Nov 12, 2014

Perdamaian dalam Cangkir Kopi


Seorang kawan—dia seorang Batak—pernah bercerita tentang adat istiadat di tempatnya. Menurutnya, jika ada dua orang lelaki yang sedang bertengkar dan kau ingin mengidentifikasi apakah keduanya masih melanjutkan perselisihan atau sudah berdamai, coba tengok: apakah dua orang tersebut sudah berada di satu meja sembari minum tuak. Kalau jawabannya adalah iya, dapat dipastikan bahwa mereka telah menyudahi semua permasalahan di antara mereka dan bersepakat untuk melupakannya. Yang barangkali perlu kautahu, kata kawan tadi, ucapan maaf tidak begitu diperlukan. Mereka lebih butuh bukti berupa perbuatan, yaitu dengan cara minum tuak bersama. Barangkali kawan tadi menggeneralisasi sebuah keadaan yang tidak semua Batak mengalaminya. Mungkin juga ceritanya bias gender. Tetapi, peristiwa berdamai tanpa sebuah kata maaf sungguh menarik buat saya.

***

Keluarga saya, lebih tepatnya saya dengan kakak dan adik saya yang kebetulan semuanya lelaki, telah tidak sadar menanamkan kebiasaan seperti di atas. Bedanya, kami tidak menggunakan tuak atau minuman beralkohol semacamnya. Adalah kopi yang menjadi media perdamaian di antara saya dengan kedua saudara saya ketika kami sedang bermasalah.

Saya pernah bertengkar hebat dengan adik saya. Saat itu, adik saya sudah berkuliah. Sedang saya magang, kalau bukan dianggap sudah bekerja. Dia ngekos dan saya rutin berkunjung ke kosannya hingga menginap berhari-hari. Akibat pertengkaran itu, adik saya marah bukan kepalang kepada saya. Saya pun tidak kalah berang kepadanya. Ayah dan Ibu yang kemudian mengetahuinya hanya bisa angkat tangan. Mereka berdua memang memberi ultimatum, tetapi tak ada dari saya maupun adik yang mematuhinya. Maklum, kami sama-sama terlanjur besar dan sudah terlalu susah untuk dinasehati. Tetapi tak lama saya merasa lelah. Buat apa memperpanjang perselisihan, apalagi dengan saudara sendiri. Suatu pagi saya menuju ke kosannya. Mengetahui dia masih terlelap, saya menjerang air lalu membuat dua cangkir kopi. Satu untuk adik. Satu untuk saya sendiri. Beberapa saat kemudian adik bangun dan mendapati saya sedang duduk membaca komik, menunggunya untuk ngopi bersama. Selanjutnya, saya dan adik kembali saling bercanda dan berbicara seperti tak ada pertengkaran sebelumnya

Sebelumnya malah lebih parah. Saya pernah perang dingin dengan kakak bertahun-tahun lamanya untuk alasan yang bahkan sudah saya lupakan. Pokoknya saya enggan menyapa kakak karena sebuah masalah yang menurut saya tak terampuni. Jika saya tidak salah ingat pada saat itu saya sudah duduk di bangku SMA. Usia di mana saya sudah terlalu tua untuk menganggap pertengkaran sebagai angin lalu, tetapi masih terlalu goblok untuk menyadari kesalahan sendiri. Kali ini, ayah dan ibu tidak mengetahui bahwa kami masih memendam bara. Mereka tahu, memang, bahwa kami pernah berkelahi demikian kerasnya hingga masing-masing amukan kami sukar dihentikan. Namun tidak adanya perkelahian susulan dianggap sebagai sebuah akhir. Apalagi setiap tahun ketika Idul Fitri selalu ada tradisi saling bermaafan. Rupanya tidak tetap tidak. Saya memiliki kelebihan, sifat yang keras kepala, menyimpan dendam hingga membatu.

Hingga tibalah saat di mana saya ditakdirkan untuk mengadakan rekonsiliasi dengan kakak. Mencukur ego dan melangkah dari masa lalu. 

Setelah lulus kuliah, kakak saya sempat bekerja menjadi buruh di sebuah pabrik di Karawang. Hal tersebut memaksa dia untuk tinggal di kota itu dan tidak pulang hingga beberapa waktu lamanya. Suatu hari saya mengantar ke stasiun kereta api seorang kawan yang akan pergi ke Yogyakarta. Kebetulan, kereta api yang memulai perjalanannya dari Jakarta itu mengangkut kakak saya. Dia turun dari kereta api, mengedarkan mata, hingga akhirnya pandangan kami bertemu pada satu titik. Momen saling diam pun tak terhindarkan. Kikuk tak tahu apa yang harus dilakukan. Untunglah kakak segera tahu cara menguasai keadaan. Dia menyapa saya, meski pada awalnya dengan sedikit dingin. Berbasa-basi sebentar. Setelahnya, sebuah warung kopi menjadi saksi bagaimana dua orang saudara yang bertahun-tahun tak saling sapa larut dalam percakapan yang tiada akhirnya

Kini ngopi bersama menjadi adat kami bertiga. Setiap kali saya mudik saya mengajak kakak dan adik pergi ke warung manapun yang menyediakan kopi. Entah itu angkringan, kafe, atau rumah makan. Kakak saya yang sekarang sudah memiliki anak istri pun selalu memiliki alasan untuk pulang kantor terlambat apabila saya sedang mudik: ngopi. Walaupun tentu saja kali ini tidak didahului dengan perselisihan sekecil apapun.

***

Untuk sebab yang sentimentil, ngopi bersama dengan kakak dan adik membuat saya selalu teringat wajah haru ibu saya. Tiga bersaudara yang dulu hampir setiap saat bertengkar, selalu menyusahkan orang tua, sekarang dekat sekali seperti tanpa sekat. Seperti teman sepermainan sebaya, hingga kini kami masih sering bepergian bersama—bertiga saja. Bahkan, kali terakhir saya mudik dan ngopi bersama kakak dan adik, ibu saya mengirimkan pesan singkat ke ponsel adik, meminta kami berdiskusi, membantu menemukan solusi atas permasalahan yang sedang beliau alami.

Ah... Rupanya secepat itu ya, Bu?




*post scriptum: tulisan ini bisa dibaca juga di situs minumkopi.com

2 comments: