Apr 22, 2016

Mezzanine

Kementerian Keuangan mempunyai forum diskusi asyik bernama Mezzanine Club yang rutin digelar sebulan sekali. Memang bukan forum resmi, tetapi lumayan menyejukkan setelah seharian penat oleh kerja birokrasi. Di kalangan anak muda Kementerian Keuangan, Mezzanine Club cukup nyaring dan sering menjadi parameter kekinian. Apalagi tema yang diangkat memang pop dan menarik minat kalangan muda menengah kelebihan duit ini. Saya sudah cukup lama ingin hadir ke forum ini, tetapi jarak, seperti dalam kisah-kisah cinta yang tak berakhir bahagia, selalu berhasil menjadi penghalang. Saya yang saat itu bekerja di pulau Sumatera tak mungkin berangkat ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan satu-dua orang lantas pulang lagi. 

Setelah saya menjadi pegawai tugas belajar dan berkuliah lagi di Jakarta, jarak menyusut. Lebih dari itu, saya malah kemudian dekat—meski nggak dekat-dekat amat—dengan Mas Ardhi, salah satu founder Mezzanine Club. Kedekatan itulah yang bikin saya menjadi tidak enak menolak ajakan dia untuk datang ke Mezzanine Club edisi kesepuluh yang digelar malam tadi. Saya pun membatalkan acara penting yang sebetulnya jarang bisa diganggu gugat, yaitu bermalas-malasan. 

“Tenang saja, bung, nanti ada kopi. Bukan kopi mahal sih, tapi jelas bukan sachet,” rayunya pada saya yang memang lemah pada ajakan ngopi-ngopi.

Apr 2, 2016

Intelegensi Embun Pagi: Kisah Penutup yang Tidak Menjanjikan

Supernova Episode: Intelegensi Embun Pagi

Penulis : Dewi Lestari
Penerbit : Penerbit Bentang
Cetakan : I, Februari 2016
Tebal : xiv + 710 halaman
ISBN : 978-602-291-131-9



Perjalanan panjang Dewi Lestari dalam serial Supernova akhirnya selesai. Proyek besar ini ditutup oleh Intelegensi Embun Pagi, menggenapi lima buku sebelumnya yang dicicil terbit selama lima belas tahun. Intelegensi Embun Pagi dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam buku-buku sebelumnya, sekaligus menjalin benang merah untuk menyambungkan tokoh-tokoh yang nyaris terlihat tidak saling bertautan. Di Indonesia, hingga sekarang, sangat jarang penulis yang memiliki proyek literasi megah. Dewi Lestari adalah salah satunya. Dia berhasil membuat novel dengan riset panjang untuk membuat plot, tema-tema, dan berbagai subjudul yang seolah  berdiri sendiri tapi saling berkelindan.