Nov 5, 2015

Kepedulian

Seminggu setelah memulai perkuliahan, saya dan beberapa orang kawan memulai candaan dan kemungkinan untuk maju ke dalam bursa pencalonan presiden mahasiswa STAN. Obrolan-obrolan di warung kopi di sekitaran Jalan Bangka, bilangan Mampang, yang menandai diskusi saya bersama kawan-kawan seangkatan yang barangkali penuh tawa namun tetap berjalan pada fokusnya. Saya tidak benar-benar berambisi menjadi presiden mahasiswa, tetapi saya serius mengenai keinginan masuk ke dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus. Tak disangka, kesempatan itu benar-benar datang. Saya pun memberanikan diri untuk bergabung dalam Pemilihan Raya (Pemira) yang akan menentukan presiden mahasiswa STAN selama setahun ke depan. Bersama Yuris, kawan saya yang masih duduk di bangku DIII spesialisasi Akuntansi, kami berpasangan sebagai capresma dan cawapresma.

Akan tetapi bukan saya dan Yuris lah yang sebetulnya menjadi tokoh dalam pencalonan ini. Kawan-kawan lain yang justru aktif dan banyak membantu saya. Sebelum resmi mencalonkan diri, mereka sudah mulai bergerak menyiapkan syarat-syarat yang diperlukan dalam pencalonan. Sebutlah Imin yang mencatat segala isi rapat dan mengingatkan keperluan-keperluan yang dibutuhkan selama pencalonan, Haryo yang merelakan diri terjaga semalaman demi perjalanan dari Bintaro ke Rawamangun mengumpulkan salinan KTM mahasiswa spesialisasi Bea dan Cukai yang berkuliah di sana demi syarat dukungan, Taufan dan Erdi yang mengumpulkan salinan KTM mahasiswa yang berkuliah di Bintaro, serta Eran yang mengagitasi kawan-kawan di Purnawarman untuk mengumpulkan syarat serupa. Ucapan hormat dan terima kasih saya sampaikan kepada mereka juga kawan-kawan lain yang terlewat karena ketidakmampuan saya menghitung satu demi satu kebaikan mereka semua.

Kemudian datanglah masa-masa rapat yang melelahkan hingga larut malam. Masa yang emosional karena kurangnya istirahat dan tekanan yang terus membesar. Tetapi semangat dari kawan-kawan yang tidak pernah surut mengingatkan saya bahwa ini adalah perjuangan milik bersama. Akan sangat egois jika saya mengendurkan tenaga barang sedikit pun. Akan sangat bodoh jika saya sudah berkomitmen untuk maju tetapi tidak mengerahkan seluruh daya yang saya punyai di dalamnya.

Saya ingat hampir setiap malam saya datang dari Purnawarman ke Bintaro. Saya mampir di warung kopi, melihat sekeliling: lalu-lintas para mahasiswa masih berkegiatan, baik itu dalam rangka menyelesaikan tugas kuliah, menunaikan amanah di kepanitiaan, kepentingan organisasi dan unit kegiatan yang mereka ikuti, serta para mahasiswa baru yang baru pulang dari acara orientasi. Muka-muka lelah mereka sulit disembunyikan, tetapi mereka terlihat ceria. Tidak ada gestur keluhan yang terlihat di sepanjang jalan. Momen ini, mau tidak mau, mengingatkan saya ke masa 7 tahun silam, di awal saya memasuki perkuliahan. Saya yang hanya berniat untuk mengikuti perkuliahan hingga lulus demi memenuhi janji saya pada orang tua. Lain itu tidak. Saya yang menjadi pemeran figuran bahkan di “rumah” saya sendiri.

***

Satu malam saya dan Yuris bertemu dengan Reza, mahasiswa yang diberi peran sebagai ketua angkatan spesialisasi Akuntansi 2014. Awalnya kami—saya dan Yuris—dan Reza berbincang kaku. Ada jarak dalam obrolan antara kami dengan dia. Obrolan itu cair setelah saya mengeluarkan rokok, menghisapnya, kemudian berkata bahwa saya dan Yuris hanyalah mahasiswa biasa yang ingin ikut menyumbang pikiran dan tenaga pada kampus. Bukan elit yang hendak menguasai sumber daya kegiatan mahasiswa. Reza pun tersenyum. Kemudian dia menjelaskan bahwa selain “jabatan” yang dia emban sebagai ketua angkatan, dia hanyalah mahasiswa yang tidak berkontribusi banyak pada kampus. Statusnya sebagai “orang Jawa” yang memiliki KTP Bali pun membuatnya tidak memiliki organisasi kedaerahan (Organda). Obrolan itu berakhir dengan persetujuan Reza untuk ikut membantu kami dalam proses pemilihan.

Beberapa orang lantas bergabung dan ikut membantu proses selanjutnya. Tidak banyak memang. Tetapi mereka adalah orang-orang yang peduli pada kampus dan percaya bahwa orang biasa seperti saya pun berhak terlibat dalam pencalonan presiden mahasiswa. Saya tidak mengenal mereka pada awalnya, namun kepedulian mereka pada satu titik membuat saya larut dalam haru. Saat itu saya berpikir bahwa inilah yang dibutuhkan oleh STAN. Kampus ini butuh semua mahasiswanya untuk terlibat, untuk merasa bahwa mereka adalah bagian dari kampus yang besar ini. Bahwa STAN adalah milik semua mahasiswa dan para mahasiswa tersebut diajak untuk urun ide dan tenaga bersama-sama. Kampus ini tidak membutuhkan messiah atau penyelamat yang mengatakan bisa membereskan semua masalah dan memperbaiki kesalahan-kesalahan di periode sebelumnya. Itu pula yang saya rasakan ketika saya bertemu dengan calon presiden dan wakil presiden mahasiswa nomer 2, Patuan Handaka dan Edy Suharman, beserta para sahabatnya (saya ingat betul Patuan berkali-kali menolak sebutan tim sukses untuk orang-orang yang membantu mereka). Semangat dari mereka yang besar untuk turut serta berkontribusi pada kampus, untuk ikut turun tangan membantu orang-orang yang mereka percaya mampu menyatukan ide-ide dan kepentingan mereka dalam satu wadah. Mereka “hanya” peduli, tanpa pernah berharap calon yang mereka dukung memberikan kontraprestasi atas kerja mereka.

***

Kemarin hari pemilihan telah dilaksanakan. Hasilnya pun telah terlihat. Bukan tim saya-Yuris dan tim Patuan-Edy yang mendapat amanah untuk duduk di kursi presiden dan wakil presiden mahasiswa. Tetapi hasil tersebut bukanlah membuktikan siapa yang lebih banyak berkontribusi dan berperan dalam Pemira, siapa yang berhasil dan siapa yang gagal. Saya jelas akan mengatakan bahwa tidak ada yang gagal dalam sebuah proses. Mereka yang gagal adalah, seperti kata orang-orang bijak, mereka yang tidak berani berproses.

Saya tidak melihat proses yang dilalui oleh tim Heru dan Ayub selaku calon presiden dan wakil presiden mahasiswa terpilih sehingga saya tidak berhak untuk berkomentar. Saya hanya menjadi saksi bagaimana tim saya-Yuris dan tim Patuan-Edy, dan saya hanya berkomentar satu hal: bahwa kepedulian pada kampus berhak dimiliki oleh seluruh mahasiswa, baik yang aktif berorganisasi maupun tidak. Mereka membuktikan hal tersebut, menampar saya yang apatis selama DIII dan melarikan diri ke kegiatan-kegiatan di luar kampus. Barangkali saya harus bilang, mengutip salah satu lirik lagu Efek Rumah Kaca: ini saatnya bangun dari tidur berkepanjangan.

Setelah mulai bekerja, barangkali satu-satunya hal yang saya sesali adalah ketidakpedulian saya terhadap kampus—terhadap orang-orang di dalamnya—selama saya berkuliah. Karena pada saat saya penempatan, nyatanya kawan-kawan dengan jas almamater yang sama inilah yang peduli dan banyak membantu saya, meskipun saat kuliah saya tidak mengenal mereka sama sekali. Kepedulian yang akan selalu saya ingat hingga entah kapan. Menunggu saya tiba di kantor sampai larut malam, menyediakan tempat tinggal sementara sebelum saya memperoleh kos, serta banyak menjamu saya yang waktu itu belum memperoleh gaji utuh. Dengan alasan itu saya berjanji sewaktu menerima pengumuman penerimaan mahasiswa baru DIV STAN, bahwa saya akan mulai peduli pada kampus dan seisinya sebagai bentuk balas jasa almamater—setidaknya semampu yang saya berikan.

Ternyata saya salah besar. Saya tidak mampu membalas apapun. Saya justru berutang lebih banyak. Berutang kepada semua kawan (meskipun, lagi-lagi, saya tidak mengenal mereka sebelumnya) yang memiliki kepedulian pada kampus. Kepedulian yang jauh lebih besar daripada yang pernah saya bayangkan.

3 comments:

  1. Mantap bang, gas teroos. This is not the end, ini hanyalah sebuah permulaan dari sebuah kisah kepedulian kampus. Salam mahasiswa.

    ReplyDelete
  2. Benar bg, ada banyak proses - proses yg abg lalui ,bersama mereka,kami, orang2 luar biasa di dalamnya, yg mungkin hanya abg sendiri yg bisa merasakannya, kami hanya luarnya bg.
    Gagal disini bukanlah harapan yang sia-sia. Kita sebagai mahasiswa tetap bisa berkontribusi banyak untuk kampus kita tercinta ini. Bahkan lebih dari itu bg, di dunia kerja nnti yg keras, disitu kita bisa berbuat lebih bg. Buktikan orang biasa seperti kita masih mampu memegang amanah dan integritas. Thanks bg atas tulisannya bisa menjadi inspirasi kami junior2 abg.

    ReplyDelete