Sep 13, 2014

Galih Rakasiwi: Ucapan Selamat dan, Katakanlah, Sebuah Tantangan

Galih Rakasiwi merupakan salah seorang yang memiliki momentum terbanyak dalam linimasa kehidupan saya di kampus, di Bintaro. Saya mengenalnya pada awal kuliah karena kami satu kelas pada tingkat satu. Kemudian saya menyadari bahwa kami memiliki banyak kesukaan di bidang yang sama. Musik, membaca, olahraga, dan satu hobi yang baru kami temukan bersama pada akhir masa kuliah: menulis. Demi memenuhi hasrat yang terakhir, saya dan dia merelakan waktu-waktu untuk menyambangi warnet, bersepakat membikin blog masing-masing. Sebuah langkah awal yang di kemudian hari menjadi ide menghimpun kawan-kawan di birokreasi.

Galih adalah sosok yang tidak selalu saya jumpai karena dia masih sering pulang ke rumahnya yang tidak jauh-jauh amat di Jakarta Timur. Namun hampir bisa dipastikan dia bersedia ketika saya mengajaknya pergi menghindar dari pandangan gedung kampus yang membosankan. Entah dari sekadar melepas penat di warung kopi maupun berbelanja sepatu bajakan di Taman Puring dan pakaian yang aduhai di Mal Blok M. Sering pula saya hanya parkir di kosnya, meminjam koleksi majalah yang rutin dia beli serta tidak lupa membikin berantakan kamarnya yang demikian rapi bak milik perempuan.

Galih juga orang yang bisa diandalkan. Setelah lulus, dia ditempatkan di Mataram, di pulau Lombok yang bertaburkan pantai nan eksotis. Suatu hari saya meniatkan diri piknik ke pulau tersebut. Berkat bantuan Galih saya tak begitu kesulitan—bahkan merasa sangat mudah—menjelajah hingga ke tempat-tempat yang barangkali tidak saya ketahui jika hanya bermodal buku panduan wisata. Lebih istimewa lagi, sewaktu saya hendak pulang dia berkenan mengantarkan saya ke bandara di pagi buta dengan motor kesayangannya. Hal yang membuat ingatan saya mundur ke masa beberapa bulan sebelumnya. Ketika saya dan Galih sedang sama-sama berada di Jakarta. Saat itu dia juga mengantarkan saya ke suatu tempat, dengan sepeda motor juga, menembus Jakarta yang sebagian jalannya lumpuh dan tak bisa diakses karena tengah dilanda banjir besar. Itu belum ditambah fakta bahwa saya tidak mengenakan helm sehingga kami harus mencuri-curi dan mencari-cari jalan yang sekiranya tidak ditemukan oleh polisi lalu lintas.
Saya (memegang kaus) bersama Galih (ketiga dari kiri), pada suatu ketika.
(foto diambil dari Facebook Arswendy Danardhito)
***
Hari ini, tanggal 13 September, Galih berulang tahun. Saya pikir hanya tulisan pendek yang disertai ucapan selamat tentu tak bisa membayar semua kerepotan yang diakibatkan oleh saya selama bertahun-tahun. Karena itu, tahun lalu saya mengiriminya novel Murakami yang berjudul Kafka on the Shore. Katanya dia sudah lama menginginkannya. Maka tanpa pikir panjang saya memesan di sebuah toko buku langganan sebagai kado untuknya. Tentu dengan doa tambahan. Semoga dia berkenan menuliskan resensi buku tersebut –hal yang sampai detik ini belum kunjung ditunaikannya.

Satu fakta menyedihkan lantas saya dapatkan: Galih sedang melaksanakan ritual tapa brata. Dia menghilang, enggan menulis hingga waktu yang belum ditentukannya. Ajakan untuk menulis duet dengan tema yang sama pun ditolaknya. Menurut pengakuan Galih, dia masih kurang membaca sehingga tulisannya serupa itik buruk rupa. Padahal anak ruhaninya adalah seekor angsa. Sesuatu yang sangat indah bagaikan karya sastra. Tentu tidak heran mengingat selera bacaannya yang bagus. Sehingga tulisannya penuh metafora. Hal yang membuat saya iri tak terhingga.

Maka tahun ini saya kapok. Tahun ini saya tak hendak memberinya kado, apalagi buku, meskipun saya yakin kalau saya memberinya buku, dia akan membacanya dengan segera. Maka kali ini saya hanya membuat postingan sederhana ini, ucapan selamat ulang tahun yang dibarengi oleh doa, harapan, atau tantangan agar Galih secepatnya kembali mengisi blognya dengan tulisan-tulisan istimewa miliknya, terutama resensi buku yang sudah dia janjikan sejak tepat setahun yang lalu.

Semoga Galih segera sadar bahwa saya sudah lelah mencari kutipan terbaik dari orang-orang hebat hanya untuk memaksa dia kembali menekan-nekan papan keyboardnya.

0 comments:

Post a Comment