Apr 13, 2014

Tiga di Dua Ribu Empat Belas

Ketika di awal tahun saya memperoleh kabar bahwa Eka Kurniawan, AS Laksana, dan Puthut EA akan menerbitkan buku kumpulan cerpen yang baru, hati saya melonjak kegirangan. Betapa tidak? Ketiga penulis (Puthut EA sampai detik ini masih ngotot tidak ingin disebut sebagai sastrawan) tadi adalah penulis-penulis favorit saya. Waktu itu saya bahkan sempat bergumam bahwa tahun ini adalah tahun sastra. Kumpulan cerpen masing-masing dari mereka yang baru pasti akan melecut banyak nama lain untuk segera menyelesaikan karyanya dan menyusul menerbitkan buku pula.

Rupanya perkiraan saya sedikit keliru—jika tak mau dibilang salah. Rupanya informasi yang saya peroleh di awal tahun baru sepotong. Menjelang hari penerbitan buku saya baru tahu ternyata, dari ketiga nama penulis yang saya sebut di atas, tidak ada yang betul-betul menerbitkan buku, dalam artian memproduksi tulisan baru, cerpen-cerpen baru. Mereka (Puthut menerbitkan 3 buku dengan 1 buku di antaranya memiliki label cetak ulang) “hanya” mengemas ulang kumpulan cerpen lawas. Mengemas ulang berarti menerbitkan kembali cerpen-cerpen lama dengan disisipi beberapa cerpen yang belum pernah diterbitkan atau mengedit cerpen lama agar dengan versi yang sedikit berbeda (ini diakui Eka Kurniawan di bagian Catatan di akhir buku untuk proses pengerjaan bukunya Gelak Sedih).

Ini sebenarnya mirip dengan band-band dan para penyanyi mapan yang kehabisan materi lagu baru, lantas memutuskan untuk meluncurkan album repackage, best of the best, atau apapun label sejenis yang melekat atasnya demi menenangkan para fans yang selalu menuntut dikeluarkannya album baru. Beda dengan label cetak ulang, penerbitan buku macam ini menipu para pembaca yang tidak memiliki informasi lengkap seperti saya di awal. Seolah-olah buku yang muncul adalah buku baru, tetapi judul demi judul cerita yang disajikan merupakan menu lama yang telah berkali-kali dikeluarkan. Jika apa yang ditanyakan Puthut pada sampul novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu edisi awal masih relevan, berarti kali ini para pembeli buku benar-benar membeli kucing dalam karung.

Saya tak begitu paham apa motivasi menerbitkan buku demikian dan tak ingin percaya apapun alasan yang mereka lontarkan. Apalagi mereka, para penulis profesional, adalah perangkai kata-kata ulung sekaligus pendusta yang legal. Tengoklah, Puthut menuliskan apologinya pada kata pengantar. Dia mengaku sudah lama tidak menulis cerpen dan kehilangan kemampuannya menulis cerpen. Lebih lanjut, dia seolah menangkis serangan yang bahkan belum lagi datang. Dia bilang, jika kumpulan cerpen edisi tematiknya tidak berguna, dia berharap upaya penerbitan model seperti itu akan membuatnya kembali ke dunia cerpen. Lalu dengan retorika itu, apakah kita langsung percaya begitu saja?

Tetapi baiklah. Terlepas dari uneg-uneg saya sebagai seorang pembaca sekaligus penggemar, ada baiknya saya mengomentari buku-buku baru mereka satu-persatu. Komentar singkat saja. Yang pertama adalah Sulak. Kumpulan cerpennya kali ini berjudul Bidadari yang Mengembara. Buku setebal 160 halaman ini berisi 12 cerita pendek. Dengan penuh percaya diri, buku ini dimodali embel-embel “Penulis Sastra Terbaik Versi Majalah Tempo Tahun 2004 dan 2013”. Penyebabnya apalagi kalau bukan melalui Bidadari yang Mengembara dulu lah dia memperoleh penghargaan tersebut. Saya sempat menyangka ini buku baru karena belum mengetahui edisi terdahulu (dan di buku pun tertulis ini adalah cetakan pertama). Isinya bagus. Cara bertutur khas Sulak tetap muncul—seperti buku-buku yang lain.

Kemudian Eka. Bukunya yang baru tapi lawas adalah Corat-Coret di Toilet. Setelah hanya sibuk mencetak ulang novel kanonnya Cantik Itu Luka dan isu yang tak kunjung habis di tahun lalu bahwa dia akan segera  menerbitkan karya baru, akhirnya tahun ini dia membuktikannya. Sepuluh cerpen lama ditambah dua cerpen baru—itu pun ditulis pada masa yang sama dengan cerpen-cerpen lainnya—dijejalkan ke dalam Corat-Coret di Toilet sebagai pemanasan novel barunya yang juga akan terbit. Dengan fakta tersebut, buku Eka kali ini ibarat nasi kemarin yang dihangatkan hanya agar tidak basi, lalu ditambahkan sayuran yang tidak disajikan di menu kemarin. padahal sebetulnya sayuran tersebut juga bukan sayuran segar yang baru dimasak. Satu-satunya alasan saya tidak mengutuk perolehan buku yang kebanyakan ceritanya sudah saya baca adalah karena saya diberi oleh Eka dengan gratis. Ya. Ya. Saya termasuk salah seorang yang beruntung mendapatkan undian buku Eka di blognya. Karena tidak keluar uang sepeser pun itulah, saya malah berterima kasih—alih-alih berteriak kesal.

Terakhir adalah Puthut. Sebetulnya dia menerbitkan 4 buku dalam tempo bersamaan. Satu kumpulan Esai berjudul Mengantar dari Luar, satu kumpulan cerpen cetak ulang—dengan menggandeng penerbit yang berbeda dengan sebelumnya—berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci, serta dua kumpulan cerpen tematik (cerpen-cerpen lama yang tersebar dikelompokkan berdasar satu tema) berjudul Drama itu Berkisah Terlalu Jauh (bertema politik) dan Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta (bertema apalagi kalau bukan cinta). Ada keanehan dalam peluncuran bukunya kali ini. Bagaimana mungkin seorang yang menolak dianggap sastrawan, yang mengaku tidak sanggup lagi menulis cerpen, memperingati 15 tahun berkarya dengan menerbitkan kumpulan cerpen terbaiknya—yang disebut-sebut  sebagai karya paling sastrawi?

Kumpulan esai saya lompati, juga Sebuah Kitab yang Tak Suci karena merupakan buku cetak ulang (bahkan sampai kata pengantarnya pun sama dengan edisi terdahulu). Saya lebih tertarik mengomentari dua buku sisanya. Dari kedua buku, yang berisi total 30 cerpen, hanya satu cerpen yang benar-benar baru. Sebagai penggemar Puthut, dapat dipastikan saya sudah membaca sebagian besar di antaranya. Toh, saya tetap membacanya lagi karena telah mengeluarkan uang untuk memboyong buku-buku ini. Tetapi upaya saya untuk menghibur diri kandas di cerita pertama. Banyaknya salah ketik yang muncul (juga di cerita-cerita berikut dan buku yang satunya) mengharuskan saya untuk terpaksa maklum ketika melihat nama Arman Dhani di bagian daftar penyunting buku. Saran saya: jika kau adalah penggemar Puthut dan memiliki semua arsip buku kumpulan cerpennya, sebaiknya segeralah berhenti berpikir untuk mengoleksi dua bukunya ini. Meskipun kau biblioholik. Yah, kecuali kau adalah pegawai pajak yang rela merogoh kocek seharga buku ditambah ongkos kirimnya yang lumayan besar demi memperoleh hiburan di perantauan.

3 comments:

  1. Untung kucing dalam karungnya dikasih gratis ya mas. hehe :P

    ReplyDelete
  2. Ah sama, saya juga suka karya-karya Puthut EA

    Dulu sampai kebingungan si Puthut EA ini perempuan atau laki-laki, karena pintarnya dia mengemas tokoh 'akuan' nya yang hampir selalu berjenis kelamin perempuan

    ReplyDelete
  3. sayangnya ongkos kirimnya sampe papua bakalan mahal banget,, gue baca blog lu dari beberapa waktu yang lalu.. buah tangan memang kadang ga bisa nyembunyiin apa yang dihisap mata ya:)
    mampirlah ke blog hina saya kalo sudi:)

    cahyabagushere.blogspot.com

    ReplyDelete