Dec 27, 2015

L


Beliyo lebih suka disebut Mak El. Atau "L" saja. Itu yang tersirat dari nama-nama yang dia pakai di berbagai media sosial. Barangkali beliyo mengkhidmati betul kesunyian karena dilupakan, pada era internet ini (di mana nama terangmu bisa demikian abadi bahkan setelah kau meninggal), merupakan kemewahan. Kemungkinan lain, beliyo adalah penggemar death note--tidak mengherankan bila hawa pembunuh menguar dari kehadirannya. Atau tidak menutup kemungkinan pula beliyo adalah golongan yang tersisa dari zaman "anak layangan".

Saya mengetahui namanya dari sebuah cerita pendek yang mengalihkan monotonnya rutinitas kerja saya sehari-hari. Pemantik Api di Saku Baju Leira, judul cerpen karangan beliyo di sebuah situsweb anak muda kenamaan. Setelah itu beberapa cerita pendek lain dari beliyo tak urung saya baca. Awalnya saya tidak begitu peduli dengan sang penulis karena yang membuat saya jatuh cinta adalah isi cerita pendek-cerita pendeknya dengan gaya bertutur penuh kemuraman--barangkali seperti Murakami. Lantas saya menguntit ke blognya. Di sana saya dapati bahwa tulisan-tulisannya merupakan kerinduan seorang ibu pada anaknya; kerinduan pada kebebasan berkarya di luar rutinitasnya. Tak melulu cerita pendek, melainkan juga kidung dan puisi. Hingga saya menyadari bahwa sang penulis sering berbincang dengan kawan saya di twitter. Lebih mengejutkan lagi, sang kawan berkata bahwa "L" merupakan pegawai negeri di kementerian yang sama dengan saya.

Sampai kemudian, entah bagaimana ceritanya, kami berkawan di facebook--sehabis berkenalan terlebih dahulu di twitter. Semesta menakdirkan kami untuk berkawan lebih lanjut. Suatu hari beliyo mengirim pesan facebook, memberitahu bahwa beliyo ingin mengirim tulisan ke birokreasi. Saya menyambutnya dengan baik. Kehormatan, pikir saya. Idola, jeh, bung. Berkah macam apalagi yang bisa diharapkan oleh manusia nista macam saya selain memperoleh titah dari idola sendiri.

Waktu itu saya masih di Bangko. Kondisi geografis yang memisahkan membuat saya hanya bisa bercakap-cakap dengan "L" (juga banyak yang lainnya) melalui media sosial. Di pertengahan tahun 2015 saya memperoleh penugasan ke Jakarta. Kesempatan ini saya pergunakan untuk bertemu teman-teman saya, termasuk "L". Saya hubungi beliyo, dan dengan keramahan yang luar biasa beliyo menyanggupi permintaan saya. Sayang, di detik-detik terakhir, saat sudah di bajaj menuju tempat pertemuan, beliyo tiba-tiba memperoleh kabar bahwa anaknya sakit sehingga beliyo memutuskan putar balik ke arah rumahnya.

Lama kemudian saya dipindahkan ke Jakarta melalui surat sakti tugas belajar. Barangkali ini adalah konspirasi semesta untuk mempertemukan saya dengan "L" karena hanya beberapa hari setelah saya menginjakkan kaki di ibukota, saya terhisap ke dalam lingkaran perkawanan beliyo, bahkan langsung beroleh kesempatan ngopi bareng dengan beliau dan kawan-kawan di salah satu kedai di bilangan Cikini. Karomah. Ibarat memperoleh durian yang tiba-tiba muncul sebagai hidangan pencuci mulut gratis di meja depanmu saat depresi ekonomi akhir bulan melandamu.

Namun malang tak dapat ditolak. Pertemuan dengan "L" tidak berlangsung lama. Terhitung sejak bulan depan, beliyo akan melanjutkan kuliah di Ostrali. Melanjutkan studi, mewujudkan mimpi-mimpi. Bahkan jika saya tidak silap, hari ini adalah hari terakhir beliyo masuk kantor sebelum dibebastugaskan untuk mempersiapkan keberangkatannya ke luar negeri. Untuk mamah, ibu pegawai negeri idaman pemuda yang telah banyak menginspirasi saya ini, hanya ada satu kata: godspeed.

*Purwokerto, 22 Desember 2015

0 comments:

Post a Comment