Jan 18, 2016

Turba

"Kamu itu ngaku kuminis kok ya nggak pernah turba. Pegang arit saja canggung," ujar Pak Slamet Rianto ke Mas Ahméd Taufiq Rosidi alias Mas Topiq.

Akhir pekan kemarin saya dan Mas Topiq sowan ke rumah dinas Pak Slamet. Sabtu malam, selepas Maghrib, saya memesan travel dari terminal Blok M menuju Bandung. Menjelang tengah malam saya baru tiba setelah berkali-kali pejabat yang ramah senyum ini meyakinkan saya bahwa tidak ada kata terlalu larut untuk datang ke kediamannya. Mas Topiq yang kebetulan sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan di sebuah hotel di kota ini sudah datang beberapa jam lebih dulu. Kami pun kemudian melanjutkan obrolan hingga Adzan Subuh berkumandang. Mas Topiq yang sudah kepalang tanggung memutuskan tidak kembali ke hotel. Dia memilih untuk menginap di rumah Pak Slamet.

Keesokan harinya saya bangun agak siang, sekitar pukul 10, dan melihat Pak Slamet berada di belakang rumah sedang sibuk memegangi gitar milik anaknya. Rupanya gitar tersebut rusak dan beliau berencana untuk membawanya ke temannya untuk diperbaiki.

"Sarapan dulu, Le," ujarnya sesaat setelah mengetahui saya sudah bangun.

Saya menggeleng sebelum kemudian duduk di lantai di sebelah beliau sedang beraktivitas. Istri Pak Slamet yang ada di situ juga menawari saya sarapan. Saya pun kembali menggeleng. Rupanya Pak Slamet paham maksud gelengan saya. Beliau akhirnya menyuruh saya membikin kopi.

Nah pas. Saya pun berjalan menuju dapur, menyeduh kopi, lalu kembali duduk untuk bergabung dalam obrolan Pak Slamet dan keluarganya. Menjelang pukul 12 Mas Topiq baru bangun dan langsung makan siang sekaligus sarapan yang dia lewatkan. Gila, batin saya. Badan kurus begini ternyata nggragas. Tak kurang dari dua piring nasi dia habiskan.

"Bosan juga sepekan makan masakan hotel. Biar pun terkesan mewah, tapi menunya monoton," ucap Mas Topiq setelah selesai makan. Dia tampak mengambil bungkus rokok milik Pak Slamet. Rokoknya habis sejak semalam.

Selepas beristirahat makan, Pak Slamet keluar dari rumah. Saya dan Mas Topiq mengekor sambil meneruskan obrolan yang belum putus sejak malam sebelumnya. Beliau menuju kebun yang berada di halaman rumahnya. Tangan kanannya memegang arit untuk membabat tanaman liar yang mencoba mengganggu melon kesayangannya. Mas Topiq dengan segudang pengetahuannya membagi wawasannya di dunia pertanian kepada Pak Slamet.

"Kowe iso nganggo arit?" tanya Pak Slamet.

Mas Topiq hanya nyengir.

"Katanya kuminis?" lanjut Pak Slamet sambil menggeleng dan tertawa. Beliau melanjutkan mengayun aritnya. Mas Topiq berjongkok untuk melihat aksi Pak Slamet melakukan perawatan terhadap kebunnya. 

"Ya namanya juga kuminis dansa-dansi, Pak. Apalagi dalam realita yang semakin banal ini, kita tidak mungkin melabeli seseorang, apalagi diri sendiri, dengan akurat 100%," jawab Mas Topiq.

Pak Slamet sejenak menghentikan aktivitasnya. Waktu lewat tengah hari. Matahari sedang panas-panasnya. Beliau masuk rumah mengambil rokoknya. Sambil menyalakan rokoknya, beliau melanjutkan aktivitasnya.

"Maksude piye iku, Mas?" tanya saya yang sedari tadi bengong sambil menatap HP. Hari beranjak sore dan saya belum memperoleh tiket travel untuk pulang ke Jakarta. Makanya saat itu saya tidak begitu aktif terlibat dalam obrolan.

"Begini. Sebagai pegawai negeri, apalagi di instansi yang mengelola duit yang jumlahnya sangat besar tidak mungkin saya total kuminis. Ada sebagian diri ini yang ikut menikmati sistem kerja borjuasi. Contohnya ya saat mengikuti pendidikan dan pelatihan sekarang ini. Tidur dan makan nyenyak di hotel berbintang. Tetapi saya harus terus-menerus meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya proses. Pada akhirnya tetap, Internationale di dunia."

Sambil terus berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain, Pak Slamet ikut bertanya, "jika kamu menikmati kemewahan, lantas bagaimana kamu masih yakin pada kuminisme?"

"Karena hanya dalam kuminisme kita bisa setara. Sama derajat. Tidak ada beda antara pejabat eselon dengan pelaksana yang hanya bertugas mengangkat telepon setiap hari. Kita pun bisa saling berbagi tanpa kecanggungan status sosial....."

"Hasyah.. Itu loh rokok di meja dari tadi. Mau ambil tinggal ambil. Nggak usah harus jadi kuminis dulu kalo lagi sama aku, " potong Pak Slamet sambil tertawa kencang.

Menjelang pukul 3. Saya pun mengajak Mas Topiq pamit sebelum obrolan berujung pada simpulan bahwa kuminis tidak suka mandi.



*Jakarta, 8 Oktober 2015

0 comments:

Post a Comment