Dec 21, 2014

Bapak dan Sepeda Motor



Tanggal 4 Desember 2014, menjelang pukul tiga sore, kakak menelepon. Sesenggukan, dia memintakan maaf untuk bapak, sebelum berkata bahwa bapak meninggal karena kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor. Saya yang sedang menyuntuki komputer di meja kerja hanya bisa bingung untuk sesaat, tertegun dan tidak percaya. Sama sekali tidak percaya.

Untunglah, beberapa saat kemudian saya berhasil menguasai keadaan. Saya menitipkan KTP kepada seorang kawan, meminta dipesankan tiket pesawat keesokan harinya. Saya sendiri meminta izin ke kepala kantor, pulang ke kosan, memesan travel dan memberesi pakaian seperlunya untuk dibawa. Saat itu saya bahkan tidak sempat merayakan kesedihan dengan menangis sepuasnya. Membayangkan lamanya perjalanan darat dari Bangko ke Jambi, dilanjut pesawat menuju Jogja yang transit dahulu di Jakarta, lantas meneruskan perjalanan darat lagi ke Purwokerto membuat saya lelah sebelum berangkat.

Dua puluh empat jam. Saya bergumam sendirian. Dan dua puluh empat jam kemudian, ketika saya turun di depan rumah dan sayup-sayup mendengar banyak orang mengaji, saya baru tersadar. Salah satu orang yang saya sayangi telah meninggal dunia: bapak. Bapak yang sedang rajin-rajinnya beribadah sampai-sampai bapak tak pernah ketinggalan shalat berjamaah. Bapak yang beberapa hari sebelumnya mengirimi saya pesan singkat, meminta dibelikan pemutar DVD agar bapak bisa menyaksikan pengajian-pengajian melalui layar televisi.