Aug 13, 2014

Macan yang Berpengaruh

Ada yang salah, setidaknya menurut pandangan saya, ketika Kompas merilis daftar travel blogger yang berisikan 17 orang pejalan berpengaruh dari Indonesia (bisa dibaca di sini). Postingan yang merujuk pada situs ziliun.com dan ditujukan untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ini menimbulkan dua kekecewaan. Yang pertama adalah direndahkannya level penulis perjalanan kawakan Ayos Purwoadji dengan menempatkan dia di nomor buncit daftar tersebut. Barangkali penyebabnya adalah rehatnya blog hifatlobrain.net yang dikelola oleh Ayos. Jika saja Penulis artikel jeli dan mau berpikir sedikit lebih lama, tentu dia akan tahu bahwa Ayos sedang melakukan riset dan membuat konsep baru yang akan jauh lebih bermanfaat bagi pejalan di tanah air. Yang kedua, dan ini mengesalkan, adalah tidak dimasukannya satu nama yang lagi-lagi sedang rehat dari penulisan catatan perjalanan, tetapi tentu saja telah melegenda: Aunurrahman Wibisono.

Alone Longway from Home
Aunurrahman Wibisono lebih dikenal dengan sebutan Nuran. Dalam dunia pejalan Indonesia, terutama para senior yang tidak sekadar mengikuti tren masa kini, nama Nuran jelas jauh lebih besar dari para blogger yang hanya sedikit melakukan perjalanan, lantas mencari sensasi dengan menyebar tautan catatannya yang tak seberapa bermanfaat itu di grup-grup di media sosial. Dia, suatu ketika, pernah melakukan beberapa perjalanan legendaris (bersama Ayos pula) ke daerah timur Indonesia. Untuk digarisbawahi, mereka melakukan perjalanan dengan sebuah motor melintasi medan berat yang waktu itu belum penuh dengan hingar-bingar para pejalan. Nuran kemudian mencatat perjalanan tersebut dan mengabadikannya ke dalam buku-buku berjudul Alone Longway from Home, Tour De Laweyan, serta When Will You Come Home. Itu belum ditambah buku-buku lain yang barangkali tidak saya tahu. Menariknya, buku-buku tersebut dibagikan begitu saja tanpa perlu mencari perhatian dan uang dari tangan penerbit. Hal itu bisa dimengerti saat mencermati prinsip hidup Nuran yang dia ejawantahkan ke dalam moto blognya “Foi Fun: Segala Tentang Cara Bersenang-Senang”. Karena perjalanan, menurut Nuran, adalah salah satu cara bersenang-senang yang tidak membutuhkan hiperbolisme.

Tetapi jika ada orang menyanggah bahwa yang Nuran telah lahirkan adalah buku, sedang yang dibahas oleh artikel Kompas di atas adalah travel blogger, maka orang tersebut sungguh perlu membuka blog Nuran di nuranwibisono.blogspot.com. Memang tak seluruhnya tentang perjalanan. Namun hal itu menurut saya tidak serta-merta mengurangi kharisma seorang Nuran di mata para pejalan. Banyak pengakuan bernada positif setelah orang-orang membaca catatan perjalanan di blog Nuran. Terutama karena kerendahan hati yang ditawarkan dalam setiap tulisannya. Walau beberapa tulisan adalah catatan how to yang oleh beberapa pejalan dibenci karena berbagai alasan, tetap saja Nuran tidak menawarkan janji surga kosong dari destinasi tempat yang dia kunjungi. Dia, selaku akademisi yang lahir dari rahim perdebatan intelektual kampus, tentu tahu efek-efek negatif dari eksploitasi berlebihan tempat wisata. Dan yang menarik, dia seringkali membawa para pembaca terhanyut oleh apa yang dia rasakan sewaktu mengunjungi suatu tempat. Terutama ketika dia berkunjung dengan membawa cerita patah hati dan melankolia.

Pertanyaannya kemudian: adakah travel blogger yang sekompleks Nuran dalam daftar bikinan Kompas? Saya pikir tidak. Masing-masing penulis membawa labelnya masing-masing sehingga mereka tersekat dan kesulitan untuk mencari ruang mereka sendiri. Gembel traveler, seleb traveler, video traveler, photography traveler, atau label yang lainnya—kau sebut sajalah. Nuran adalah sosok yang melampaui itu semua. Baginya, label adalah omong kosong yang harus ditinggalkan ketika seseorang traveling. Segala keruwetan hanya akan mengurangi kenikmatan sebuah perjalanan.

Jika setelah penjelasan saya masih ada yang ngeyel bertanya apakah seseorang yang terlanjur rehat dari dunia perjalanan dan tidak lagi menulis catatan perjalanan setelah sekian lama memiliki pengaruh bagi pejalan lain, izinkan saya mengutip ucapan dari Tekno Bolang (Lostpacker)—yang blognya masuk ke dalam daftar—tentang Aunurrahman Wibisono:
“Jujur, aku baru beberapa tahun menjadi pejalan. Aku mulai berniat melakukan perjalanan karena begitu terinspirasi dari Nuran (juga Ayos), terutama setelah membaca e-book mereka, Alone Longway from Home.”

Nah, kan. Macan, walaupun sedang tidur, tetaplah macan!

3 comments:

  1. koreksi pakde, bukan beberapa tahun menjadi pejalan tapi menulis perjalanan, klo tukang ngelayap dah dari orok dah lintas sumatra diajak simbok ha ha

    ReplyDelete