Apr 13, 2014

Tiga di Dua Ribu Empat Belas

Ketika di awal tahun saya memperoleh kabar bahwa Eka Kurniawan, AS Laksana, dan Puthut EA akan menerbitkan buku kumpulan cerpen yang baru, hati saya melonjak kegirangan. Betapa tidak? Ketiga penulis (Puthut EA sampai detik ini masih ngotot tidak ingin disebut sebagai sastrawan) tadi adalah penulis-penulis favorit saya. Waktu itu saya bahkan sempat bergumam bahwa tahun ini adalah tahun sastra. Kumpulan cerpen masing-masing dari mereka yang baru pasti akan melecut banyak nama lain untuk segera menyelesaikan karyanya dan menyusul menerbitkan buku pula.

Rupanya perkiraan saya sedikit keliru—jika tak mau dibilang salah. Rupanya informasi yang saya peroleh di awal tahun baru sepotong. Menjelang hari penerbitan buku saya baru tahu ternyata, dari ketiga nama penulis yang saya sebut di atas, tidak ada yang betul-betul menerbitkan buku, dalam artian memproduksi tulisan baru, cerpen-cerpen baru. Mereka (Puthut menerbitkan 3 buku dengan 1 buku di antaranya memiliki label cetak ulang) “hanya” mengemas ulang kumpulan cerpen lawas. Mengemas ulang berarti menerbitkan kembali cerpen-cerpen lama dengan disisipi beberapa cerpen yang belum pernah diterbitkan atau mengedit cerpen lama agar dengan versi yang sedikit berbeda (ini diakui Eka Kurniawan di bagian Catatan di akhir buku untuk proses pengerjaan bukunya Gelak Sedih).

Apr 12, 2014

Penempatan dan Hal-Hal yang Belum Selesai

*sebuah catatan pendek untuk penempatan pertama

Awal April 2013 adalah kali pertama saya melangkahkan kaki ke pulau Sumatera--tepatnya di Bangko, satu kota kecil di provinsi Jambi. Pada waktu itu, setelah mendarat dari pesawat, dengan kebingungan luar biasa saya mencari cara menuju ke kota tempat saya berdinas. Rupanya saya tak sial-sial amat. Di bandara, beberapa orang menjemput kawan yang penempatan di daerah  Jambi juga, dan berbaik hati mengantar saya dan seorang kawan lainnya meskipun "hanya" sampai di tempat menanti travel yang baru berangkat beberapa jam kemudian.

Menjelang tengah malam, sampailah saya di Bangko, tempat yang sama sekali asing bagi saya. Kurangnya jam tidur serta kelelahan setelah 6 jam perjalanan (belum ditambah sekira 7 Jam perjalanan kereta api dari Purwokerto menuju Jakarta pada malam sebelumnya, juga jeda waktu menunggu di antara itu) mengantar saya tiba di sebuah kantor tempat saya bekerja hingga saat ini. Saya (bersama seorang kawan yang disebut di atas) disambut banyak orang. Sebagian besar pegawai sama-sama berstatus sebagai perantau sehingga membuat rasa kebersamaan begitu kuat. Setelahnya, tak terhitung berapa banyak sudah bantuan yang mereka berikan. 

Setahun telah berlalu. Di sini saya belajar jauh lebih banyak dari apapun yang pernah saya peroleh di bawah bayang-bayang orang tua dulu. Di setiap ujung Indonesia lain pun, di banyak tempat yang jauh lebih melelahkan dan tidak nyaman, kawan-kawan saya sedang berjuang. Untuk masa depan. Untuk orang-orang yang mereka cinta. Mereka, saya rasa, tidak ingin dianggap sedang bernasib buruk. Setiap dari mereka hanya sedang diberi kesempatan untuk belajar lebih. Sama seperti saya. Melalui tulisan ini saya berdoa untuk mereka. Juga untuk saya sendiri. Semoga kita memperoleh apa yang berhak kita peroleh. Dan semoga memang itulah yang benar-benar terbaik bagi kita semua.

Dan sebagai penutup, saya ingin mengutip (baca: memelesetkan) ungkapan Socrates: jika kau memperoleh penempatan yang indah, kau akan bahagia. Jika kau memperoleh tempat yang jelek, kau akan menjadi filsuf. Benar?

Apr 9, 2014

Nikah Juga, Zahara

Suatu pagi, seorang perempuan berdandan dengan cantiknya. Orang-orang hilir mudik di sekitar si perempuan, baik untuk membantunya berdandan maupun membereskan keperluan lain. Kebaya dengan aksen Jawa yang kental disertai kerudung warna putih yang baru dia beli beberapa hari lalu menambah cerah wajahnya yang sudah berseri-seri sebelumnya. Meskipun dia nampak sedikit mengantuk karena kurangnya jam tidur, keceriaan wajahnya tidaklah bisa disamarkan dengan cara apapun juga. Semakin dia mencoba untuk menutupi, semakin jelas terlihat bahwa dia sangat bersemangat menyambut datangnya pagi itu. Pagi yang dia yakini akan mengubah jalan hidupnya. Selamanya.

Kemudian si perempuan melangkah menuju tempat di mana beberapa perlengkapan sudah disiapkan baginya. Sebuah kursi, gayung, dan gentong berisi air. Tidak lupa kembang-kembang dan rerupa wewangian. Dia, si perempuan, akan mengikuti siraman. Sebuah prosesi sakral yang dinubuatkan kepada orang-orang sebelum pernikahan. Tentu siraman bukanlah kewajiban sebab bagaimanapun juga, pelan-pelan tradisi ini mulai ditinggalkan karena berbagai alasan. Tetapi biarlah. Cerita tetap berlanjut. Si perempuan telah duduk di kursi tadi. Dengan sedikit kegugupan, dia menunggu acara dimulai.

Tidak berapa lama, orang-orang yang dikasihi si perempuan mendatanginya. Ayahnya, ibunya, serta beberapa orang lain bergilir menyirami dia. Saat itu kegembiraan yang ditampakannya di awal hari perlahan mengendur. Bukan karena dia menjadi sedih. Namun bayangan tentang apa yang akan terjadi dengan hidupnya di masa depan hinggap serentak sehingga pikirannya bercampur-aduk. Pada momen genting, kautahu, terkadang beberapa hal kecil justru iseng mengganggu. Tentang kakaknya yang sudah terlebih dulu menikah. Atau tentang adiknya yang akan kehilangan teman berbincang paling baik sedunia. Tentang candaan teman-teman sepermainannya. Atau—dan ini yang paling penting—tentang apa saja yang dia tahu dan dia belum tahu tentang calon suami yang segera menjadi pengisi hari-harinya. Setiap detik berikut selama sisa usianya.