Jun 25, 2014

Juni Kesekian

Juni selalu menyapaku dengan terburu-buru. Pun kali ini, dia menepuk pundakku dan mengingatkan bahwa dia datang hanya untuk kembali pergi. Berita buruknya, sekarang semua tak sama lagi. Yang dulu pernah menegur dengan hangat, terpaksa berubah memalingkan muka. Keikhlasan selalu menyusahkan. Memang.
 /
Ada yang pecah ditelan ombak keegoisan. Jatuh berserakan. Semangkuk penuh kepercayaan yang dulunya telah susah payah dituangkan; tetes demi tetes. Semangkuk yang tumpah dan mengalirkan sungai air mata. Kekecewaan, katamu suatu ketika, merupakan helai-helai baju sehabis pakai yang kerap ditaruh begitu saja di pojok kamar. Tak seorang mau peduli, pada mulanya. Hingga tiba saatnya kotor yang kita simpan menumpuk meminta penjelasan.
//
Tiap tahun Sapardi didendangkan berulang kali: selarik bait tentang Hujan di bulan Juni. Berulang. Dan terus berulang. Berulang tanpa pernah menemui kebosanan dalam sunyi. Barangkali itu sebabnya dia memperoleh gelar sebagai makhluk paling tabah. Selalu datang meski tak ada lagi yang dia cari.
///
Selamat ulang tahun Juni. Kepadamu, segala doa dan kebaikan kupanjatkan.

Jun 10, 2014

Masih Ingin Bertambah Tua, Ndre?

Sebelum mengawali surat yang kutujukan kepadamu ini, Andreas Rossi, aku harus jujur mengenai satu hal. Aku ingin menertawai dirimu. Maafkan jika aku nampak kurang sopan karena berkata seperti itu. Seperti orang yang tidak pernah berkaca sebelum mencela orang lain, memang. Tetapi begitulah adanya. Sebetulnya aku hendak menertawai masing-masing dari kita. Menertawaimu, juga menertawai diri. Karena barangkali hal serius yang susah dilakukan oleh manusia adalah menertawai nasibnya sendiri yang seringkali lebih komikal dari cerita fiksi macam apapun juga.

Tentu kautahu kalau aku memiliki alasan untuk menuliskan hal remeh seperti di atas sebagai pembuka. Meski tak sepintar dirimu, aku selalu mencoba untuk berpikir terlebih dahulu ketika ingin melakukan sesuatu. Begitu pun kali ini. Tentang kenapa aku ingin menertawai dirimu, adalah sesuatu yang bukan main-main. Kalau boleh, izinkan aku meminta waktumu barang satu-dua menit untuk membaca tulisan pendekku. Tulisan yang sengaja kubuat sebagai, katakanlah, ucapan selamat ulang tahun untukmu.

Aku memilih untuk tertawa bukan karena aku ingin membalas candaan-candaan yang kerap kautujukan untukku. Bukan. Apalagi karena aku merasa sedang di atasmu dan bisa melihatmu dengan pandangan penuh cela. Tentu saja tidak mungkin. Orang sepertimu hampir mustahil berada pada level yang lebih rendah dari aku. Cerdas, punya ingatan fotografis, tampan, terbiasa dengan pujian, juga bergelimang penggemar. Aku takkan mampu sampai pada tahapan tersebut. Aku ingat beberapa saat lalu aku mampir ke kamar kosanmu di Jakarta. Pada salah satu sudut dinding di kamarmu aku melihat styrofoam yang ditempeli berbagai kertas bertuliskan kesan dan pesan dari kawan yang kautemui di reuni akbar Ikanas tahun lalu. Hampir semua menuliskan hal yang serupa. Tentang kekaguman mereka kepada kecerdasanmu. Julukan-julukan seperti "Einstein Baru" yang disematkan kepadamu semakin mengukuhkan kebenaran akan premis yang telah aku kemukakan sebelumnya.