Sep 28, 2014

Ulasan Kawan

gambar diambil dari blog Palupi

Dua kawan baik saya, Andreas Rossi dan Palupi Sunarwati, memberikan komentar mereka atas buku saya, Tentang Cerita yang Belum Kuceritakan Padamu. Sebagai catatan, ini adalah buku terbatas yang tidak saya edarkan kecuali kepada beberapa kawan dekat. Dan karena saya tidak bisa membagikan buku tersebut, ada baiknya kau membaca ulasan mereka di bawah ini:

***

Jika dan hanya jika kau bertanya mengapa saya mengepos ulasan dari Andre dan Palupi di blog sedang saya tidak menjual maupun membagikannya, ini adalah jawaban saya: postingan kali ini dimaksudkan sebagai arsip buat saya sendiri. Toh saya sadar betul pengunjung blog ini tidak seberapa. Tabik.

Sep 21, 2014

Memilih Buku

Bagaimana cara memilih buku?

Beberapa kali pertanyaan tersebut saya ajukan kepada diri sendiri, terutama ketika sedang berada di toko buku. Memilih buku akan menjadi salah satu kegiatan yang paling sulit. Keraguan dan ketakutan memilih buku yang salah dan tidak sesuai selera menjadi bahan pertimbangan yang berat. Meskipun sesungguhnya alasan utama munculnya pertanyaan tadi adalah karena pilihan buku yang menunggu untuk dibeli begitu banyak, begitu menggoda serta terlihat menarik, namun alokasi dana untuk membeli buku demikian kecil. Hal yang terlihat kemudian adalah saya berputar-putar mengelilingi toko buku dan memasang wajah seperti orang kebingungan.

Pertanyaan tersebut muncul sebab kenyataan menunjukkan bahwa memilih buku seringkali menjadi tindakan membeli kucing dalam karung, baik membeli langsung, apalagi melalui toko buku daring. Memang terkadang saya dapat melihat contoh buku yang sengaja dibuka untuk dijadikan referensi pembeli. Tetapi kebanyakan toko buku membiarkan buku-bukunya dalam keadaan masih disegel plastik. Saya tidak diperbolehkan melongok isinya sama sekali, kecuali membaca blurb di bagian belakang buku yang sebetulnya hanyalah media promosi--yang tidak selalu mencerminkan isi buku secara keseluruhan.

Sep 18, 2014

Urgensi Naik Gunung di Hari Kemerdekaan

Banyak cara untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh di bulan Agustus. Kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta, sibuk bersolek. Upacara dipersiapkan dengan matang. Parade baris-berbaris pun dilaksanakan dengan meriah. Selain peringatan macam demikian, banyak pula yang memilih prosesi yang lebih hebat—mengibarkan bendera Merah Putih di dasar laut maupun di puncak gunung, misalnya. Dibilang “banyak”, karena sejak beberapa tahun terakhir, peringatan hari kemerdekaan dengan cara demikian seolah menjadi hal yang biasa. Terutama dengan bantuan teknologi yang semakin mempermudah manusia hari-hari ini.

Mendaki gunung memang menyenangkan. Ada kebanggaan tersendiri ketika kita bisa berada di tempat yang jauh lebih tinggi daripada tanah yang biasanya kita injak. Sebuah novel (yang kemudian difilmkan) mengenai lima sekawan yang akhirnya berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di Jawa dan merayakan sakralitas upacara bendera di sana semakin menguatkan hal tersebut. Lantas orang pun ramai-ramai mengikuti jalan tersebut. Mereka lupa setidaknya dua hal. Yang pertama, lima sekawan di dalam novel tadi, meskipun dibilang terinspirasi dari kisah nyata, tetaplah manusia-manusia fiksi. Banyak hal terpaksa dipoles agar cerita terlihat lebih menarik. Dan yang kedua, meskipun tampak mudah, alam selalu memiliki bahayanya sendiri.

Sep 13, 2014

Galih Rakasiwi: Ucapan Selamat dan, Katakanlah, Sebuah Tantangan

Galih Rakasiwi merupakan salah seorang yang memiliki momentum terbanyak dalam linimasa kehidupan saya di kampus, di Bintaro. Saya mengenalnya pada awal kuliah karena kami satu kelas pada tingkat satu. Kemudian saya menyadari bahwa kami memiliki banyak kesukaan di bidang yang sama. Musik, membaca, olahraga, dan satu hobi yang baru kami temukan bersama pada akhir masa kuliah: menulis. Demi memenuhi hasrat yang terakhir, saya dan dia merelakan waktu-waktu untuk menyambangi warnet, bersepakat membikin blog masing-masing. Sebuah langkah awal yang di kemudian hari menjadi ide menghimpun kawan-kawan di birokreasi.

Galih adalah sosok yang tidak selalu saya jumpai karena dia masih sering pulang ke rumahnya yang tidak jauh-jauh amat di Jakarta Timur. Namun hampir bisa dipastikan dia bersedia ketika saya mengajaknya pergi menghindar dari pandangan gedung kampus yang membosankan. Entah dari sekadar melepas penat di warung kopi maupun berbelanja sepatu bajakan di Taman Puring dan pakaian yang aduhai di Mal Blok M. Sering pula saya hanya parkir di kosnya, meminjam koleksi majalah yang rutin dia beli serta tidak lupa membikin berantakan kamarnya yang demikian rapi bak milik perempuan.

Sep 3, 2014

Bertemu dengan Pak Slamet

Tempo hari, tepatnya tanggal 24 Agustus 2014, Bandung sedang asyik-asyiknya. Meskipun pada siang hari macet seperti layaknya kota-kota lain di Indonesia yang sarat keputusasaan (ini membuat saya sempat memaki-maki karena waktu saya yang hanya dua hari di situ makin berkurang), malamnya dingin dan memunculkan semangat beranjangsana. Karena alasan itulah, saya menghubungi  seseorang dan meminta izin berkunjung ke kediamannya.

Orang tersebut adalah Slamet Rianto. Beliau adalah seorang pejabat eselon IV di Direktorat Jenderal Pajak yang kebetulan sedang menikmati kantor barunya di Bandung (hehehe ampun pak!). Tetapi mengingat pertemuan pertama kami waktu itu (sebelumnya saya hanya berkomunikasi dengan beliau di media sosial), beliau lebih terasa sebagai kawan akrab yang menyenangkan ketimbang atasan yang seringkali menyebalkan. Usianya yang cukup matang untuk tidak dibilang sepuh tersamarkan oleh humor-humor yang menunjukkan bahwa beliau masih berjiwa muda.