Oct 4, 2017

Nala

Tiga tahun sebelum melanjutkan pendidikannya ke jenjang Diploma 4, sang pemuda dikagetkan oleh seseorang yang baru dikenalnya beberapa menit sebelumnya melalui vonis yang demikian halus, tetapi mengerikan. Saat itu adalah awal-awal sang pemuda menginjakkan kaki di dunia kerja. Karena belum mengenal banyak rekan kerja dan tidak mengerti tempat makan yang enak namun murah, saat istirahat siang sang pemuda memutuskan untuk makan di kantin kantor yang terletak tidak jauh dari kubikelnya.

Saat menunggu makanan tiba, seorang bapak yang berpakaian rapi -- kelihatannya seperti pegawai kantornya, kalau tidak pegawai kantor sebelah -- mendekatinya dan mengajaknya berkenalan. Saat si bapak berbasa-basi menanyakan umur, status pernikahan, dan asal daerah, makanan yang dipesan oleh sang pemuda tiba dan sang pemuda, demi budaya sopan santun, meminta izin kepada bapak tersebut untuk melanjutkan pembicaraan sembari makan. Si bapak tidak ambil pusing. Mengetahui sang pemuda makan, dia tetap melanjutkan pembicaraan. Jawaban 'belum menikah' yang dilontarkan oleh sang pemuda ternyata memancingnya untuk menggarap terus sang pemuda.

Apr 15, 2017

Komunisme dan Kampret yang Gagal Berlogika

Saya selalu merasa bahagia setiap kali berjumpa dengan orang yang memamerkan daftar bacaan yang barusan dia baca. Ini serius belaka, bukan sekadar sindiran untuk mencibir para snob pemula. Mungkin orang tersebut memang tidak memahami betul apa isi keseluruhan koleksinya, tetapi apa peduli aing? Barangkali dia tak sanggup memindahkan segala cerita dan kebaikan yang dituliskan di buku ke dalam batok kepalanya, tetapi apa dosa yang diperoleh dari membaca? Toh, jutaan orang membaca Kitab Omong Kosong tentang Cara Cepat Beternak Kebaikan, atau Buku Panduan Membantu Orang dengan Kelas Sosial Beberapa Derajat di Bawah Anda, dan dunia tetap tidak baik-baik saja. Yang jelas, dengan mempertunjukkan kemampuan membaca, sesungguhnya dia membuktikan dirinya bukanlah berang-berang albino atau pinguin madagaskar. Sekaligus melawan klaim pemerintah, yang secara rendah diri, mengumumkan betapa rendah minat baca warga negaranya.

Namun, beberapa bahagia sepertinya memang ditakdirkan berbenturan dengan sebuah jeda. Misalnya hujan deras yang tiba-tiba menyiram saat kau dalam perjalanan bermotor menjemput kekasih. Atau lampu mendadak mati di suatu pesta tepat ketika sedang liar-liarnya. Dan begitu pula dengan tulisan Mas Riza. Kenikmatan yang saya temui musnah setelah Mas Riza sampai di kesalahan generalisasi (untuk memperhalus kata “tuduhan”) terhadap tema komunisme.

Apr 8, 2017

Pilihan

Beberapa waktu belakangan, saya cukup intensif berinteraksi dengan para rekan mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN yang tergabung dalam kepanitiaan Pekan Raya Perpajakan Nasional 2017. Kegiatan ini baru kali pertama diselenggarakan oleh Pusat Studi Perpajakan, sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus yang sama. Atas nama waktu, Pekan Raya Perpajakan selesai dilaksanakan dengan baik. Cukup sukses untuk pencapaian pada usia belia, baik para panitia yang menggerakan maupun organisasi penggagasnya.

Tentu kegembiraan tidak bisa dibagi rata pada semua pihak. Dalam bisik-bisik, saya mendengar beberapa panitia yang menyesalkan aktivitasnya dalam menyiapkan Pekan Raya Perpajakan membuat mereka kehabisan waktu untuk melakukan hal lain yang tidak kalah penting, seperti misalnya kuliah. Beberapa kali, karena agenda yang bertabrakan, seorang panitia harus mangkir dari daftar presensi yang biasa dipenuhi olehnya. Tidak jarang, di sela kuliah yang sebenarnya sudah dihadiri, dia pun terpaksa izin kepada dosen karena ada janji koordinasi dengan panitia lain maupun dipanggil oleh pihak lain yang berkepentingan. Di kampus ini, bolos merupakan jalan untuk mendekatkan diri pada status drop out. Saya bisa memaklumi hal tersebut. Politeknik Keuangan Negara STAN merupakan salah satu kampus yang terkenal dengan disiplinnya. Pun, hampir tidak ada orang waras yang menyerahkan dirinya terpental dari kampus gratisan yang menjanjikan pekerjaan selepas lulus ini.