May 31, 2015

Ulang Tahun dan Kecemasan


Tanggal 27 Mei kemarin ibu berulang tahun. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya lebih merasa kecemasan ketimbang kegembiraan. Beberapa hari menjelang hari ulang tahun ibu sebetulnya saya sudah merencanakan banyak hal. Kado yang bisa berguna untuk keperluan ibu sehari-hari, ucapan yang barangkali akan diingat dalam waktu cukup lama, dan kue yang akan dititipkan melalui adik di rumah.
 
Semua gagal.
 
Menjelang tanggal 27, ingatan akan bapak datang dan berputar begitu kencangnya. Terutama ingatan di saat bapak meninggal dan saya tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali. Tidak juga melihat pemakamannya. Jarak ribuan kilometer antara tempat saya berada dengan rumah, yang biasanya saya sikapi dengan biasa saja, kali ini terasa menakutkan sekali. Muncul banyak pengandaian yang seharusnya tidak saya pikirkan.
 
Karena itu saya kembali merenungkan rencana-rencana saya sebelumnya. Rencana yang barangkali hanya akan mengingatkan ibu pada kesepiannya selepas bapak meninggal. Apalagi, saya mengenal ibu sebagai sosok yang sangat melankolis. Hingga tanggal 27 hampir berakhir, saya bahkan belum menghubungi ibu sama sekali. Saya bingung bagaimana mengucapkan “selamat” ketika kata tersebut bisa saja mengandung makna yang berbeda bagi penerima.
 
Tetapi sore hari adik mengirimkan pesan kepada saya bahwa dia akan pergi makan berdua bersama ibu. Tanpa kakak dan keluarganya. Tidak ingin menebalkan kesepian yang dirasakan oleh ibu, selepas maghrib saya menelepon dan mengucapkannya.
 
“Selamat ulang tahun ya, bu. Maaf kali ini tak memberikan apa-apa selain doa agar ibu selalu sehat dan berbahagia.”

1 comment: