Sep 20, 2016

Yang Penting Pisah Dulu, Nanti Gampang...

Muhammad Ali Jinnah dikenal dengan julukan Quaid-i-Azam alias Pemimpin Besar. Di negaranya, dia sangat dominan dan menjadi ikon politik yang sangat diingat. Salah satu alasannya adalah kemerdekaan Pakistan dari India yang salah satunya digawangi oleh Jinnah. Meskipun demikian, menjelang ajal Jinnah mengenang peristiwa besar tersebut dengan penuh sesal. Dalam salah satu wawancara, dia menumpahkan perasaannya. "Satu keputusan yang membuat aku merasa berdosa seumur hidup adalah aku telah berani-beraninya memerdekakan Pakistan," ungkapnya.

Merunut apa yang terjadi beberapa tahun sebelum itu, barangkali Jinnah adalah contoh orang yang tenggelam dalam ambisinya memperoleh hak dan berakhir dalam lautan penyesalan. Pada mulanya ia memimpikan India yang berdaulat, yang terbebas dari imperialisme. Saat itu ia tidak sendiri. Ditemani Mohandas Karamchand Gandhi, Jinnah bahu-membahu mengusir Inggris dari tanah kelahiran mereka. Sebuah duet yang ideal. Gandhi dengan satyagraha-nya dan Jinnah dengan perjuangan hukum dan politiknya berhasil memerdekakan bumi India.

Sayang, pada tahun 1947 Muhammad Ali Jinnah memutuskan "berpisah" dengan Mahatma Gandhi. Ia merasa India sebagai negara yang disesaki orang-orang Hindu tidak mewakili keinginan umat muslim sepertinya. Bersama Liga Muslim yang ia bawahi, Jinnah memilih mendirikan satu negara baru yang berlandaskan Islam: Pakistan. Sebelum berdirinya Pakistan, Gandhi sempat menemui Jinnah. Air mata meleleh di pipi keriput milik si tua Gandhi. Sembari berlutut ia memohon, "Jinnah sahabatku, kau boleh ambil jabatan presiden atau perdana menteri atau apapun yang kau mau, tapi tolong jangan berpisah dari kami."

Permintaan ini ditolak Jinnah.

Penolakan yang akhirnya menanggung serentetan konsekuensi. Pakistan memang berhasil merdeka. Akan tetapi, harga yang dibayar terlalu mahal. Dia kehilangan sahabat seperjuangannya: Gandhi. Lagi, Pakistan yang ia lahirkan ternyata juga tak luput dari perang—konflik antara Sunni dan Syiah yang berkepanjangan, misalnya—seperti di India dahulu. Negara impiannya pun kandas karena akhirnya politik di Pakistan berantakan. Militer yang merasa berhak menentukan politik dalam dan luar negeri, setelah berbagai kudeta militer, memerintah negara ini lebih lama dari pemerintahan sipil.

Cerita di atas sedikit banyak mengingatkan saya pada Animal Farm, salah satu karya George Orwell yang termahsyur. Meskipun digarap untuk menyindir totalitarianisme, novel ini menyenggol hal yang sama. Bahwa perjuangan untuk merdeka rentan dibelokkan untuk kepentingan segelintir pihak. Tanpa bermaksud mengecilkan hak orang untuk merdeka, prinsip "yang penting pisah dulu" bisa berbahaya jika tidak terkonsep dengan baik.

Novel Animal Farm berawal dari mimpi dan cita-cita yang mulia. Seekor babi tua di sebuah peternakan bernama Mayor memimpikan sebuah perubahan besar. Di mimpinya, para binatang mempunyai kebebasan untuk menentukan keinginan mereka sendiri. Sapi memproduksi susu untuk dirinya. Ayam bertelur untuk melanjutkan keturunan. Kuda pun bebas berlarian. Tidak ada manusia yang selama ini memperbudak mereka dengan berbagai aturan tetapi mengambil apapun yang bisa mereka hasilkan. Setelah Mayor meninggal, mimpi itu diteruskan oleh dua babi cerdas, Snowball dan Napoleon. Kemudian, mereka memimpin para binatang di peternakan untuk melakukan pemberontakan. Tuan Jones, pemilik peternakan, berhasil diusir keluar. Binatang-binatang pun berhasil merebut kebebasan mereka sendiri.

Namun tidak ada kisah baik yang berlangsung cukup lama. Ternyata Snowball dan Napoleon memiliki misi tersembunyi di balik pemberontakan tersebut. Dengan memakai berbagai muslihat beralaskan "kajian" yang mereka ciptakan, mereka berhasil menipu binatang lain yang cukup tolol untuk selalu mempercayai mereka. Beberapa lama kemudian, Napoleon menjadi pemimpin tunggal setelah berhasil mendepak Snowball dan membuat para binatang yakin bahwa dia adalah pengkhianat. Napoleon pun membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan pihak yang disukainya, terutama babi dan anjing. Tanpa disadari, para binatang penghuni peternakan mengalami penindasan yang sama. Bedanya, kali ini mereka ditindas dan diperbudak oleh kaum mereka sendiri, sesama binatang, pihak yang pada awalnya sangat mereka percayai.

Belakangan, Mas Ahm├ęd Taufiq Rosidi bercerita kepada saya sebuah kisah dari negeri dongeng yang memiliki jalan cerita hampir mirip. Dia berjumpa dengan Napoleon dalam bentuk yang lain. Tapi saya percaya bahwa Mas Taufiq tidak sepolos binatang di peternakan. Tidak seperti Andreas Rossi Dewantara dan Meidiawan Cesarian Syah yang mengandalkan kecerdasan dan ketampanan belaka, Mas Taufiq bersandar pada kemampuan spiritualnya. Kiyai yang saya hormati ini tentu saja weruh sakdurunge winarah, tidak mudah untuk membeli barang jualan para agen MLM yang sedang giat-giatnya berseru, "yang penting pisah dulu, nanti gampang..."

0 comments:

Post a Comment