Jan 22, 2016

Tawaran

“Syaratnya gampang. Kalau kau merasa bisa menuliskan sesuatu dan merasa tulisanmu itu bagus, kau berhak membawa pulang dan memiliki buku yang kubawa ini.”



***

Saya menyukai karya-karya, apapun, yang dikerjakan dengan baik. Lebih dari itu, saya mencintai tulisan-tulisan, jenis apapun itu, yang baik. Membaca tulisan baik membuat saya tidak merasa menghabiskan sebagian hidup dengan sia-sia. Meskipun belum bisa menulis dengan baik, saya bisa mengumpat penuh kebahagiaan ketika membaca karya yang ditulis dengan begitu cemerlangnya—juga sebaliknya: membenci karya yang ditulis dengan begitu buruk.

Dengan alasan di atas, saya menawarkan beberapa buku sebagai bagian dari, katakanlah, bayaran atau apresiasi saya atas tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh mereka yang menerima tawaran saya. Kali ini, buku yang saya bagikan ada empat buah: Sorgum Merah karya Mo Yan, Tiada Ojek di Paris karya Seno Gumira Ajidarma, Rumah Kopi Singa Tertawa karya Yusi Avianto Pareanom, dan The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger. Rasanya, tidak perlu saya jelaskan lebih lanjut nama-nama penulis dan buku-buku yang saya sebutkan pada kalimat sebelum ini. Asumsi saya, jika dia gemar berliterasi, dan merasa bisa menulis dengan baik, dia pasti mengenal, atau minimal pernah mengetahui, nama-nama tersebut. Atau bila dia malu mengakui ketidaktahuannya, dia bisa mengetik barang beberapa kata di mesin pencari untuk mengetahui rekam jejak para penulis tersebut beserta buku karangan mereka.

Empat buku tersebut, pada teknisnya, dibarter dengan empat tulisan dari empat orang mahasiswa STAN, para adik kelas saya yang menganggap mereka bisa menulis dengan bagus. Mereka adalah: Ganang, Erdi, Hanif, dan Nina. Ketiganya sudah duduk di tingkat akhir perkuliahan. Barangkali faktor “senior” ini yang membuat mereka berani karena saat saya menawarkan hal serupa ke mahasiswa yang masih di semester awal, tawaran saya ditolak dengan halus. Alasannya, mereka tidak percaya dengan tulisan sendiri.

***

Harus diakui bahwa saya tidak benar-benar berharap akan memperoleh tulisan yang bagus dari mereka. Mahasiswa STAN—termasuk saya tentunya—tidak ditumbuhkan di bawah budaya literasi. Meskipun kualitas kognisi Sumber Daya Mahasiswa STAN, karena mereka telah mengikuti ujian masuk dengan tingkat kesukaran di atas rata-rata, tidak perlu diragukan, tetap saja pada akhirnya latihan yang akan menentukan kemahiran seseorang melakukan sesuatu—termasuk menulis. Dan apabila ada mahasiswa yang luwes dalam menulis (saya menjumpai kasus macam ini dalam banyak kesempatan), saya yakin keterampilan tersebut bukanlah berasal dari kultur kampus. Mungkin dari kebiasaan keluarga, komunitas, lingkaran pergaulan, hingga ambisi belajar mereka.

Demikian pula dengan tulisan-tulisan yang ditulis dan lantas disetorkan oleh keempat anak di atas kepada saya sebagai “ongkos” atas buku yang mereka ambil. Tidak ada yang istimewa, malah saya sempat bergurau kepada seorang kawan bahwa tulisan-tulisan mereka tidak bisa dikritik karena bahkan menurut selera dan penilaian saya, tulisan mereka “jelek saja belum” (khusus untuk Ganang, Erdi, Hanif, dan Nina, jika kalian membaca ini, saya harap kalian paham bahwa saya tidak sedang menghina tulisan kalian). Walau demikian, saya tetap mengomentari secara singkat masing-masing tulisan yang mereka buat. Ganang menulis tentang pengalaman belajar kelompok dan mencoba melucu layaknya stand up comedian yang keburu grogi sebelum naik panggung. Sebelum saya mengomentari tulisannya, dia sadar dan langsung membuat tulisan kedua sebagai permintaan maaf (di bagian ini saya yang malah justru kebingungan karena merasa dia tidak bersalah). Erdi menulis tentang hal-hal tidak biasa yang terjadi di kampus STAN selama tahun 2015 kemarin dan membenturkannya dengan fakta bahwa dia hanyalah mahasiswa biasa. Sebagai premis, benturan yang dia buat sebagai pembuka tulisan cukup menarik, meski akhirnya dia kelelahan di tengah jalan, bingung hendak membawa tulisannya ke mana. Hanif, dalam tulisannya, mempertanyakan tentang karya dan memberi contoh beberapa mahasiswa STAN yang berkarya di luar jalur akademis. Latar belakangnya sebagai jurnalis kampus lantas membuatnya menulis feature yang bermain dengan wawancara. Yang jadi lucu adalah Hanif menulis dengan judul “Karya: Sebuah Keharusan atau Keniscayaan?”, tampak seperti seorang aktivis yang gemar menggugat, tapi langsung kebingungan ketika saya tanya apa bedanya keharusan dengan keniscayaan. Nina, yang mendaku sebagai pecinta sastra dengan mengikuti AKSARA, Unit Kegiatan Mahasiswa yang berhubungan dengan sastra, malah sama sekali hilang arah. Dia menulis dua tulisan yang bahkan terlalu pendek untuk meyakinkan premis yang sedang dia bawa. Saya pernah membaca tulisannya sebelum ini dan merasa ada angin segar dari kemuraman dunia literasi kampus. Akan tetapi, kali ini saya harus mencoba meyakinkan diri bahwa terkadang kenyataan memang tak seindah harapan. Saya membikin penghiburan untuk diri sendiri: bahwa tenggat satu (atau dua?) hari yang Nina miliki kurang memberikannya waktu untuk melakukan eksplorasi.

Sejak semula, saya hanya ingin menguji tekad mereka dalam menulis. Perkara baik atau buruknya tulisan adalah perkara yang mudah untuk dipelajari. Kesungguhan mereka lah yang membikin saya dengan senang hati  memberikan buku-buku bagus dari penulis-penulis baik untuk mereka. Lewat buku-buku yang semoga mereka baca itulah, saya titipkan pesan agar mereka tidak kapok menulis, bahkan timbul keinginan terus memperbaiki kualitas tulisan mereka. Sebab di sinilah letak permasalahan yang sebenarnya. Masalah tentang bagaimana membuat mereka merasa bahwa seolah tanpa menulis mereka tidak akan memperoleh honor uang untuk makan mereka di hari ini.

***

Bila sudah masuk pembahasan mengenai bagaimana menjaga semangat, saya sendiri sebetulnya juga angkat tangan. Banyak hal yang tidak mampu saya lakukan dengan konsisten hanya karena semangat yang hilang di tengah perjalanan. Rasanya semua orang pun begitu. Tetapi kemudian ketika pembicaraan menyempit jadi konsisten dalam menulis, kebanyakan orang (di sini saya mengambil contoh para pemula seperti saya, tentunya) yang saya ajak diskusi akan beralasan malas karena kesulitan dalam menulis, tidak memiliki “bakat” menulis, tidak memiliki ide untuk ditulis, writer’s block (khusus alasan  ini, selalu muncul satu hal yang mengganjal: bagaimana mungkin seseorang memiliki writer’s block jika dia belum menjadi penulis sama sekali?), dan berbagai alasan teknis lainnya.

Alasan-alasan macam di atas sebetulnya hanya pembenaran. Sama seperti kegiatan lain, satu-satunya masalah yang bisa menghalangi seseorang untuk menulis adalah tidak adanya kemauan. Hampir semua hal bisa dipelajari, termasuk akuntansi yang absurd bukan main. Apalagi menulis yang sudah diajarkan sejak pendidikan dasar. Untuk hal ini saya sepakat dengan Eka Kurniawan bahwa untuk semua orang yang ingin bisa menulis, satu-satunya pelajaran yang sangat penting dimiliki hanyalah: pelajaran berpikir. Banyak orang yang sudah mahir menulis dalam pengertian kata kerja, tetapi gagap dalam mengaplikasikannya secara fungsional. Lagi-lagi, seperti kata Eka Kurniawan, menulis bukanlah sekadar menyusun kata-kata menjadi kalimat, bukan sekadar menyusun beberapa kalimat menjadi paragraf (yang bahkan seringkali banyak yang tak mampu), tapi terutama adalah sebagai disiplin berpikir. Orang yang berpikir dengan benar, paling tidak tahu apa perkara yang dipikirkannya dan merumuskan premis-premis pikirannya. Sampai di sini, apabila ada pertanyaan apakah orang yang mengalami kesulitan dalam menulis pada dasarnya adalah orang yang mengalami kesulitan berpikir, tentu kita semua tahu jawabannya.

Namun saya percaya menulis, terutama untuk pemula, tidak harus bagus—apalagi sempurna. Banyak orang yang menimbang segala macam kemungkinan agar tulisannya tidak berakhir dengan buruk, malah tidak menulis apapun juga. Dalam hal ini, saya sepakat dengan anjuran AS Laksana untuk menulis buruk. Draft yang buruk, menurut AS Laksana, ketika ia ada, jauh lebih baik dibandingkan dengan draft yang sempurna tetapi tidak pernah ada, karena anda terus-menerus gagal menuliskan draft yang seperti itu.

Oleh karena itu, saya senang sekali ketika mengetahui ada orang yang mau menerima, katakanlah, tantangan saya untuk menulis bagus. Target saya, sedari awal, bukanlah menerima setoran tulisan yang betul-betul baik dari mereka yang menyepakati ajakan saya—meskipun jika ada yang bagus akan jadi bonus yang membahagiakan buat saya, melainkan mencari orang-orang yang mau menulis, seberapa pun buruknya, dan percaya bahwa tulisan yang mereka buat adalah karya yang perlu mereka sayangi sebagaimana para orang tua menyayangi anak-anak mereka.

Sebab, bagi saya, memperbaiki kualitas tulisan yang buruk jauh lebih mudah ketimbang memperbaiki mental yang terus-terusan merasa perlu dikasihani, mental yang terus-terusan mencari berbagai pembenaran mengapa dia tidak juga mulai menulis.

1 comment:

  1. nice. gw pernah heran pas lu minta gw ngepost tulisan di biro. wahaha.

    ReplyDelete