Apr 16, 2015

Lima Buku yang Sebaiknya Dibaca oleh Pegawai Pajak



Konon, pegawai pajak segera kaya mendadak. Penyebabnya, gaji mereka dinaikkan dua kali lipat dari semula. Lebih fantastisnya, mereka bakal membawa pulang duit bulanan lebih banyak dari menteri yang kedudukannya setingkat di bawah presiden. Reaksi masyarakat tentu saja beragam. Sebagian besar menolak keras dengan alasan yang sudah jelas: memboroskan APBN. Di kalangan internal pegawai sendiri, muncul gejolak karena pemberitaan yang muncul dinilai terlalu berlebihan. Hanya seorang sufi yang berkata bahwa polemik kenaikan penghasilan ini adalah hal yang wagu.

Bukan kapasitas saya urun beropini. Saya hanya ingin menulis daftar buku sebanyak lima buah untuk para ambtenaar penjaga keuangan negara. Agar isi rekening yang tiba-tiba lebih banyak dari biasanya, dapat disikapi dengan bijak. Agar dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri, tapi juga negara tercinta ini. Memang sebanyak 60% daftar berisi buku fiksi alias novel. Karena maksud saya agar para pegawai pajak bisa menyegarkan diri di waktu-waktu rehat, tidak melulu tertekan dikejar target Rp 1297 triliun. Biar begitu, tak usahlah Anda meragukan pesan moral dalam masing-masing buku. Dan, yak, sebelum memasuki inti tulisan, saya ingin berkata pada Anda bahwa saya berhasil memasukkan sejumlah data dan angka agar terkesan intelek. Yes! 

1. 1984 (George Orwell) 
Kebebasan ialah kebebasan untuk mengatakan bahwa dua tambah dua sama dengan empat. Jika itu dijamin, semua yang lain mengikuti. – 1984

Sebetulnya tidak ada alasan kuat mengapa saya memasukkan buku ini. Novel 1984 berkisah tentang satir totalitarianisme yang tidak memiliki korelasi langsung dengan demokrasi di Indonesia, apalagi dengan penerimaan pajak, kecuali fakta bahwa beberapa kali tulisan protes dari para pion pajak di media-media warga seperti kompasiana disensor karena dianggap menyalahi syarat dan ketentuan penulisan. Pengapusan oleh pihak pengelola ini tidak terdengar media karena sama sekali tidak seksi dibanding pemblokiran situs-situs “islami” yang muncul hampir bersamaan. Tentu penyensoran tidak sepenuhnya salah, mengingat salah satu konten tulisan yang dihapus berisi ajakan untuk menghindari pajak. Tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Mengeluarkan pendapat, bahkan keluhan sekalipun, adalah hak konstitusional. Sensor dan penghilangan (baik orang maupun tulisannya) atas nama ketertiban sekalipun adalah hal yang melanggar Undang-Undang, meski terbukti negara ini terbiasa melakukannya selama puluhan tahun.

Menariknya, sensor dan penghilangan adalah tema perbincangan utama 1984. Winston, sang tokoh utama adalah pegawai sebuah departemen di Inggris, yang berarti dia seorang pegawai negeri. Tugas utama Winston sebagai pelaku sensor. Setiap hari dia memanipulasi data. Jika ada berita buruk muncul, kewajiban Winston menghapusnya dan menggantikan dengan berita baik, tidak peduli berita yang dia bikin adalah palsu. Winston pun merasa hidupnya tidak tenang, dikejar perasaan bersalah. Namun, membongkar kebusukan yang terstruktur-sistematis-dan-masif itu pun hampir tidak mungkin. Bung Besar, sang pemimpin pemerintahan, mengawasi kehidupan semua orang dengan sangat ketat. Telescreen (kamera pengawas) tersebar hampir di seluruh tempat. Mata-mata muncul di mana pun. Jargon “Bung Besar mengawasimu” menjadi jargon untuk menimbulkan ketakutan. Kalau melenceng sedikit saja, polisi pikiran segera menangkapmu. Hal yang kemudian terjadi pada Winston.

2. Manusia Indonesia (Mochtar Lubis)
Buku berjudul Manusia Indonesia sebetulnya adalah teks pidato kebudayaan dari Mochtar Lubis tahun 1977. Pidato yang mengupas stereotip sifat-sifat orang Indonesia ini, kemudian menjadi terkenal karena pro dan kontra yang mengikuti. Sifat-sifat yang disebut oleh Mochtar Lubis adalah munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feudal, percaya pada takhayul, berbakat seni, dan lemah watak. Keenam sifat tersebut tentu tidak semua benar namun tidak semuanya salah. “Saya kembalikan pada Saudara-Saudara semua,” ujarnya.

Hingga hari ini, pembahasan mengenai enam sifat Manusia Indonesia tetap relevan untuk diperdebatkan, minimal sebagai tema twitwar. Yang kerap dilupakan para pembaca, selain keenam sifat yang terkenal tersebut, Mochtar Lubis menyebutkan juga sifat-sifat minor lain, seperti tidak suka bekerja keras, kecuali kalau terpaksa, dan obsesi menjadi pegawai negeri.

“Jadi priyayi, jadi pegawai negeri adalah idaman utama, karena pangkat demikian merupakan lambang status yang tertinggi. Orang menjadi pegawai negeri bukan karena didorong rasa hendak mengabdi pada rakyat banyak. Bukan untuk memajukan masyarakat. Hal ini dapat kita nilai betapa enggannya pegawai-pegawai tinggi dan rendah dipindahkan ke luar Pulau Jawa, atau ke luar kota-kota besar.”

Untunglah Mochtar Lubis tidak berbicara di hadapan para pegawai pajak hari-hari ini. Saya, dengan tegas akan mengatakan bahwa dia salah. Bahwa seluruh pegawai pajak yang jumlahnya lebih dari 30.000 orang, semuanya bekerja bukan atas dasar status, apalagi duit. Mereka adalah abdi negara yang tekun. Selalu menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan. Ikhlas bakti, bina bangsa, berbudi bawa laksana. 

3. Lapar (Knut Hamsun)
Lapar adalah novel yang mengantarkan Knut Hamsun ke puncak kejayaannya sebagai seorang pengarang. Novel ini bercerita tentang tokoh “Aku”, seorang penulis miskin yang hampir setiap harinya tidak memiliki uang sama sekali. Honor dari pekerjaannya menulis sangat jarang diperoleh karena tulisannya memang hampir tidak pernah dimuat oleh para redaktur surat kabar. Beberapa kali dia menulis artikel yang bagus dan dimuat, tetapi sikapnya yang buruk membuat redaktur enggan memuatnya lagi. Dia pun akhirnya kembali kehabisan uang, merasa lapar, dan mulai menjual barang-barang yang dikenakan. Begitu seterusnya hingga menjadi siklus.

Yang paling menonjol dari “Aku” adalah pongah dan keras kepala, sifat buruk yang pada satu sisi justru membuatnya patut dipuji. Berkat keras kepalanya itulah dia tetap menulis dan tidak ingin berganti pekerjaan lain, meskipun miskin, tidak memiliki tempat tinggal, bahkan kelaparan karenanya. Ketangguhan dan militansi “Aku” ini patut ditiru dan diingat ketika Anda sedang jenuh pada pekerjaan.

Yah, setidaknya sebelum “Aku” memilih untuk menjadi kelasi kapal di akhir cerita. Keputusan yang mengingatkan saya pada ucapan Bapak Bambang Brodjonegoro, Menteri Keuangan, beberapa saat lalu. Menurut beliau, hampir setiap hari beliau menerima permohonan pengunduran diri dari pegawai Ditjen Pajak. Alasannya, gaji yang diterima oleh mereka bakal lebih besar jika bekerja di tempat lain alih-alih tetap bekerja sebagai pegawai pajak. Sebuah ironi besar mengingat tokoh utama di novel “Lapar” sendiri pernah berkata,

“Orang cerdas yang miskin jauh lebih peka terhadap keadaan sekitarnya daripada orang cerdas yang kaya” (hal. 221).

4. Imagined Communities (Benedict Anderson)
Menurut Benedict Anderson, bangsa adalah komunitas politis yang terbayang dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan. Bangsa merupakan sesuatu yang “dibayangkan” karena anggotanya tidak saling tahu, kenal, bertemu, atau mendengar sebagian anggota lain, tapi pada benak mereka hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan. Salah satu faktor “pemersatu” sebuah bangsa yaitu kapitalisme media cetak. Pembacaan surat kabar yang memberitakan hal yang sama belaka menimbulkan konstruksi pemikiran bahwa para pembaca adalah sebuah entitas kebangaan yang sama, mengesankan bahwa mereka masih berada di waktu dan tempat yang sama, meski sebetulnya terpisah jarak yang jauh. Subulussalam dengan Makassar, misalnya. Seperti kisah cinta seorang sufi di atas.

Bingung? Anda tak sendirian. Saya hanya asal kutip biar, sekali lagi, terlihat pintar. Toh saya juga tidak yakin betul simpulan saya benar adanya. Tetapi kurang lebih begini, buku Imagined Communities alias komunitas-komunitas terbayang membuat saya berpikir bahwa dalam batas-batas tertentu, selain menjadi bangsa Indonesia, para pegawai pajak merupakan satu bangsa yang memiliki satu cita-cita yang sama di bawah atap Direktorat Jenderal Pajak: mengamankan penerimaan negara. Sayang, tidak ada katalisator yang membuat mereka bersatu dan sinergi, kecuali faktor uang. Padahal sinergi (yang sebenar-benarnya, bukan hanya jargon klise) merupakan faktor penting yang harus dimiliki untuk mewujudkan cita-cita di atas. Pertanyaannya: jika pada masa Benedict Anderson melakukan penelitian media cetaklah jawabannya, media jenis apa yang tepat untuk mempersatukan para pegawai pajak? Saat ini, saya yakin jawabannya bukanlah e-magz, majalah elektronik internal pajak yang bahkan hampir tidak diketahui oleh para pegawainya. 

5. Animal Farm (George Orwell) 
Lagi-lagi saya memilih memasukkan karya Orwell ke dalam daftar. Walaupun, sekali lagi, Orwell masih membicarakan totalitarianisme di buku ini. Sama seperti 1984, buku Animal Farm penuh berisi sindiran sekaligus kritik terhadap penguasa. Bedanya, buku yang sempat diterjemahkan dengan judul “Binatangisme” ini memilih menggunakan alegori, menceritakan para binatang di sebuah peternakan. Para binatang merasa bahwa penguasa, manusia, sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selain memerintahkan mereka untuk terus produktif. Tengok pidato Major, seekor babi tua, di bab awal. Menurut dia, manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Berkat pidato tersebut, para binatang merasa tersadarkan, selama ini mereka dipimpin oleh makhluk yang salah, yang tidak kompeten, sehingga mereka memutuskan untuk memberontak. Dipimpin oleh dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Setelah berhasil memberontak (mereka mengusir Pak Jones, manusia pemilik peternakan), mereka akhirnya berkuasa atas diri mereka sendiri… pada awalnya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Kekuasaan, seperti kata pepatah, memabukkan. Napoleon kemudian menyingkirkan kawan perjuangannya, Snowball, karena ingin berkuasa sendirian. Kisah selanjutnya mudah ditebak. Napoleon melakukan berbagai cara, yang seringkali licik, demi mempertahankan kedudukan.

Membaca beberapa adegan dan sifat-sifat karakter yang digambarkan Orwell, mengingatkan saya pada beberapa peristiwa yang terjadi di Direktorat Jenderal Pajak akhir-akhir ini. Contohnya ketika beberapa waktu lalu Dirjen Pajak menghimbau agar para pegawai dengan semangat seperti “pelari marathon yang baru membeli sepatu baru”, berdoa setiap pagi agar target penerimaan tercapai, serta tidak lupa meneriakkan slogan optimisme yang berbunyi “DJP Bisa”. Sama belaka dengan adegan di Animal Farm. Selepas pemberontakan, para binatang mengganti nama “Peternakan Manor” menjadi “Peternakan Binatang”, menaruh Tujuh Prinsip Binatangisme di dinding agar dibaca setiap saat, serta mulai menghapal slogan “Kaki Empat Baik, Kaki Dua Jahat” sebagai pengamalan nilai-nilai perjuangan. Atau melompatlah langsung ke Bab 6, di mana Napoleon memerintahkan agar Minggu malam (yang sebetulnya adalah hari libur), para binatang tetap bekerja agar target hasil panen akhir tahun tercapai. Ini membuat saya de javu ketika membaca instruksi Dirjen agar para pegawai, utamanya pejabat eselon dan pejabat fungsional, menambah jam kerja hingga pukul 19.00 setiap hari.

Ketika kebijakan yang diambil oleh Napoleon nyata-nyata tidak bermanfaat secara optimal—hasil panen malah turun—masih ada Squealer, babi kepercayaan Napoleon, yang siap memanipulasi ingatan (dan data) para binatang. Ketika para binatang mulai resah dan loyalitas mereka terhadap Napoleon menurun, Squealer dengan cerdik mendatangi mereka, meyakinkan mereka bahwa “bukan itu masalahnya”. Bahkan, membuat para binatang yang kebanyakan adalah binatang tolol (hanya sebagian kecil yang sanggup membaca) merasa bahwa merekalah yang salah. Tapi khusus yang satu ini, saya tidak sedang menganalogikan apa-apa dengan pegawai pajak yang penuh integritas.

Animal Farm menyediakan pilihan bagi para pegawai pajak, akan menjadi “binatang” seperti apa di “peternakan” besar ini, instansi Direktorat Jenderal Pajak. Apakah seperti Mollie, kuda betina tolol yang seringkali terlambat bekerja (bahkan seringkali melarikan diri dari jam kerja), tetapi selalu hadir setiap jam pembagian ransum? Atau biri-biri yang menjilat dengan meneriakan slogan “Kaki Empat Baik, Kaki Dua Jahat” sebagai pengukuhan kekuasaan Napoleon? Atau menjadi para babi, kelompok eksklusif yang gemar memanfaatkan fasilias (yang seharusnya tidak menjadi hak mereka)? Ataukah menjadi Boxer, kuda yang selalu berkata, “aku akan bekerja lebih keras”, dan memundurkan usia pensiunnya agar dia tetap bisa bermanfaat bagi peternakan?

Khusus untuk yang terakhir, saya rasa tidak. Ketika Boxer cedera parah, dia justru dibawa menggunakan mobil penyembelih kuda sebagai balasan atas jasa-jasanya. Meskipun Squealer membantah dengan menegaskan itu mobil ambulans. Dan ketika beberapa hari kemudian Squealer berkata bahwa Boxer meninggal di rumah sakit, siapakah yang percaya begitu saja?

*ditulis untuk birokreasi.com

0 comments:

Post a Comment