Dec 27, 2015

Wisuda

Ketika saya memulai hari pertama ngantor, Prima Sulistya membuatkan saya sebuah notes facebook. Dia bercerita tentang bagaimana kami pertama berkenalan saat SMA, sekelas, dan berteman begitu saja. Dia juga bercerita mengenai bagaimana kami saling menertawai nasib masing-masing. Tentang bagaimana saya yang mulai merintis karir sedangkan dia masih terlunta-lunta sebagai mahasiswa. Notes tersebut bisa dibaca di sini

Sebetulnya, pada medio tersebut Prima sudah bisa lulus kuliah dengan menyandang selempang bertuliskan kata cumlaude di setelan pakaian wisudanya. Namun hal tersebut ditepisnya dengan gagah. Alasannya sederhana. Pada kesempatan tersebut mantannya juga diwisuda. “Anak Ekspresi punya adat buat berkumpul selepas wisuda, bersama senior-senior lain. Masa iya aku rela dipasang-pasangkan dengannya lagi,” ujarnya.

L


Beliyo lebih suka disebut Mak El. Atau "L" saja. Itu yang tersirat dari nama-nama yang dia pakai di berbagai media sosial. Barangkali beliyo mengkhidmati betul kesunyian karena dilupakan, pada era internet ini (di mana nama terangmu bisa demikian abadi bahkan setelah kau meninggal), merupakan kemewahan. Kemungkinan lain, beliyo adalah penggemar death note--tidak mengherankan bila hawa pembunuh menguar dari kehadirannya. Atau tidak menutup kemungkinan pula beliyo adalah golongan yang tersisa dari zaman "anak layangan".

Nov 6, 2015

Berlaku Adil Pada Industri Rokok





Industri rokok, kata Hery, selalu menegaskan diri bahwa sahamnya 100 persen milik lokal. Mereka malah menuding orang-orang yang menentang industri rokok sebagai antek dari perusahaan asing yang mau masuk ke Indonesia. Ironisnya publik malah mempercayai hal ini. "Padahal kita pahami bahwa Sampoerna sudah dikuasai Philip Morris, Gudang Garam dibeli Jepang, Djarum pun dibeli Japan Tobacco," katanya. (dikutip dari berita: Industri Rokok Diklaim Berbohong Soal Jumlah Petani Tembakau)

***

Dalam salah satu wawancara dengan CNN Indonesia, Hery Chaeriansyah selaku perwakilan Koalisi yang menamakan diri Koalisi Rakyat Bersatu Melawan Kebohongan Industri Rokok mengungkapkan ada beberapa kebohongan yang selama ini dilakukan oleh industri rokok di Indonesia. Salah satunya adalah soal nasionalisme. Menurut Hery, Sampoerna sudah dikuasai Philip Morris, Gudang Garam dibeli Jepang, Djarum dibeli Japan Tobacco. Sehingga Hery menuding nasionalisme yang selalu diklaim oleh industri rokok adalah suatu kebohongan besar.

Nov 5, 2015

Kepedulian

Seminggu setelah memulai perkuliahan, saya dan beberapa orang kawan memulai candaan dan kemungkinan untuk maju ke dalam bursa pencalonan presiden mahasiswa STAN. Obrolan-obrolan di warung kopi di sekitaran Jalan Bangka, bilangan Mampang, yang menandai diskusi saya bersama kawan-kawan seangkatan yang barangkali penuh tawa namun tetap berjalan pada fokusnya. Saya tidak benar-benar berambisi menjadi presiden mahasiswa, tetapi saya serius mengenai keinginan masuk ke dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus. Tak disangka, kesempatan itu benar-benar datang. Saya pun memberanikan diri untuk bergabung dalam Pemilihan Raya (Pemira) yang akan menentukan presiden mahasiswa STAN selama setahun ke depan. Bersama Yuris, kawan saya yang masih duduk di bangku DIII spesialisasi Akuntansi, kami berpasangan sebagai capresma dan cawapresma.

Jul 23, 2015

Lebaran

Konon lebaran adalah sebuah perayaan. Saya mengamini sebagian dari pendapat tersebut. Ingatan masa kecil saya akan lebaran adalah tentang takbir yang dihela dengan kencang, dapur yang mengepulkan wangi masakan yang tak pernah tersaji di hari biasa, lampu yang dinyalakan hingga terang-benderang, dan tembok-tembok rumah yang dicat ulang. Selebihnya adalah wajah-wajah yang terlihat begitu riang.

Tetapi ada satu masa ketika saya merasa lebaran berlalu dengan keanehan. Suatu pagi, saat saya dan keluarga bersiap hendak berangkat mengikuti Shalat Ied, seorang tetangga mengetuk pintu belakang rumah, meminta beberapa bunga yang memang ditanam di halaman. Di malam sebelumnya, ketika orang larut dalam keriuhan parade takbir, salah satu anggota keluarga tetangga tersebut meninggal. Mau tidak mau si tetangga melewatkan momen lebaran tahun tersebut karena harus sibuk mengurus pemakaman anggota keluarganya.

Saya lupa kapan tepatnya hal di atas terjadi. Barangkali 10 atau 15 tahun yang lalu, saat saya belum dewasa benar untuk mengerti jalannya hidup. Karena saat melihat tetangga yang meminta bunga tadi, saya masih mengajukan sebuah pertanyaan naif pada diri sendiri: bisakah orang tidak berbahagia di hari lebaran?

May 31, 2015

Ulang Tahun dan Kecemasan


Tanggal 27 Mei kemarin ibu berulang tahun. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya lebih merasa kecemasan ketimbang kegembiraan. Beberapa hari menjelang hari ulang tahun ibu sebetulnya saya sudah merencanakan banyak hal. Kado yang bisa berguna untuk keperluan ibu sehari-hari, ucapan yang barangkali akan diingat dalam waktu cukup lama, dan kue yang akan dititipkan melalui adik di rumah.
 
Semua gagal.
 
Menjelang tanggal 27, ingatan akan bapak datang dan berputar begitu kencangnya. Terutama ingatan di saat bapak meninggal dan saya tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali. Tidak juga melihat pemakamannya. Jarak ribuan kilometer antara tempat saya berada dengan rumah, yang biasanya saya sikapi dengan biasa saja, kali ini terasa menakutkan sekali. Muncul banyak pengandaian yang seharusnya tidak saya pikirkan.
 
Karena itu saya kembali merenungkan rencana-rencana saya sebelumnya. Rencana yang barangkali hanya akan mengingatkan ibu pada kesepiannya selepas bapak meninggal. Apalagi, saya mengenal ibu sebagai sosok yang sangat melankolis. Hingga tanggal 27 hampir berakhir, saya bahkan belum menghubungi ibu sama sekali. Saya bingung bagaimana mengucapkan “selamat” ketika kata tersebut bisa saja mengandung makna yang berbeda bagi penerima.
 
Tetapi sore hari adik mengirimkan pesan kepada saya bahwa dia akan pergi makan berdua bersama ibu. Tanpa kakak dan keluarganya. Tidak ingin menebalkan kesepian yang dirasakan oleh ibu, selepas maghrib saya menelepon dan mengucapkannya.
 
“Selamat ulang tahun ya, bu. Maaf kali ini tak memberikan apa-apa selain doa agar ibu selalu sehat dan berbahagia.”

Apr 16, 2015

Lima Buku yang Sebaiknya Dibaca oleh Pegawai Pajak



Konon, pegawai pajak segera kaya mendadak. Penyebabnya, gaji mereka dinaikkan dua kali lipat dari semula. Lebih fantastisnya, mereka bakal membawa pulang duit bulanan lebih banyak dari menteri yang kedudukannya setingkat di bawah presiden. Reaksi masyarakat tentu saja beragam. Sebagian besar menolak keras dengan alasan yang sudah jelas: memboroskan APBN. Di kalangan internal pegawai sendiri, muncul gejolak karena pemberitaan yang muncul dinilai terlalu berlebihan. Hanya seorang sufi yang berkata bahwa polemik kenaikan penghasilan ini adalah hal yang wagu.

Bukan kapasitas saya urun beropini. Saya hanya ingin menulis daftar buku sebanyak lima buah untuk para ambtenaar penjaga keuangan negara. Agar isi rekening yang tiba-tiba lebih banyak dari biasanya, dapat disikapi dengan bijak. Agar dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri, tapi juga negara tercinta ini. Memang sebanyak 60% daftar berisi buku fiksi alias novel. Karena maksud saya agar para pegawai pajak bisa menyegarkan diri di waktu-waktu rehat, tidak melulu tertekan dikejar target Rp 1297 triliun. Biar begitu, tak usahlah Anda meragukan pesan moral dalam masing-masing buku. Dan, yak, sebelum memasuki inti tulisan, saya ingin berkata pada Anda bahwa saya berhasil memasukkan sejumlah data dan angka agar terkesan intelek. Yes! 

Apr 5, 2015

Pilihan Ganda

Aku benci mengatakannya. Tapi kupikir ujian dengan tipe pilihan ganda lebih mudah dihadapi ketimbang soal esai--yang begitu kubenci. Orang-orang yang menemui pilihan, meskipun terlihat membingungkan, akan sejenak mengernyitkan dahi, memilih yang menurut mereka benar, lantas tinggal menunggu pengujian kebenaran jawaban mereka. Kemungkinan terpahit yang bisa ditemui hanyalah satu kata: salah. Dan kesalahan, kautahu, hanyalah satu proses pelajaran yang bisa membuatmu semakin siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa dari Yang Maha Penguji. Kemungkinan tersebut tentu berbeda dengan jenis pertanyaan esai. Banyak orang mengatakan lebih suka menghadapi pertanyaan semacam ini karena di sinilah sekecil-kecilnya perjuangan dihargai. Ongkos lelah, waktu berpikir, dan tinta yang terbuang untuk menulis jawaban akan dinilai dengan selayaknya. Namun tentu tidak semua penguji memiliki kebaikan hati yang seluas samudra. Beberapa di antara mereka hanya mengharapkan kesempurnaan. Argumen yang kauberikan ketika menjawab pertanyaan dari penguji ditimbang begitu telitinya sampai-sampai satu kekeliruan logika kecil membuat semua usahamu bubar seketika. Barangkali malam sebelum ujian kau begadang, dengan tidak lupa menenggak kopi dan berbagai jenis minuman penambah tenaga agar kau tetap terjaga dalam belajar. Barangkali kau habis bertandang ke rumah-rumah kawan-kawanmu yang tentu saja berjauh-jauhan demi meminjam catatan mereka dan bertanya tentang hal-hal kecil yang mungkin bisa menambah persiapanmu. Barangkali, bahkan, kau rela berbaik-baik kepada penguji dari jauh-jauh hari sebelumnya walaupun kau kurang menyukai perlakuannya terhadapmu selama ini demi memperoleh perhatian (dan sedikit belas kasihan) ketika waktu ujian tiba. Tetapi penguji Yang Maha Adil mengetahui bahwa apa yang tertulis di lembar jawabanmulah yang akan menentukan nasibmu. Apakah kaulayak atau tidak untuk lulus. Apakah kau benar-benar mengerti apa yang dia inginkan ataukah tidak. Dan ternyata tidak tetaplah tidak. Kau bukanlah orang yang Dia inginkan untuk berhasil dari ujiannya. Luluh lantak bukanlah kata yang pas untuk menggambarkannya. Kau hanya tidak pantas dan Dia ingin kau mengerti hal yang satu itu.

***

Beberapa tahun yang lalu kau menghadapi ujian dengan tipe pilihan ganda. Aku bukanlah salah satu orang yang kautanyai pendapat tentang bagaimana cara mempersiapkan diri dan menimbang kemungkinan terbaik dari pilihan-pilihan yang bisa saja tampak seragam. Kau telah belajar, memang, tetapi kita semua tahu banyak jebakan di pertanyaan pilihan. Dan begitulah. Kau gagal dan patah. Kaubilang tidak ingin lagi mengikuti ujian sampai persiapanmu betul-betul matang. Kau tak pernah bilang bahwa kau hanya tidak ingin diberi saran dan berbagai bentuk motivasi apapun. Kau ingin terlihat kuat. Kau tidak ingin terlihat terus-terusan dipecundangi oleh nasib oleh orang-orang di sekitarmu. Tingginya egomu (padahal aku sudah mengenal sifatmu yang ini) itulah yang membuatmu mengikuti ujian ulang tanpa memberitahukannya lagi kepadaku. Kau sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan Sang Penguji dan kau berharap nasib kini bisa sedikit menunjukan bagian sifat welas asihnya kepadamu. Aku yang terus gagal karena kepalang sial selalu bertemu dengan ujian esai tentu hanya bisa memandangimu dari belakang. Aku belum sempat mengikuti ujian ulangan ketika kau telah beberapa kali menggunakan kesempatan yang kaupunya. Harapanku untuk bisa duduk bersama denganmu di ruangan ujian yang sama lagi-lagi gagal. Biar begitu, kuharap kau memang benar-benar belajar dari kegagalanmu di masa lalu sehingga kali ini kau tidak harus mengulang lagi. Selalu kudoakan yang terbaik untukmu. Kautahu itu.

Feb 12, 2015

F untuk Februari

Buatmu yang sedang mulai gemar membaca, kutuliskan satu kutipan yang tertinggal dari masa perang dunia:

Arbeit macht frei.

Bekerja memberikan orang kebebasan. Itu adalah slogan Nazi yang cukup terkenal pada masanya. Juga membikin orang-orang, terutama tahanan Yahudi, bergidik ngeri ketika membacanya.  Bagaimana tidak? Para tahanan melewati berjam-jam, bahkan berhari-hari perjalanan, menggunakan kereta yang penuh sesak—nyaris tanpa oksigen—tanpa diberi makan dan minum hingga tiba di suatu tempat yang jauhnya bahkan tidak pernah diperkirakan oleh siapapun juga. Kalau tahanan menderita sakit yang tak tertolong, dia akan cukup “beruntung” untuk digiring masuk ke kamar gas. Langsung dimatikan tanpa mengalami penderitaan berkepanjangan. Yang celaka justru tahanan yang masih bertahan dan sehat setelah perjalanan keparat tadi. Dia langsung mendapat pembekalan singkat dan diantar untuk memasuki sebuah kamp kerja paksa. Di gerbang, biasanya dia akan membaca slogan itu: Arbeit macht frei. Bekerja memberikan orang kebebasan. Tentu semua orang tahu bahwa propaganda tersebut terlalu buruk untuk sebuah kalimat motivasi. Para tahanan tahu tidak ada harapan bernama kebebasan. Bekerja hingga waktu yang tak terbatas tentu tidak memiliki padanan dengan kata merdeka. Pada masa sang F├╝hrer di puncak kejayaannya, hampir tak mungkin berdoa agar dia tiba-tiba dikalahkan oleh sebuah negara yang berniat menyelamatkan mereka. Jika pun ada kebebasan, itu berarti malaikat maut segera mendatangi mereka.

Jan 14, 2015

Purwokerto yang (Tak Lagi) Sederhana

Beberapa hari yang lalu, banyak kawan membagi tautan sebuah tulisan di Midjournal(1). Isi tulisan tersebut, pada intinya, menjelaskan bahwa Purwokerto merupakan kota yang membahagiakan dengan seluruh kesederhanaannya. Makanan murah, warung kopi yang berlimpah, serta tempat bermain dan berwisata yang menyuguhkan banyak pemandangan indah. Untuk sesaat, saya setuju dengan pokok tulisan tadi. Banyak hal sama yang saya rasakan.

Tetapi permasalahan dimulai dari satu hal. Kebanyakan kawan yang membagi tautan tersebut adalah kawan yang tinggal (atau setidaknya pernah tinggal) di Purwokerto. Tentu ada subjektivitas di sana. Sama seperti ketika saya, yang walaupun bertempat tinggal di Wangon—sebuah kecamatan yang berjarak sekitar 30 KM dari pusat kota, merasakan kenyamanan Purwokerto. Apalagi, sejak SMA saya sudah ngekos di Purwokerto. Dan sekarang saat saya sudah bekerja merantau, saya lebih sering mudik ke Purwokerto ketimbang pulang ke Wangon. Pernyataan bahwa Purwokerto menyediakan berbagai macam hal dengan sederhana menjadi hal yang sangat personal dan cenderung sentimentil. Lebih karena saya jauh dan merasa romantisme kerinduan saya ada di kota ini. Pun karena keluarga dan kawan-kawan yang tersebar di penjuru kota.

Kemudian pertanyaan mengganggu ini terpaksa saya ajukan: benarkah Purwokerto memang kota yang nyaman (dan membahagiakan)? Jika saya adalah pendatang di Purwokerto, akankah saya mengeluarkan jawaban yang sama?

Jan 4, 2015

Pemberian Tahu

Kalau kau kebetulan sedang apes tersesat di blog tanpa tujuan ini, kiranya sudilah untuk mampir ke tempat yang jauh lebih bermanfaat: birokreasi.com. Di sana akan kaudapati tulisan-tulisan, mimpi-mimpi, dan gagasan-gagasan dari orang-orang yang barangkali sadar dirinya telah kalah namun enggan menyerah.

Saya suka menyebutnya Birokreasi. Sebuah wadah yang konon menurut kawan-kawan saya bertujuan luhur lagi mulia, menyemarakkan dunia literasi, khususnya bagi PNS—orang yang selama ini dianggap kuno, terbelakang, cari aman, hingga sekelompok koruptor yang siap menggigiti kumpulan angka di APBN. Di Birokreasi, bila kau adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (sebentar lagi disebut Aparatur Sipil Negara), tulisanmu akan disambut hangat. Jenis apapun tulisanmu, dan seberapapun kau merasa jelek dalam menulis, kirim saja. Pasti akan segera tayang.