Apr 16, 2015

Lima Buku yang Sebaiknya Dibaca oleh Pegawai Pajak



Konon, pegawai pajak segera kaya mendadak. Penyebabnya, gaji mereka dinaikkan dua kali lipat dari semula. Lebih fantastisnya, mereka bakal membawa pulang duit bulanan lebih banyak dari menteri yang kedudukannya setingkat di bawah presiden. Reaksi masyarakat tentu saja beragam. Sebagian besar menolak keras dengan alasan yang sudah jelas: memboroskan APBN. Di kalangan internal pegawai sendiri, muncul gejolak karena pemberitaan yang muncul dinilai terlalu berlebihan. Hanya seorang sufi yang berkata bahwa polemik kenaikan penghasilan ini adalah hal yang wagu.

Bukan kapasitas saya urun beropini. Saya hanya ingin menulis daftar buku sebanyak lima buah untuk para ambtenaar penjaga keuangan negara. Agar isi rekening yang tiba-tiba lebih banyak dari biasanya, dapat disikapi dengan bijak. Agar dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri, tapi juga negara tercinta ini. Memang sebanyak 60% daftar berisi buku fiksi alias novel. Karena maksud saya agar para pegawai pajak bisa menyegarkan diri di waktu-waktu rehat, tidak melulu tertekan dikejar target Rp 1297 triliun. Biar begitu, tak usahlah Anda meragukan pesan moral dalam masing-masing buku. Dan, yak, sebelum memasuki inti tulisan, saya ingin berkata pada Anda bahwa saya berhasil memasukkan sejumlah data dan angka agar terkesan intelek. Yes! 

Apr 5, 2015

Pilihan Ganda

Aku benci mengatakannya. Tapi kupikir ujian dengan tipe pilihan ganda lebih mudah dihadapi ketimbang soal esai--yang begitu kubenci. Orang-orang yang menemui pilihan, meskipun terlihat membingungkan, akan sejenak mengernyitkan dahi, memilih yang menurut mereka benar, lantas tinggal menunggu pengujian kebenaran jawaban mereka. Kemungkinan terpahit yang bisa ditemui hanyalah satu kata: salah. Dan kesalahan, kautahu, hanyalah satu proses pelajaran yang bisa membuatmu semakin siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa dari Yang Maha Penguji. Kemungkinan tersebut tentu berbeda dengan jenis pertanyaan esai. Banyak orang mengatakan lebih suka menghadapi pertanyaan semacam ini karena di sinilah sekecil-kecilnya perjuangan dihargai. Ongkos lelah, waktu berpikir, dan tinta yang terbuang untuk menulis jawaban akan dinilai dengan selayaknya. Namun tentu tidak semua penguji memiliki kebaikan hati yang seluas samudra. Beberapa di antara mereka hanya mengharapkan kesempurnaan. Argumen yang kauberikan ketika menjawab pertanyaan dari penguji ditimbang begitu telitinya sampai-sampai satu kekeliruan logika kecil membuat semua usahamu bubar seketika. Barangkali malam sebelum ujian kau begadang, dengan tidak lupa menenggak kopi dan berbagai jenis minuman penambah tenaga agar kau tetap terjaga dalam belajar. Barangkali kau habis bertandang ke rumah-rumah kawan-kawanmu yang tentu saja berjauh-jauhan demi meminjam catatan mereka dan bertanya tentang hal-hal kecil yang mungkin bisa menambah persiapanmu. Barangkali, bahkan, kau rela berbaik-baik kepada penguji dari jauh-jauh hari sebelumnya walaupun kau kurang menyukai perlakuannya terhadapmu selama ini demi memperoleh perhatian (dan sedikit belas kasihan) ketika waktu ujian tiba. Tetapi penguji Yang Maha Adil mengetahui bahwa apa yang tertulis di lembar jawabanmulah yang akan menentukan nasibmu. Apakah kaulayak atau tidak untuk lulus. Apakah kau benar-benar mengerti apa yang dia inginkan ataukah tidak. Dan ternyata tidak tetaplah tidak. Kau bukanlah orang yang Dia inginkan untuk berhasil dari ujiannya. Luluh lantak bukanlah kata yang pas untuk menggambarkannya. Kau hanya tidak pantas dan Dia ingin kau mengerti hal yang satu itu.

***

Beberapa tahun yang lalu kau menghadapi ujian dengan tipe pilihan ganda. Aku bukanlah salah satu orang yang kautanyai pendapat tentang bagaimana cara mempersiapkan diri dan menimbang kemungkinan terbaik dari pilihan-pilihan yang bisa saja tampak seragam. Kau telah belajar, memang, tetapi kita semua tahu banyak jebakan di pertanyaan pilihan. Dan begitulah. Kau gagal dan patah. Kaubilang tidak ingin lagi mengikuti ujian sampai persiapanmu betul-betul matang. Kau tak pernah bilang bahwa kau hanya tidak ingin diberi saran dan berbagai bentuk motivasi apapun. Kau ingin terlihat kuat. Kau tidak ingin terlihat terus-terusan dipecundangi oleh nasib oleh orang-orang di sekitarmu. Tingginya egomu (padahal aku sudah mengenal sifatmu yang ini) itulah yang membuatmu mengikuti ujian ulang tanpa memberitahukannya lagi kepadaku. Kau sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan Sang Penguji dan kau berharap nasib kini bisa sedikit menunjukan bagian sifat welas asihnya kepadamu. Aku yang terus gagal karena kepalang sial selalu bertemu dengan ujian esai tentu hanya bisa memandangimu dari belakang. Aku belum sempat mengikuti ujian ulangan ketika kau telah beberapa kali menggunakan kesempatan yang kaupunya. Harapanku untuk bisa duduk bersama denganmu di ruangan ujian yang sama lagi-lagi gagal. Biar begitu, kuharap kau memang benar-benar belajar dari kegagalanmu di masa lalu sehingga kali ini kau tidak harus mengulang lagi. Selalu kudoakan yang terbaik untukmu. Kautahu itu.