Apr 2, 2016

Intelegensi Embun Pagi: Kisah Penutup yang Tidak Menjanjikan

Supernova Episode: Intelegensi Embun Pagi

Penulis : Dewi Lestari
Penerbit : Penerbit Bentang
Cetakan : I, Februari 2016
Tebal : xiv + 710 halaman
ISBN : 978-602-291-131-9



Perjalanan panjang Dewi Lestari dalam serial Supernova akhirnya selesai. Proyek besar ini ditutup oleh Intelegensi Embun Pagi, menggenapi lima buku sebelumnya yang dicicil terbit selama lima belas tahun. Intelegensi Embun Pagi dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam buku-buku sebelumnya, sekaligus menjalin benang merah untuk menyambungkan tokoh-tokoh yang nyaris terlihat tidak saling bertautan. Di Indonesia, hingga sekarang, sangat jarang penulis yang memiliki proyek literasi megah. Dewi Lestari adalah salah satunya. Dia berhasil membuat novel dengan riset panjang untuk membuat plot, tema-tema, dan berbagai subjudul yang seolah  berdiri sendiri tapi saling berkelindan.

Dalam novel setebal 710 halaman ini perlahan-lahan misteri terkuak: siapa Supernova, mengapa Diva lenyap, ke mana perginya ayah Zarah, hingga untuk apa Gio, Bodhi, Elektra, Zarah, dan Alfa dipertemukan. Mereka ternyata memiliki satu misi yang mengharuskan satu sama lain saling bekerja sama. Pengalaman untuk pribadi yang dialami oleh masing-masing tokoh merupakan cara infiltran untuk membangunkan ingatan mereka dan menunjukkan tugas yang sedang mereka emban. Sejak dipertemukan itulah, petualangan mereka yang sesungguhnya dimulai.

Sebagai sebuah episode akhir, Intelegensi Embun Pagi semestinya tinggal meneruskan plot utama yang telah dibangun sedikit demi sedikit di episode sebelumnya. Sayangnya, Dewi Lestari malah membebani pembaca dengan istilah-istilah dan informasi-informasi baru yang kurang relevan dengan jalan cerita dan menambahkan tokoh-tokoh pendamping yang tak berkarakter kuat dan perannya cenderung tidak jelas. Hal-hal tersebut mengesankan bahwa Serial Supernova tidak terkonsep dengan baik sejak episode pertama. Dewi Lestari pun mengakui hal tersebut dengan malu-malu. Dalam ucapan penutupnya, dia menyatakan—sebagai bentuk apologi—bahwa ada pengetahuan-pengetahuan yang terungkap secara berangsur dan saling menjalin dengan sendirinya seiring proses kreatif yang menyusul bertahun-tahun kemudian.

Berita buruk tersebut tidak datang sendirian. Dalam buku ini, Dewi lestari kelewat snobs menggunakan bahasa asing dalam dialog antartokoh yang berasal dari negara berbeda. Penggunaan bahasa dalam dialog menjadi tidak konsisten karena dalam percakapan yang sama bisa ditemui penulisan menggunakan bahasa asing dan bahasa Indonesia sekaligus. Padahal, meski semua dialog ditulis dalam bahasa Indonesia, pembaca pun paham bahwa para tokoh sedang berbicara dalam bahasa asing. Tidak cukup sampai di situ, Dewi Lestari sampai repot membuat glosarium istilah agar kata asing dalam tubuh novel tidak perlu dicetak miring. Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah memiringkan kata memang sesusah itu?

Intelegensi Embun Pagi sukses membuat tema asyik yang hampir tidak tersentuh penulis Indonesia lain menjadi petualangan berbumbu kisah roman picisan. Hal ini mengejutkan, mengingat takkan ada pembaca yang membayangkan kisah epik berlatar ilmiah berakhir dengan kejar-kejaran ala Lima Sekawan.

2 comments: