Apr 15, 2017

Komunisme dan Kampret yang Gagal Berlogika

Saya selalu merasa bahagia setiap kali berjumpa dengan orang yang memamerkan daftar bacaan yang barusan dia baca. Ini serius belaka, bukan sekadar sindiran untuk mencibir para snob pemula. Mungkin orang tersebut memang tidak memahami betul apa isi keseluruhan koleksinya, tetapi apa peduli aing? Barangkali dia tak sanggup memindahkan segala cerita dan kebaikan yang dituliskan di buku ke dalam batok kepalanya, tetapi apa dosa yang diperoleh dari membaca? Toh, jutaan orang membaca Kitab Omong Kosong tentang Cara Cepat Beternak Kebaikan, atau Buku Panduan Membantu Orang dengan Kelas Sosial Beberapa Derajat di Bawah Anda, dan dunia tetap tidak baik-baik saja. Yang jelas, dengan mempertunjukkan kemampuan membaca, sesungguhnya dia membuktikan dirinya bukanlah berang-berang albino atau pinguin madagaskar. Sekaligus melawan klaim pemerintah, yang secara rendah diri, mengumumkan betapa rendah minat baca warga negaranya.

Namun, beberapa bahagia sepertinya memang ditakdirkan berbenturan dengan sebuah jeda. Misalnya hujan deras yang tiba-tiba menyiram saat kau dalam perjalanan bermotor menjemput kekasih. Atau lampu mendadak mati di suatu pesta tepat ketika sedang liar-liarnya. Dan begitu pula dengan tulisan Mas Riza. Kenikmatan yang saya temui musnah setelah Mas Riza sampai di kesalahan generalisasi (untuk memperhalus kata “tuduhan”) terhadap tema komunisme.


Kesenangan saya membaca narasinya tentang beberapa detail sejarah berdasar aktivitas yang dia lakukan (seperti internet surfing, membaca buku, serta menonton film), lenyap segera ketika saya tiba di bagian berbeloknya pembahasan mengenai situs marxisme berbahasa Indonesia. Apalagi, dia menambahkan kesimpulan terlalu dini, bahwa revolusi, kudeta, dan teror adalah jalan partai komunis untuk berkuasa. Bahwa yang namanya PKI pasti menghalalkan darah tumpah. Dan pemberontakan. Dan pembantaian. Dan oleh karenanya, PKI (pastinya juga komunisme beserta seluruh tetek-bengeknya) harus dilarang di Indonesia.

“Mereka menghalalkan darah tumpah untuk berkuasa,” kata Mas Riza menutup tulisannya.

***

Opini-opini Mas Riza tampak menonjol dalam tulisan. Namun, siapa yang tidak? Setiap orang bebas beropini. Apalagi, katanya, kita hidup di negara demokrasi yang melindungi kebebasan berpendapat warga negaranya. Saya jelas tidak bisa melarang Mas Riza beropini. Akan tetapi, beberapa kesalahan logika dan fakta jelas mengganggu pikiran saya. Saya jadi ingin menggunakan kebebasan berpendapat yang sama untuk beropini tentang kesalahan-kesalahan Mas Riza.

Kesalahan pertama adalah penggunaan silogisme yang tidak beres. Padahal, ini hal mendasar dalam pengambilan simpulan. Dalam penjelasan singkat, silogisme bisa dinotasikan seperti ini:
P → Q
Q → R
menghasilkan simpulan: P → R
Penggunaan operasi implikasi dalam notasi di atas adalah hal mudah. Begitu pun seharusnya jika diterapkan dalam logika kalimat. Sayang sekali, sepertinya Mas Riza lupa cara memakai logika tersebut sehingga memunculkan kesalahan penalaran. Kesalahan Mas Riza kira-kira begini:
Stalin (P) adalah komunis (Q).
Stalin (P) adalah diktator kejam yang suka melakukan pembantaian tanpa belas kasihan (R).
Mas Riza menyimpulkan: komunis (Q) adalah diktator kejam yang suka melakukan pembantaian tanpa belas kasihan (R).
Bagaimana bisa P →Q dan P → R menghasilkan simpulan Q → R?
***

Kemudian, generalisasi yang terlalu mentah juga tampak dalam tulisan Mas Riza. Seperti ahli nujum dan cenayang di abad pertengahan, hanya dengan beberapa contoh tokoh komunis, Mas Riza langsung tahu bahwa semua yang berjuang di bawah bendera merah palu-arit pasti sama dengan tokoh-tokoh yang dikenalnya. Mas Riza hanya tidak tahu saja, orang-orang dalam organ kiri tidak selalu sependapat mengenai segala hal, termasuk cara berjuang. Di Internationale Pertama—kongres terbesar orang-orang kiri—misalnya, Bakunin dan Marx berdebat keras hingga akhirnya Bakunin memilih keluar dari Internationale. Indonesia pun memiliki sejarah perselisihan dalam tubuh komunisme ketika Tan Malaka menolak ide pemberontakan yang diusulkan oleh Alimin pada medio 1926-1927. Bukankah Mas Riza sendiri mencontohkan dengan gamblang betapa Trotsky berseberangan jalan dengan Stalin?

Yang harus dilacak kemudian adalah, apakah komunisme pasti sebangun dengan totalitarianisme?

Dalam banyak kasus, secara empirik, keduanya memang terbukti berkelindan. Namun, bukan berarti identik. Setahu saya, teks yang dituliskan oleh Marx sendiri malah tidak pernah menginstruksikan secara tersurat bahwa revolusi hanya bisa dilalui dengan jalan darah.

PKI versi Aidit, contohnya, justru menempuh perjuangan secara konstitusional. Bersama Njoto dan Lukman, dia mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta pada 24 Pebruari 1955 untuk membersihkan nama PKI dari stempel “partai pemberontak” sehubungan dengan Pemberontakan Madiun 1948. Aidit dan PKI-nya percaya pada jalan konstitusional yang sah. Negara memenangkan gugatan mereka dan membersihkan nama PKI. Kemenangan itu membuka jalan PKI untuk ikut berkontestasi pada Pemilu 55. Dan kita semua sudah tahu hasilnya: partai yang telah benar-benar ditumpas pasca-Pemberontakan 1948 itu, cuma butuh tujuh tahun untuk meraih hati rakyat dan menjadi partai keempat terbesar di negeri ini.

Marinaleda, kota kecil di Spanyol, adalah contoh lain dari wajah komunisme yang jauh dari kemarahan. Dilansir dari Berdikari Online,
Salah satu visi sosialis dari kota Marinaleda adalah soal bagaimana mengubah watak negara. Di kota kecil ini, kekuasaan benar-benar diserahkan kepada rakyat. Dewan Lokal telah menciptakan majelis umum. Di situlah segala keputusan pembangunan didiskusikan dan diputuskan. Setidaknya, ada 25 hingga 30 kali pertemuan dalam setahun.
Selain majelis umum, kelompok yang bergerak dengan isu spesifik, seperti olahraga dan seni, juga diberi kesempatan. Bentuk demokrasi progresif lainnya adalah soal penganggaran partisipatif. Setiap pengumpulan dan penggunaan anggaran kota dibahas secara kolektif di pertemuan-pertemuan rakyat. 
Saking damainya, kota ini bahkan tidak membutuhkan polisi untuk pengadaan jasa keamanan!

Sementara Fidel Castro di Kuba, membuktikan komunisme adalah cinta. Sebuah cinta yang teramat besar buat rakyatnya. Padahal, dia jelas bukan orang yang sangat membenci senjata seperti Gandhi. Sejarah mencatat bagaimana dia menggulingkan Presiden Batista dengan revolusi bersenjata. Dari perspektif pembenci saat ini, nama Castro sudah pasti mempertebal stigma komunis yang penuh kekerasan. Namun, peradaban umat manusia telah berhasil menemukan teknologi bernama internet, sila gunakan itu dan kau akan tahu Batista sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya. Lebih dari setengah abad setelah pemberontakan Castro, kematiannya diiringi ratap tangis jutaan warga Kuba yang merasa kehilangan.

***

Wajah sebuah ideologi kerap ditentukan oleh para penafsirnya. Sama belaka dengan ayat-ayat tuhan, seringkali dijual oleh kelompok-kelompok pencandu darah yang sering mengatasnamakan agama. Sebut saja nama agamanya, kita tak akan kekurangan contoh dari begundal-begundal semacam ini. Al-Qaeda dan ISIS di Timur Tengah, Boko Haram di Nigeria, Ashin Wirathu di Myanmar, Ku Klux Klan di Amerika, Abhinav Bharat di India, begitu juga mereka yang ‘hobby’ meledakkan diri di Indonesia.

Adakah para penganut agama yang taat dan menafsirkan agamanya dengan damai, akan mengiyakan begitu saja tindakan rekan seagamanya? Mas Riza sendiri, misalnya, apakah akan membenarkan Boko Haram yang keranjingan menculik anak-anak untuk dijadikan prajurit? Apakah karena Al-Qaeda gemar meledakkan diri lantas seluruh umat Islam punya kegemaran yang sama? Apakah karena ISIS sering memerkosa perempuan-perempuan di negeri yang mereka rampok, lantas Islam menjadi agama para pemerkosa? Atau akhir-akhir ini, mantan kolega kita di Kementerian Keuangan yang disinyalir memilih bergabung dengan ISIS, haruskah kita benarkan?

Hari-hari ini, saya begitu bosan membaca kutipan Pram agar kita berbuat sejak adil dalam pikiran. Selain klise, laku adil bukan barang murah yang bisa dengan mudah dibagi-bagi tanpa paham maknanya. Terlebih di Indonesia. Saya malah mulai suka dengan lagu The Times They Are a-Changin’ yang dinyanyikan oleh pemenang nobel sastra 2016, Bob Dylan. Di dalamnya, ada potongan lirik yang sangat menohok dan cocok untuk menutup tulisan ini:

And don’t criticize
What you can’t understand.

***
post scriptum:
tulisan ini dimuat di birokreasi untuk menjawab tulisan ini.

1 comment:

  1. Mungkin orang tersebut memang tidak memahami betul apa isi keseluruhan koleksinya, tetapi apa peduli aing? Barangkali dia tak sanggup memindahkan segala cerita dan kebaikan yang dituliskan di buku ke dalam batok kepalanya, tetapi apa dosa yang diperoleh dari membaca?

    Ini sangat menohok. Aku merasa tersindir... Hiks.

    ReplyDelete