Sep 3, 2014

Bertemu dengan Pak Slamet

Tempo hari, tepatnya tanggal 24 Agustus 2014, Bandung sedang asyik-asyiknya. Meskipun pada siang hari macet seperti layaknya kota-kota lain di Indonesia yang sarat keputusasaan (ini membuat saya sempat memaki-maki karena waktu saya yang hanya dua hari di situ makin berkurang), malamnya dingin dan memunculkan semangat beranjangsana. Karena alasan itulah, saya menghubungi  seseorang dan meminta izin berkunjung ke kediamannya.

Orang tersebut adalah Slamet Rianto. Beliau adalah seorang pejabat eselon IV di Direktorat Jenderal Pajak yang kebetulan sedang menikmati kantor barunya di Bandung (hehehe ampun pak!). Tetapi mengingat pertemuan pertama kami waktu itu (sebelumnya saya hanya berkomunikasi dengan beliau di media sosial), beliau lebih terasa sebagai kawan akrab yang menyenangkan ketimbang atasan yang seringkali menyebalkan. Usianya yang cukup matang untuk tidak dibilang sepuh tersamarkan oleh humor-humor yang menunjukkan bahwa beliau masih berjiwa muda.

Sekitar pukul 20.00, saya menuju ke rumah dinas yang beliau tempati diantar oleh seorang kawan bernama Kukuh. Kebetulan dia yang kini berdomisili di Bengkalis, Riau, juga sedang pulang ke rumahnya di Bandung. Setelah ditunjukkan oleh pak Slamet posisi rumah dinasnya, segera kami meluncur menembus dinginnya udara Kota Kembang. Tiba di daerah dekat rumah, kami kebingungan mencari lokasi tepatnya. Dengan sedikit gemas, pak Slamet akhirnya berjalan kaki ke pinggir jalan sembari menelepon saya agar lebih mudah menemukan beliau.

Kemudian saya dan Kukuh mengekor beliau memasuki halaman rumahnya yang asri. Setelah memasuki beberapa bab percakapan, barulah saya tahu bahwa beliau sendirilah yang membabat rumput-rumput liar yang tumbuh begitu suburnya ketika memutuskan untuk menempati rumah tersebut. Sebelum beliau datang, rumah telah kosong selama hampir satu tahun sehingga bisa dibayangkan betapa berantakan kondisinya. Saya agak terkejut mengingat status beliau yang bisa dengan mudah membayar orang untuk sekadar memotong rumput dan merapikannya. Apalagi saat itu keluarga masih di Jakarta—tempat dinas beliau sebelumnya—dan belum ikut pindahan ke Bandung.

Baru beberapa menit duduk, saya ditawari ingin minum apa, yang kemudian tanpa rasa malu saya jawab: kopi. Ketebalan muka saya bertambah ketika saya menyadari bahwa rokok saya habis dan akhirnya meminta barang satu-dua batang kepada pak Slamet. Tetapi barangkali inilah yang membuat saya merasa cepat akrab dengan beliau, meskipun entah beliau merasakan hal yang sama atau tidak. Beliau dengan entengnya meruntuhkan dinding bernama jarak dan menganggap saya yang masih bau kencur ini sebagai kawan bicara yang sejajar. Untuk sejenak saya lupa bahwa beliau merupakan birokrat yang selama ini mempunyai kesan kaku dan tidak terbiasa dengan dialog.

Saya masih ingat topik-topik obrolan pada malam itu. Beliau memberi saya banyak sekali wejangan tentang berbagai hal. Mulai dari teknik mengatur pengeluaran bulanan, menabung sekaligus merencanakan keuangan di masa depan, detail kecil yang sebaiknya diperhatikan ketika bertemu orang, hingga cara berkomunikasi dengan anak yang berbeda-beda sifat dan kelakuannya. Gosip-gosip dan berita-berita yang sedang beredar pun tak luput kami diskusikan. Setelah saya catat petuah-petuah pak Slamet dan membaca kembali catatan itu, saya berujung pada simpulan bahwa beliau ahli di bidang ekonomi, komunikasi, manajemen, sampai filsafat. Itu belum ditambah beberapa hal lain yang lupa saya catat. Luar biasa, ya? Memang.

Menjelang pukul 00.00, saya pamit undur diri. Selain karena menghindar dari sebutan tidak tahu diri dengan bertamu tak kenal waktu, saya juga harus segera menuju ke Jakarta mengejar jadwal penerbangan keesokan paginya. Bagi saya, waktu sowan selama kurang lebih 4 jam tadi jelas sangat kurang. Apalagi, jarang saya mengenal seseorang yang lebih memilih meluangkan waktunya yang berharga untuk menemani tamu yang tidak dikenalnya hingga larut malam daripada bergelung di dalam selimut, berlindung dari dinginnya udara Bandung bersama istri tercinta.

Mungkin ini akan terdengar sangat menjilat. Namun jika saya diberi kesempatan, besar keinginan saya untuk bertemu kembali dengan pak Slamet Rianto. Menggali lagi ilmu-ilmu dari beliau. Sebab kebijaksanaan, seperti yang diutarakan oleh Anton Chekhov, tidak melulu datang dari bertambahnya usia. Tetapi juga dari pendidikan dan pembelajaran. Termasuk belajar dari pengalaman orang lain. Dalam hal ini, semoga saya bisa belajar banyak dan mencuri sedikit kebijaksanaan yang dimiliki oleh pak Slamet.

2 comments:

  1. Ah, saya tahu rasanya ngobrol-ngobrol dengan seseorang yang wawasannya begitu luas. Sangat menyenangkan dan bisa membuat lupa waktu. Pernah dari ngobrol-ngobrol itu baru selesai pukul setengah 2 pagi! Dan saya masih selalu merasa kurang ngobrolnya dengan beliau. Hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah. Betul sekali!
      Rasanya kita sedang menghadiri kuliah minus kebosanannya.

      Delete