Oct 10, 2014

Semesta Rindu

Aku tidak merindukan kamu. Tetapi selalu ada ruang yang kosong ketika aku tiba-tiba teringat kepadamu. Selalu ada saat di mana aku terbangun dengan badan basah oleh keringat, dada yang tiba-tiba menjadi sesak dengan nafas tak teratur, serta pandangan kosong untuk sesaat setelah menyadari bahwa aku baru saja memimpikanmu. Selalu ada malam ketika aku ingin menuliskan berjuta kabar yang telah lama tak kubagikan kepadamu, tetapi buntu.

Ada jarak yang belum memiliki satuan tepat di antara kita. Jarak yang kian memuai seperti semesta raya berkembang dan menjauh setelah pada suatu masa pernah bersama. Planet-planet yang dahulu terlalu berdekatan hingga tampak saling menyatu perlahan-lahan meninggalkan posisinya karena sebuah ledakan besar. Sebuah ledakan yang ternyata cukup untuk bisa membuat segalanya tidak lagi sama. Aku masih di sini, tentu saja. Masih memelihara ego dan merasa bahwa akulah pusat dari semestamu. Masih tidak sadar kau sudah jauh mengambil langkah tegasmu untuk tidak lagi menanggapi semua ucapanku.

Bahkan dalam ramai yang paling riuh sekalipun sesekali kamu hadir. Mencipta lubang hitam yang begitu besar dan mengerikan, menyedot sebagian dari diriku tanpa sinyal kemungkinan untuk kembali. Mengajakku kembali pada masa ketika aku masih bisa berbincang akrab denganmu. Hal-hal remeh seperti kamu yang merencanakan liburan setelah penat oleh hari-hari penuh tekanan pekerjaan. Lembur dan keteledoran yang menyebabkan kamu marah kepada dirimu sendiri. Atau sayuran yang enggan kamu makan karena tidak cocok dengan selera lidahmu. Beberapa klise seringkali membuat bosan. Pertanyaan-pertanyaan kapan makan, sedang apa, hingga sapaan selamat pagi yang jauh lebih tepat waktu daripada jam berangkat kerjamu. Tetapi pada sebuah jeda sangat aku inginkan kehadirannya. Seperti rima yang selalu berulang pada sajak. Semua orang telah mengetahui teorinya dan berhasil dibuat jenuh olehnya. Tetapi, tanpanya, sebuah sajak hanyalah menjadi barisan kata-kata miskin keindahan.

Aku tidak akan mengatakan aku rindu kamu. Setidaknya, hingga surut banjir hujan amarahmu. Hingga nanti aku bisa memegang tanganmu, menggenggamnya dengan sisa-sisa kelembutan yang kuharap masih ada, dan meminta maaf karena pernah sangat menyakitimu.

5 comments:

  1. Sudala git, ingatlah bahwa kamu harus bisa mufon. Biar ganteng



    walau terdengar mustahil.

    ReplyDelete
  2. Jika patah hati bisa jadi inspirasi, maka itu baik juga :)

    Terusno bro,sak kuatmu:)

    Cahyabagusm

    ReplyDelete