Apr 9, 2014

Nikah Juga, Zahara

Suatu pagi, seorang perempuan berdandan dengan cantiknya. Orang-orang hilir mudik di sekitar si perempuan, baik untuk membantunya berdandan maupun membereskan keperluan lain. Kebaya dengan aksen Jawa yang kental disertai kerudung warna putih yang baru dia beli beberapa hari lalu menambah cerah wajahnya yang sudah berseri-seri sebelumnya. Meskipun dia nampak sedikit mengantuk karena kurangnya jam tidur, keceriaan wajahnya tidaklah bisa disamarkan dengan cara apapun juga. Semakin dia mencoba untuk menutupi, semakin jelas terlihat bahwa dia sangat bersemangat menyambut datangnya pagi itu. Pagi yang dia yakini akan mengubah jalan hidupnya. Selamanya.

Kemudian si perempuan melangkah menuju tempat di mana beberapa perlengkapan sudah disiapkan baginya. Sebuah kursi, gayung, dan gentong berisi air. Tidak lupa kembang-kembang dan rerupa wewangian. Dia, si perempuan, akan mengikuti siraman. Sebuah prosesi sakral yang dinubuatkan kepada orang-orang sebelum pernikahan. Tentu siraman bukanlah kewajiban sebab bagaimanapun juga, pelan-pelan tradisi ini mulai ditinggalkan karena berbagai alasan. Tetapi biarlah. Cerita tetap berlanjut. Si perempuan telah duduk di kursi tadi. Dengan sedikit kegugupan, dia menunggu acara dimulai.

Tidak berapa lama, orang-orang yang dikasihi si perempuan mendatanginya. Ayahnya, ibunya, serta beberapa orang lain bergilir menyirami dia. Saat itu kegembiraan yang ditampakannya di awal hari perlahan mengendur. Bukan karena dia menjadi sedih. Namun bayangan tentang apa yang akan terjadi dengan hidupnya di masa depan hinggap serentak sehingga pikirannya bercampur-aduk. Pada momen genting, kautahu, terkadang beberapa hal kecil justru iseng mengganggu. Tentang kakaknya yang sudah terlebih dulu menikah. Atau tentang adiknya yang akan kehilangan teman berbincang paling baik sedunia. Tentang candaan teman-teman sepermainannya. Atau—dan ini yang paling penting—tentang apa saja yang dia tahu dan dia belum tahu tentang calon suami yang segera menjadi pengisi hari-harinya. Setiap detik berikut selama sisa usianya.

Setelah prosesi siraman berakhir, si perempuan mempersiapkan diri untuk melanjutkan ke bagian terpenting, yakni ijab kabul. Pada bagian ini sebetulnya saya sebagai narator kurang yakin apakah ijab kabul dilaksanakan langsung setelah siraman, atau keesokan harinya, atau beberapa hari kemudian. Tetapi demi kontinuitas cerita, marilah kita sepakati bahwa dia segera ijab kabul. Lagipula kita tahu penghulu hanya punya sedikit waktu karena daftar antrian pernikahan di Kantor Urusan Agama di negeri ini begitu panjangnya.

Sampailah waktunya bagi si perempuan untuk menyalami tangan orang tuanya satu-persatu. Tiba-tiba saja, seluruh kenangan tentang masa kecilnya berkelindan hebat. Seketika lalu-lalang ingatan menghantamnya keras hingga nafas terasa berat. Semakin dia mencoba menarik nafas, semakin susah dia menghadapi mata kedua orang tuanya yang duduk di kursi. Ada sebentuk keharuan yang muncul saat dia "berpamitan" pada  mereka, orang yang telah mengantarnya hingga tiba di titik ini. Orang yang tak pernah lelah mengkhawatirkannya dari sejak kali pertama dia membuka matanya di dunia ini. Pada saat dia sakit. Pada saat dia gundah dan berduka. Pada saat dia takut. Pada saat bagaimana pun keadaannya. Merekalah, kedua orang tuanya, orang pertama yang selalu ada. Dan kini dia harus meninggalkan mereka. Melanjutkan perjalanan hidup yang digariskan kepadanya.

Perempuan itu, orang yang saya ceritakan di atas, adalah Zahara Nur Auliya. Seorang yang bulan ini—tepatnya tanggal 17 April 2014—akan menjalani pernikahannya.

***

Sebetulnya saya ingin menuliskan tentang Zahara dengan semacam cerita pendek. Sayangnya, setelah menulis beberapa paragraf di atas, saya merasa gagal. Sehingga saya memutuskan untuk menghentikannya. Tentu bukan hanya karena cerita tersebut disusun oleh adegan demi adegan imajiner. Atau karena perasaan saya bahwa Zahara tidak akan melaksanakan siraman (dalam kasus ini saya sengaja memasukkan prosesi siraman demi keutuhan bangunan cerita). Tetapi saya merasa terlalu emosional untuk tidak menuliskan hal-hal subjektif tentang Zahara.

Penyebabnya apalagi kalau bukan karena saya terlalu dekat dengannya. Dekat dalam arti teman main dan berbincang semasa kuliah dulu. Sebagai catatan tambahan, saya tak memiliki banyak kawan akrab berjenis kelamin perempuan. Zahara merupakan salah satu di antara yang sedikit itu. Dengannya saya telah membicarakan berbagai hal. Meskipun, tentu saja, terma "berbagai hal" yang saya gunakan tadi bisa berarti tidak banyak-banyak amat.

Saya lupa tepatnya sejak kapan mulai akrab dengan Zahara. Yang jelas, saya sekelas dengannya pada saat tingkat dua. Dan bersama kawan-kawan kelas lain, topik-topik obrolan dimulai. Dari situ saya tahu Zahara, pada masanya, tidak seperti perempuan kebanyakan. Dia jauh lebih dewasa, sering memberi nasihat dan mengingatkan tentang kebaikan pada siapa saja. Yang paling saya tandai adalah ketika dia mengisi testimonial untuk saya dengan teguran agar saya berhenti merokok. Selain itu dia adalah perempuan kuat. Sepanjang mengenal Zahara, sangat jarang saya mendengarnya melontarkan keluhan yang berarti. Dia pun hampir tidak pernah terlihat bermuram hati.

Namun selalu ada masa di mana seseorang yang begitu tangguh pun menjadi lemah dan merasa dirinya tak berguna. Suatu hari, pernah Zahara bercerita tentang kisah cintanya yang kandas. Dia tengah patah hati. Pada saat itu saya hanya bisa menghiburnya melalui sebuah tulisan pendek yang saya unggah di laman facebook. Sesaat setelah membacanya, dia langsung berkirim pesan dan memastikan bahwa dia akan baik-baik saja. Kesedihan, katanya, bukanlah sesuatu yang pantas disimpan lama-lama.

Jika boleh sedikit bermetafora, saya ingin sekali mengumpamakan Zahara dengan satu tokoh dalam pewayangan (sebetulnya dua, tetapi dua orang tersebut adalah satu perwujudan reinkarnasi). Dia adalah Amba/Srikandi. Seorang perempuan (dalam hal ini saya masih mengamini bahwa Srikandi bukanlah seorang lelaki seperti yang banyak diceritakan) yang selalu mengingatkan saya tentang pedihnya pengkhianatan. Sekaligus memberi pelajaran bahwa di balik setiap kemalangan, selalu ada cara untuk menjadi kuat.

Mungkin di masa lalu dia "hanyalah" Amba yang patah arang karena ditinggalkan oleh lelaki yang memenangkannya. Kecemasan dan ketakutan menghantuinya. Dia sempat limbung dan melangkah tak tentu arah. Biar begitu, kita tahu bahwa hal tersebut tidak berlangsung selamanya. Jalan takdir menuntun Amba untuk bermetamorfosis menjadi Srikandi yang perkasa.

Bedanya, Srikandi menuntaskan dendamnya dengan membunuh orang yang pernah menyia-nyiakannya. Bagi Zahara, cukuplah untuk tidak terjatuh di lubang yang sama. Caranya adalah dengan menikah. Ritual yang akan segera ditunaikannya dengan hati penuh cinta.

***

Post Scriptum:

Tulisan ini saya persembahkan untuk Zahara Nur Auliya sebagai kado pernikahan sekaligus permohonan maaf karena saya tidak bisa hadir menyaksikan hari yang sangat bersejarah baginya. Saya sudah beberapa kali menulis tentang Zahara dan mungkin ini menjadi tulisan terakhir. Karena, setelah seseorang menikah, banyak hal akan menjadi sangat berbeda. Di satu sisi tentu saya merasa sedih karena akan "kehilangan" satu orang kawan lagi. Tetapi di sisi lain saya sangat berbahagia untuk Zahara. Sekali lagi: selamat!

kenang-kenangan bersama Zahara

2 comments: