari kampus gratisan yang menjanjikan pekerjaan selepas lulus ini.

Kejadian di atas mengingatkan saya pada kenangan belasan tahun yang lalu, pada saat kakak saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pada waktu itu, kakak terkenal sangat aktif berorganisasi, terutama pramuka. Dia selalu meluangkan waktunya untuk berlatih secara rutin mengenai teknis kepramukaan. Bahkan, suatu saat regunya mengikuti lomba dan lolos ke tingkat propinsi. Bagi keluarga desa seperti kami, prestasi tersebut sangat membanggakan. Karenanya, kakak menjadi lebih rajin berlatih. Nyaris setiap hari dia menyusun jadwal untuk meningkatkan kemampuan regunya agar dapat memenangkan lomba.

Sayangnya, kerja keras seringkali tidak berjodoh dengan keberuntungan. Hari pelaksanaan lomba berbarengan dengan ujian akhir kakak yang pada saat itu duduk di bangku kelas tiga. Entah sebab sudah berjalan terlalu jauh atau faktor kecintaannya yang besar pada pramuka, kakak memutuskan untuk tetap mengikuti lomba. Konsekuensinya, dia tidak mengikuti ujian dan memperoleh nilai kosong pada ijasahnya. Birokrasi yang berbelit makin mempersulitnya untuk mengajukan ujian susulan. Prestasinya mengharumkan nama sekolah ternyata tidak membuatnya mendapat wild card dalam kelulusan. Sekolah tak mau tahu karena aturan tetaplah aturan. Setelah menjalani beberapa tahap advokasi, barulah kakak dapat menyelesaikan sekolahnya dengan ujian susulan.

Pengalaman pahit tersebut nyatanya tidak mengurangi kecintaan kakak pada organisasi. Menginjak SMA, dia kembali aktif berpramuka. Tak ada sesal, juga kekecewaan atas pilihan yang telah diambilnya di masa lalu. Berorganisasi merupakan jalan hidupnya.

Pada satu titik, saya menaruh hormat pada mereka yang berani mengambil sikap untuk tidak terlalu memikirkan diri sendiri. Terlepas dari pilihan politiknya, Megawati Soekarno Putri adalah orang yang menurut saya layak masuk ke dalam kategori ini. Dalam sebuah wawancara, Megawati menjelaskan mengapa dia tidak lulus, malah memilih untuk meninggalkan kuliahnya di Universitas Padjajaran Bandung dan Institut Pertanian Bogor. Menurutnya, dia harus ikut dalam sebuah organisasi kemahasiswaan hasil pecahan Partai Nasionalis Indonesia yang mulai berjalan menjauhi pemikiran sang ayah, Bung Karno. Bung Karno sendiri kemudian mengetahui pilihan Megawati setelah dia menceritakan hal tersebut. Marahkah Bung Karno? Tidak. “Dia menepuk-nepuk pundak saya. Kamu benar-benar anaknya Soekarno,” kata Megawati mengutip kata-kata ayahnya.

Beberapa orang mungkin akan dengan mudah mengecap sesuatu yang melenceng dari kebiasaan sebagai sebuah blunder, bahkan kebodohan, apalagi jika menyangkut hal yang mempertaruhkan masa depan yang dipenuhi dengan tanda tanya. Namun coba bayangkan Megawati tetap rajin berkuliah dan lulus tepat waktu, dipenuhi bunga-bunga indeks prestasi yang istimewa dan ucapan selamat dari orang di sekitar. Barangkali hidupnya “hanya” akan berakhir menjadi karyawan atau seorang direktur perusahaan yang harus dia bangun dari awal, bukan seorang presiden yang tercatat pada sejarah perjalanan bangsa ini.

Dalam cerita pewayangan, lakon Dewa Ruci menebalkan penolakan atas cap blunder yang terlalu gegabah tersebut. Ketika Resi Drona memerintahkan Bima untuk mencari tirta perwita (air kehidupan) yang akan membuat Bima mencapai kesempurnaan hidup, para kerabat mencibirnya. Mereka melarang Bima untuk menjalankan misi dari Resi Drona. Mereka pun bilang mereka tahu bahwa perintah tersebut hanya siasat Resi Drona agar Bima tewas di tempat-tempat berbahaya yang sudah ditentukan Drona, sehingga Bima tidak turut berperang dalam Perang Baratayuda yang kala itu sedang dipersiapkan. Konon tirta perwita tidak pernah benar-benar ada. Namun Bima merupakan orang yang pantang menolah perintah gurunya. Dia memilih untuk tetap pergi.

Rupanya setelah melalui beberapa rintangan, Bima tiba di sebuah samudera dan bertemu dengan dewa kerdil yang mengaku bernama Dewa Ruci. Bima berhasil masuk ke telinga Dewa kerdil itu dan di dalamnya Bima mendapati dunia yang maha luas. Dewa Ruci mengatakan bahwa air kehidupan tidak ada di mana-mana. Percuma mencari air kehidupan di segala tempat di dunia, sebab ia berada di dalam diri manusia itu sendiri. Bima memperoleh lebih dari sekadar kewajiban melaksanakan tugas dari sang guru. Dia berhasil mendapatkan anugerah yang tidak dia sangka-sangka: pemahaman akan segala tanggung jawab. Dikatakan oleh Dewa Ruci, "Bima, ketahuilah olehmu, yang kau kerjakan, tidak ada ilmu yang didatangkan, semua sudah kau kuasai. Tak ada lagi yang dicari, kesaktian, kepandaian dan keperkasaan, karena kesungguhan hati ialah dalam cara melaksanakan.”

Memilih dengan mengorbankan sesuatu barangkali tidak selalu menghasilkan keberhasilan, tetapi ia akan memberi pelajaran besar: bahwa kehidupan menyediakan kesempatan kepada kita untuk melakukan hal yang, setidaknya menurut kita, jauh lebih bermanfaat bahkan bagi orang banyak. Melalui salah satu tulisan yang dipersembahkan kepada Sri Mulyani, Dahlan Iskan memperjelasnya. Dahlan menulis bahwa Sri Mulyani merupakan menteri yang layak untuk dipertahankan karena Sri Mulyani selalu menjaga komitmennya dalam melaksanakan apa yang telah menjadi tugasnya.

Dahlan bercerita, saat ibu kandungnya, Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko, sedang sakit keras menjelang ajal, Sri Mulyani tidak bisa menengoknya sekejap pun. Dia memilih mencurahkan segala pikiran, tenaga, dan emosinya untuk menyelamatkan ekonomi bangsa ini. Dia tidak bisa menjenguk ibu kandungnya yang berjarak hanya 45 menit penerbangan di Semarang sana. Dia harus mencucurkan air mata untuk dua kesedihan sekaligus: kesedihan karena ibundanya berada di detik-detik akhir hidupnya dan kesedihan melihat negara dalam bibir kehancuran ekonomi. Dua-duanya tidak bisa ditinggal sedetik pun. Rupiah bergerak hancur saat detak jantung ibunya juga lagi terus melemah. Dan, Sri Mulyani memilih menunggui rupiah demi nyawa jutaan orang Indonesia.

Saya tidak memiliki kapasitas moral untuk menghakimi mana yang baik dan mana yang buruk. Namun saya kira bukan kebetulan jika banyak orang besar lahir melalui serangkaian pengorbanan. Mereka ditempa oleh ujian besar, melewati pilihan mengenai mana yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan. Manusia bisa salah memilih, tetapi niat baik dan proses selalu lebih berharga dari hasil.

Melalui tulisan ini, saya hendak angkat topi untuk para rekan yang memilih untuk mengorbankan waktu, tenaga, dan hartanya demi terselenggaranya Pekan Raya Perpajakan 2017. Tabik dan salam takzim untuk kalian.



0 comments:

Post a Comment