Sep 21, 2014

Memilih Buku

Bagaimana cara memilih buku?

Beberapa kali pertanyaan tersebut saya ajukan kepada diri sendiri, terutama ketika sedang berada di toko buku. Memilih buku akan menjadi salah satu kegiatan yang paling sulit. Keraguan dan ketakutan memilih buku yang salah dan tidak sesuai selera menjadi bahan pertimbangan yang berat. Meskipun sesungguhnya alasan utama munculnya pertanyaan tadi adalah karena pilihan buku yang menunggu untuk dibeli begitu banyak, begitu menggoda serta terlihat menarik, namun alokasi dana untuk membeli buku demikian kecil. Hal yang terlihat kemudian adalah saya berputar-putar mengelilingi toko buku dan memasang wajah seperti orang kebingungan.

Pertanyaan tersebut muncul sebab kenyataan menunjukkan bahwa memilih buku seringkali menjadi tindakan membeli kucing dalam karung, baik membeli langsung, apalagi melalui toko buku daring. Memang terkadang saya dapat melihat contoh buku yang sengaja dibuka untuk dijadikan referensi pembeli. Tetapi kebanyakan toko buku membiarkan buku-bukunya dalam keadaan masih disegel plastik. Saya tidak diperbolehkan melongok isinya sama sekali, kecuali membaca blurb di bagian belakang buku yang sebetulnya hanyalah media promosi--yang tidak selalu mencerminkan isi buku secara keseluruhan.

Membuka situsweb seperti goodreads bisa menjadi pilihan untuk beberapa kasus. Saya bilang beberapa karena dalam kasus tertentu, kau mungkin saja tidak percaya kepada orang-orang yang memberikan penilaiannya terhadap sebuah buku di situsweb macam ini. Sebuah buku populer yang menurutmu berkualitas biasa saja bisa jadi memiliki nilai yang bagus. Dari sini kautahu bahkan untuk hal seperti ini, semua kembali kepada selera pasar. Sesuatu yang disukai banyak orang belum tentu berkualitas bagus, walau biasanya sesuatu yang berkualitas bagus lebih disukai daripada yang tidak.

Alternatif lain yang dapat kaulakukan adalah membaca resensi kawan-kawan yang kau percayai memiliki kompetensi untuk menilai sebuah buku, atau sekalian meminta saran dari mereka mana buku yang sebaiknya kaubeli dan punyai. Akan tetapi, baik membuka goodreads maupun membaca resensi dari kawan sama-sama membutuhkan waktu. Kau mesti menunggu beberapa saat hingga buku tersebut terbit cukup lama untuk dibaca dan dibikinkan resensinya. Kalau kau biasa mendengarkan saran dari kawan, waktu yang kaubutuhkan buat menunggu jadi lebih lama. Kawanmu tentu mempunyai berbagai kesibukan dan tidak selalu memiliki waktu untuk melakukan hal-hal begini.

Dalam hal kau kebelet sekali membeli buku yang baru terbit tapi kauragu apakah isi bukunya cocok denganmu, maka yang harus kaulakukan hanyalah membelinya. Ini berarti waktumu untuk membalas jasa kawan-kawanmu--membikin resensi dan membagikan hasil bacaanmu kepada mereka. Jika ada beberapa pilihan yang menanti hendak kaubeli, kaubisa membelinya bergantian. Belilah salah satu tanpa banyak berpikir, kemudian tunggulah rezekimu turun lagi untuk membeli pilihan sisanya. Jika kau betul-betul hanya bisa memilih salah satu, artinya kau harus berjudi. Ikutilah instingmu sendiri. Raba buku yang akan kaupilih. Bayangkan huruf demi huruf, kata demi kata, yang mungkin kaujumpai di sana. Cium bau pengetahuan yang menguar di udara. Lantas ingatlah hal ini: tidak ada buku yang betul-betul buruk hingga bisa membuang-buang waktumu dengan percuma. Yang buruk, kautahu, adalah sifat malasmu untuk membaca.

5 comments:

  1. "Yang buruk, kautahu, adalah sifat malasmu untuk membaca"

    penutup yang keren sekaligus jleb sekali. :)
    Akhirnya punya domain sendiri. #turutsenang

    ReplyDelete
  2. Lantas ingatlah hal ini: tidak ada buku yang betul-betul buruk hingga bisa membuang-buang waktumu dengan percuma. Yang buruk, kautahu, adalah sifat malasmu untuk membaca.

    Oke, ini makjleb banget. Eh tapi, saya pernah baca buku yang, duh, menurut saya sampah banget. Gimana dong? :D

    By the way, sudah pakai domain sendiri ya? Selamat! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai detik ini, saya percaya omongan Cervantes bahwa tidak ada buku yang betul-betul jelek, sampai-sampai tidak ada bagusnya sama sekali. Yah, walaupun terkadang beberapa memang terlihat busuk dan membuat kita menyesal membelinya. Menurut saya itu karena buku itu terbit dengan tergesa sehingga kurang persiapan--baik kurang riset maupun kurang disunting.

      Iyes. Sesekali berlagak pro, haha. Terima kasih!

      Delete
  3. biasanya aku pergi ke toko buku dengan membawa list beberapa buku, namun yang benar-benar aku beli sebenernya cuma satu buku aja. nah ini nih yang bikin dilema mana yang mesti dibawa pulang. padahal cuma beli satu buku, tapi mikirnya lama banget, dan belum tentu isinya nanti sesuai dengan apa yang kita pengen. terkadang, kita harus tau mana yang mungkin lebih buruk dulu untuk memperolah yang mungkin lebih baik, haha. iya, kalo kantong masih tebel...

    ReplyDelete