Nov 12, 2014

Perdamaian dalam Cangkir Kopi


Seorang kawan—dia seorang Batak—pernah bercerita tentang adat istiadat di tempatnya. Menurutnya, jika ada dua orang lelaki yang sedang bertengkar dan kau ingin mengidentifikasi apakah keduanya masih melanjutkan perselisihan atau sudah berdamai, coba tengok: apakah dua orang tersebut sudah berada di satu meja sembari minum tuak. Kalau jawabannya adalah iya, dapat dipastikan bahwa mereka telah menyudahi semua permasalahan di antara mereka dan bersepakat untuk melupakannya. Yang barangkali perlu kautahu, kata kawan tadi, ucapan maaf tidak begitu diperlukan. Mereka lebih butuh bukti berupa perbuatan, yaitu dengan cara minum tuak bersama. Barangkali kawan tadi menggeneralisasi sebuah keadaan yang tidak semua Batak mengalaminya. Mungkin juga ceritanya bias gender. Tetapi, peristiwa berdamai tanpa sebuah kata maaf sungguh menarik buat saya.