Jul 23, 2015

Lebaran

Konon lebaran adalah sebuah perayaan. Saya mengamini sebagian dari pendapat tersebut. Ingatan masa kecil saya akan lebaran adalah tentang takbir yang dihela dengan kencang, dapur yang mengepulkan wangi masakan yang tak pernah tersaji di hari biasa, lampu yang dinyalakan hingga terang-benderang, dan tembok-tembok rumah yang dicat ulang. Selebihnya adalah wajah-wajah yang terlihat begitu riang.

Tetapi ada satu masa ketika saya merasa lebaran berlalu dengan keanehan. Suatu pagi, saat saya dan keluarga bersiap hendak berangkat mengikuti Shalat Ied, seorang tetangga mengetuk pintu belakang rumah, meminta beberapa bunga yang memang ditanam di halaman. Di malam sebelumnya, ketika orang larut dalam keriuhan parade takbir, salah satu anggota keluarga tetangga tersebut meninggal. Mau tidak mau si tetangga melewatkan momen lebaran tahun tersebut karena harus sibuk mengurus pemakaman anggota keluarganya.

Saya lupa kapan tepatnya hal di atas terjadi. Barangkali 10 atau 15 tahun yang lalu, saat saya belum dewasa benar untuk mengerti jalannya hidup. Karena saat melihat tetangga yang meminta bunga tadi, saya masih mengajukan sebuah pertanyaan naif pada diri sendiri: bisakah orang tidak berbahagia di hari lebaran?