Apr 22, 2016

Mezzanine

Kementerian Keuangan mempunyai forum diskusi asyik bernama Mezzanine Club yang rutin digelar sebulan sekali. Memang bukan forum resmi, tetapi lumayan menyejukkan setelah seharian penat oleh kerja birokrasi. Di kalangan anak muda Kementerian Keuangan, Mezzanine Club cukup nyaring dan sering menjadi parameter kekinian. Apalagi tema yang diangkat memang pop dan menarik minat kalangan muda menengah kelebihan duit ini. Saya sudah cukup lama ingin hadir ke forum ini, tetapi jarak, seperti dalam kisah-kisah cinta yang tak berakhir bahagia, selalu berhasil menjadi penghalang. Saya yang saat itu bekerja di pulau Sumatera tak mungkin berangkat ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan satu-dua orang lantas pulang lagi. 

Setelah saya menjadi pegawai tugas belajar dan berkuliah lagi di Jakarta, jarak menyusut. Lebih dari itu, saya malah kemudian dekat—meski nggak dekat-dekat amat—dengan Mas Ardhi, salah satu founder Mezzanine Club. Kedekatan itulah yang bikin saya menjadi tidak enak menolak ajakan dia untuk datang ke Mezzanine Club edisi kesepuluh yang digelar malam tadi. Saya pun membatalkan acara penting yang sebetulnya jarang bisa diganggu gugat, yaitu bermalas-malasan. 

“Tenang saja, bung, nanti ada kopi. Bukan kopi mahal sih, tapi jelas bukan sachet,” rayunya pada saya yang memang lemah pada ajakan ngopi-ngopi.

Mezzanine Club 10 ternyata temanya menarik sekali. The Economics Talk: Where Are We Heading To. Sebagai mahasiswa yang baru memperoleh mata kuliah Seminar Keuangan Publik, tentu tema ini sayang untuk dilewatkan. Apalagi pembicaranya saya tahu betul memiliki kapasitas yang mumpuni di bidangnya. Adelia Pratiwi, senior STAN yang kini bekerja di Badan Kebijakan Fiskal; Anggito Abimanyu, mantan kepala BKF; dan Poltak Hotradero, Wikipedia berjalan yang sekaligus praktisi di bidang keuangan. Siapa tahu kan ya bisa dapat kesempatan meminta tips cara cepat dapat beasiswa S2 ke luar negeri melewati rumitnya birokrasi ke Mbak Adel, atau bertanya bisakah saya mendapat bunga yang lebih ringan jika saya mengambil KPR di BRI ke Pak Anggito, atau cara dianggap tetap cerdas walaupun sering ad hominem saat twitwar ke Pak Poltak.

Tetapi tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu tidak saya ajukan. Lah wong memang niat saya datang adalah demi kopi dan ngobrol sama teman haha-hihi. Jadi meskipun Mbak Adel ngomong panjang hingga melebihi waktu yang disediakan tentang kinerja perbankan di Indonesia yang jauh di bawah negara-negara tetangga, Pak Poltak berceramah mengenai pentingnya stimulus yang dilakukan oleh bank sentral demi mengatasi krisis (terutama menghadapi rontoknya harga minyak, ancaman ekonomi dari Tiongkok, dan bayang-bayang kejatuhan Brazil yang bisa menimbulkan efek domino global), atau Pak Anggito Khotbah memotivasi pegawai Kementerian Keuangan agar terus meningkatkan pengetahuannya tentang ekonomi dunia dan keberanian untuk mengambil kebijakan untuk merespon dinamikanya, saya sih tetap tenang dan fokus ngobrol dengan kawan di sekitaran.

Mezzanine Club 10 berakhir pukul setengah 10. Seorang kawan yang berasumsi acara selesai sekitar pukul 8 pun harus membatalkan perkuliahannya di kampus Salemba. Namun dia tak menyesal, malah bergumam ringan, “bedanya jelas orang datang workshop karena Surat Tugas dari kantor dengan orang datang karena ingin mendapat ilmu, antusiasmenya beda.”

Selepas acara, Mbak Fitri selaku project manager Mezzanine Club 10 mewawancarai Pak Poltak, mungkin terkait acara, mungkin untuk materi di situsweb yang dia asuh: orangjakarta.com. Saya memutuskan beribadah selfie dengan Mas Memed dan Mas Ardhi. Di beranda, hujan deras tak terdengar lagi…

Jakarta, 26 Februari 2016


0 comments:

Post a Comment