Oct 30, 2016

Beatles, bukan Biebers



Saya tidak tahu mana yang lebih menyeramkan: gerbong perempuan commuter line atau perempuan-perempuan yang menonton The Beatles secara langsung. Yang pertama bisa kausaksikan 5 kali dalam sepekan, di jam-jam padat pekerja di Jakarta. Di sana, kau akan mengerti bahwa Teori Darwin mengenai seleksi alam belum bisa menjelaskan betapa kerasnya perjuangan Homo Sapiens dalam bertahan hidup.

Kondisi kedua sedang diputar di beberapa bioskop yang menayangkan film The Beatles: Eight Days a Week. Kebrutalan gerbong perempuan yang sama namun dengan jumlah yang jauh lebih besar, untungnya (ya walaupun nggak untung-untung amat) juga di tempat yang jauh lebih luas. Dalam film dokumenter tentang sebagian perjalanan album dan konser The Beatles tersebut beberapa kali histeria penonton yang sebagian besar perempuan disorot. Barangkali puluhan pingsan, ratusan luka, serta ribuan bermata sembab dan muka lelah karena sejak sebelum lagu pertama terdengar mereka sudah keburu berteriak sambil menangis. Banyak di antara penonton nekat menerobos barikade petugas keamanan dan keburu disikat sebelum sempat mendekati panggung. Rusuh-rusuh konser di tanah air rasa-rasanya tidak sebanding dengan keributan yang dibuat oleh para fans The Beatles ini.

Tapi cukup itu saja spoilernya. Selebihnya, film ini wajib ditonton oleh para penggemar The Beatles. Karena selain menampilkan perjalanan semi biografis band yang lebih terkenal dari Yesus ini, di akhir film penonton akan memperoleh bonus setengah jam konser The Beatles yang telah diremaster. Film berdurasi sekitar 2,5 jam tersebut sangat memuaskan saya. Walau sebetulnya saya kurang paham, apakah film tersebut murni bagus atau karena setiap beberapa menit sekali muncul lagu-lagu yang bisa membuat saya kegirangan. Biarpun begitu toh saya sempat menemukan kurang tepatnya penerjemahan, seperti istilah "baby boomers" yang dialihbahasakan langsung menjadi ledakan kelahiran bayi.

Ngomong-ngomong. Meskipun agak absurd, di tengah film tiba-tiba saya membayangkan Mas Arman Dhani dan Mas Aunurrahman Wibisono sedang berdebat, barangkali 10 tahun lalu, mana yang lebih hebat antara Rage Against The Machine atau The Beatles. Ingatan tersebut muncul karena saya pernah membaca Mas Nuran menuliskan hal tersebut di blognya. Mas Dhani tentu saja mengidolakan RATM karena pernah bikin rusuh Wallstreer. Sedangkan jurnalis musik kesayangan kita yang saat itu sudah merintis karir jurnalistiknya melalui sebuah komentar blog hanya menanyakan hal ringan: memangnya kenapa The Beatles memutuskan untuk tidak mengadakan konser lagi?

Jawabannya ada di film. Sekali lagi, saya menyarankan untuk menonton film ini. Karena film ini sepi sekali dan tentu saja bikin sedih para penikmat musik bagus dan semua malaikat di dunia dan di akhirat. Tadi setelah selesai, saya sempat menghitung jumlah penonton hanya 18 orang. Sembari keluar, saya bertanya alasannya kepada Mas Eko Sofyan Trisno, vokalis band spesial cover lagu The Beatles yang keren abis, yang sudi menraktir film dengan promo beli satu tiker gratis satu ini. Jawabannya ya karena sekarang bukan generasi Beatles, tapi generasi Biebers.

0 comments:

Post a Comment