Mar 28, 2014

Pengumuman: Arfindo Briyan Ulang Tahun!

Parameter kedekatan relasi antarmanusia tidak selalu diukur dari seberapa lama manusia-manusia tersebut saling berhubungan. Seringkali saya merasa beberapa kawan yang telah lama saya kenal justru kian hari kian jauh, dalam artian bertambah renggang karib keakrabannya. Sebaliknya, banyak yang baru saya temui malah langsung terasa cair. Lumer dan hilang jarak dalam percakapan.

Arfindo Briyan Santoso adalah salah satunya. Saya biasa memanggilnya "mas" Findo karena dia lebih tua walaupun di kampus satu angkatan. Sepanjang ingatan saya tidak salah, saya belum lama mengenal dia--bahkan baru sempat bertemu beberapa bulan lampau. Tetapi sungguh banyak topik obrolan yang telah khatam kami bahas. Mulai dari berbagi tips menulis hingga jodoh dan restu orang tua. Sungguh banyak hal yang telah saya minta dari dia, baik atas nama personal maupun dalam rangka urusan bersama (saya telah mengajaknya--lebih tepatnya memaksa--bergabung di birokreasi).

Tengoklah; header blog saya ini adalah hasil kerja dari dia. Contoh lain, saya pernah meminta mas Findo membawakan bunga kepada seseorang di acara wisudanya meski dia hadir di acara tersebut karena panggilan tugas (dia adalah awak media keuangan sehingga memiliki jobdesk yang membikin saya iri macam itu!). Pernah pula saya memesan buku ketika dia ada urusan dinas di Bangko (nah kan, kurang bikin iri apalagi?). Terakhir, saya memintanya membuat poster untuk mengiklankan buku Kuda Besi dari birokreasi. Mulanya dia menolak karena kesibukan kantor tidak mengizinkannya untuk berbagi waktu. Tetapi akhir pekan kemarin tiba-tiba saja kotak masuk surel saya memunculkan notifikasi darinya. Tanda bahwa pesanan poster telah tuntas dilaksanakan.

poster ciamik ini pun bikinan mas Findo!

Mar 10, 2014

Yang Tersisa dari Januari

(i)
Barangkali pertemuan bukanlah sebuah kemewahan yang perlu dirayakan berlebihan. Pertemuan adalah kita tak sengaja berada di sisi jalan yang sama pada sebuah perempatan. Saling sapa barang sebentar. Menanti lampu merah yang segera usai. Setelah itu membunyikan klakson lantas pamit melanjutkan perjalanan. Tiada guna jerit heboh dan saling berteriak. Sebab apapun selalu lesap di antara deru mesin dan arus waktu. Ribut dan keriuhan adalah segala hal yang bernama kesia-siaan. 

(ii)
Begitu pun dengan sesuatu yang kita sepakati dengan nama perpisahan. Dia sudah dituliskan jauh sebelum tangisan pertama manusia di dunia pecah. Malaikat yang dulu mendampingimu, dan malaikat yang mengunjungi rahim ibuku, pernah diam-diam bersepakat untuk mempertemukan aku denganmu barang sejenak hanya untuk dibubarkan kemudian.

(iii)
Aku dan kamu adalah kaum Baginda Raja Nimrod. Bermodal keangkuhan yang begitu besar kita coba melanggengkan pertemuan, membangun menara megah di bawah satu tujuan. Tanpa kita sadari semua akan berakhir dengan perceraian. Yang paling menyakitkan, semua kata masing-masing dari kita menjadi asing belaka. Aku terjatuh dalam kegagapan berbicara. Kamu terdiam dan tak bisa mendengar apa-apa.

(iv)
Sejak itu aku tahu bahwa bahasa adalah palsu. Buktinya tidak juga ada bahasa yang mampu mempersatukan orang-orang yang telah ditakdirkan untuk berpisah. Termasuk aku dan kamu. Kita. Dan segala sebutan yang pernah kamu sematkan untukku. Mereka fatamorgana di jalan raya yang amat terik. Fana yang lekas hilang seketika kita datang.