Jun 10, 2014

Masih Ingin Bertambah Tua, Ndre?

Sebelum mengawali surat yang kutujukan kepadamu ini, Andreas Rossi, aku harus jujur mengenai satu hal. Aku ingin menertawai dirimu. Maafkan jika aku nampak kurang sopan karena berkata seperti itu. Seperti orang yang tidak pernah berkaca sebelum mencela orang lain, memang. Tetapi begitulah adanya. Sebetulnya aku hendak menertawai masing-masing dari kita. Menertawaimu, juga menertawai diri. Karena barangkali hal serius yang susah dilakukan oleh manusia adalah menertawai nasibnya sendiri yang seringkali lebih komikal dari cerita fiksi macam apapun juga.

Tentu kautahu kalau aku memiliki alasan untuk menuliskan hal remeh seperti di atas sebagai pembuka. Meski tak sepintar dirimu, aku selalu mencoba untuk berpikir terlebih dahulu ketika ingin melakukan sesuatu. Begitu pun kali ini. Tentang kenapa aku ingin menertawai dirimu, adalah sesuatu yang bukan main-main. Kalau boleh, izinkan aku meminta waktumu barang satu-dua menit untuk membaca tulisan pendekku. Tulisan yang sengaja kubuat sebagai, katakanlah, ucapan selamat ulang tahun untukmu.

Aku memilih untuk tertawa bukan karena aku ingin membalas candaan-candaan yang kerap kautujukan untukku. Bukan. Apalagi karena aku merasa sedang di atasmu dan bisa melihatmu dengan pandangan penuh cela. Tentu saja tidak mungkin. Orang sepertimu hampir mustahil berada pada level yang lebih rendah dari aku. Cerdas, punya ingatan fotografis, tampan, terbiasa dengan pujian, juga bergelimang penggemar. Aku takkan mampu sampai pada tahapan tersebut. Aku ingat beberapa saat lalu aku mampir ke kamar kosanmu di Jakarta. Pada salah satu sudut dinding di kamarmu aku melihat styrofoam yang ditempeli berbagai kertas bertuliskan kesan dan pesan dari kawan yang kautemui di reuni akbar Ikanas tahun lalu. Hampir semua menuliskan hal yang serupa. Tentang kekaguman mereka kepada kecerdasanmu. Julukan-julukan seperti "Einstein Baru" yang disematkan kepadamu semakin mengukuhkan kebenaran akan premis yang telah aku kemukakan sebelumnya.

Namun di sinilah aku ingin menertawaimu. Jika saja aku yang berada di posisimu--memiliki IQ yang cukup untuk melelehkan hati banyak gadis pujaan sekaligus, barangkali aku telah memilih jalan yang sama sekali lain ketimbang dirimu yang sekarang. Hingga detik ini aku masih heran mengapa orang yang paham betul Fisika Kuantum, lancar menjelaskan Game Theory--bahkan meluluhlantakannya menjadi sebuah lelucon, pun hapal segala macam teori filsafat dan berapi-api mendukung perjuangan kelas proletariat berakhir dengan menjadi penjaga loket yang menghabiskan sehariannya menyobeki kertas dan bermain dengan alat ajaib bernama stapler. Apakah otakmu yang selalu haus akan ilmu-ilmu baru (benar bahwa di kantor pun setiap hari ada ilmu yang bisa diperoleh, tetapi bukan itu yang dimaksud) cukup terpuaskan dengan memperoleh uang yang rutin kauterima setiap bulannya? Apakah nikmat "duniawi" telah membuatmu lupa apa yang menjadi minat terbesarmu?

Rasanya tidak. Hingga sekarang kau masih kerap menonton tayangan-tayangan kelas perkuliahan yang diunggah di youtube, masih sering membaca segala hal baru demi asupan jiwamu, masih rutin membuka laman-laman blog kiri dan mengutuki ketidakadilan. Itu adalah bukti bahwa di tempat sekarang kau berada, kau masih merasa tidak tenang. Kau masih ingin berkembang dan sempitnya bilik-bilik kubikel tak pernah cukup untuk geliat otak yang terus memuai seperti alam semesta dalam gambaran big bang theory. Pada titik ini seyogyanya tawaku kepadamu dihentikan. Pasti ada alasan yang demikian kuat di balik keputusanmu menghentikan, paling tidak untuk sementara, mimpi-mimpimu (aku masih ingat betapa kau ingin bekerja di Bank Dunia) dan memilih bekerja di bawah sebuah kementerian di Republik ini.

Aku cukup paham bahwa hidup tak melulu perihal menegaskan eksistensialisme diri sendiri. Ada pelbagai pilihan yang ditaruh di depan muka seseorang, tetapi kemudian banyak yang, meskipun tampak indah dan menjanjikan, harus masuk keranjang sampah demi satu pilihan terbaik dan paling masuk akal. Apalagi terkadang hidup memaksa kita menjadi sok heroik dengan mengorbankan apa yang sangat kita inginkan demi kebahagiaan orang-orang yang kita cintai. Begitu bukan?

Benar bahwa seseorang bebas memilih jalan mana yang paling ia sukai, namun tak pernah bisa bebas dari konsekuensi jalan yang ia pilih. Lagipula, kalau aku tak salah ingat, Sartre sendiri pun pernah berujar bahwa kebebasan adalah sebuah kutukan, kan? Kau, sebagaimana aku dulu, memilih sebuah sekolah kedinasan yang mengharuskan kita berada di tempat sekarang ini tentu bukan tanpa dasar. Barangkali aku dan kamu sama; selepas lulus SMA memutuskan untuk meneruskan pendidikan di kampus plat merah demi orang tua. Jika Tan Malaka suatu saat pernah berujar bahwa idealisme adalah hal terakhir yang dimiliki oleh pemuda, kita dengan jemawa mematahkan teori tersebut dari awal mula. Kita memutuskan menjadi pragmatis bahkan sebelum menjadi idealis--khas mahasiswa. (tetapi ada satu pertanyaan lagi: bukankah pragmatisme merupakan sebuah ide juga?)

Terakhir bertemu denganmu, kupikir kau berubah cukup banyak. Kini kau nampak sudah cukup bahagia dengan pilihan macam ini. Berdamai dengan keriuhan Ibukota, berdamai dengan rutinitas kerja seperti biasa. Hal-hal menyebalkan seperti tuntutan untuk memiliki pasangan, tuntutan memiliki penghasilan untuk membeli kebutuhan dan mengangsur cicilan rumah telah mampu kaugenggam--bahkan lebih jika hanya untuk menabung pun bersedekah. Kalaupun kau merasa cukup hingga tak ingin lagi melanjutkan mimpi-mimpimu dahulu, tak ada seorang pun yang berhak menegurmu. Barangkali, kalau kau masih ingin bertambah tua dengan tetap seperti ini, suatu saat aku hanya akan mengirimimu potongan lagu Pure Saturday dan bertanya masihkah kita di jalan yang sama, lantas mengajakmu kembali ke warung kopi di awal kita sering berjumpa; tertawa bersama--menertawai nasib kita bersama. Kali ini, cukuplah aku berucap selamat ulang tahun kepadamu. Semoga saja kamu tidak lagi butuh doa.

(ah, ini postingan terburu-buru yang jeleknya minta ampun. setahun lalu aku terlanjur mengiyakan untuk membuat tulisan untuk ulang tahunmu namun baru kali ini bisa kutepati. aku hanya tak ingin ingkar janji lagi.)

0 comments:

Post a Comment