Feb 20, 2014

Pak Tua yang Pragmatis dan Penguasa yang Tak Berguna

Dalam lingkup sekecil apapun, kau dapat mengidentifikasi penguasa yang sebetulnya tak berguna tetapi merasa penting hanya karena jabatannya.

Luis Sepulveda, seorang pengarang dari Chili, menggambarkan hal tersebut pada novel “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” (judul aslinya adalah Un viejo que leia historias de amor). Novel pendek yang bercerita tentang kehidupan di El Idilio, sebuah wilayah di daerah Amazon ini adalah sebuah kritik terhadap otoritas yang seenaknya menggunakan kewenangan untuk menindas rakyat yang seharusnya dia lindungi. Luis Sepulveda bahkan pernah dipenjara dan diasingkan oleh rezim pemerintahnya sendiri karena aktivitas politiknya meresahkan penguasa macam itu. Merasa de javu? Bisa jadi. Sebab kau pernah merasa sangat dekat dengan tokoh seperti itu di negeri ini: Pramoedya Ananta Toer.

Kekuasaan yang sewenang-wenang memang tak mengenal batas teritorial. Dalam lingkup besar macam negara, kota, organisasi, bahkan hingga lingkungan kerja dan keluarga, kesewenang-wenangan itu selalu nampak nyata. Di novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, Luis Sepulveda menulisnya dengan deskripsi awal yang terang-benderang: Pak walikota, satu-satunya pegawai negeri, otoritas tertinggi, dan wakil sebuah kekuasaan yang terlampau jauh untuk bisa menebar rasa takut, adalah seorang lelaki tambun yang tak berhenti berkeringat. Deskripsi tersebut kemudian berlanjut. Walikota tambun tersebut digambarkan cukup buruk untuk membuatmu membencinya. Ia datang membawa kegemaran menaikkan pajak tanpa alasan yang jelas. Ia berusaha menjual izin berburu dan memancing di wilayah tak bertuan. Ia pungut retribusi atas hak para penebang mengumpulkan kayu-kayuan basah di sebuah rimba yang jauh lebih tua ketimbang negara manapun.

Di bagian lanjutan novel kau bisa dengan mudah menemukan alasan mengapa sang penulis begitu dibenci oleh Agusto Pinochet, diktator Chili pada waktu itu. Dia menelanjangi kebodohan-kebodohan penguasa melalui ceritanya. Dengan menggunakan personifikasi yang ringan, penulis mencoba menjelaskan bahwa sebetulnya rakyat—dalam hal ini diwakili oleh Pak Tua bernama Antonio Jose Bolivar—jauh lebih menguasai wilayah domisilinya sendiri daripada penguasa yang merasa lebih tahu medan dengan “kebijakannya”, dengan segala alasan yang dibuat-buat. Dari penjelasan sebelumnya, kau tahu bahwa penguasa tersebut dijelmakan ke dalam sosok walikota.

Antonio Jose Bolivar (sebetulnya sebagian besar warga) begitu membenci walikota yang tolol itu. Walikota—yang seringkali hanya berdiam di kantor empuknya—beranggapan bahwa dia lebih cerdas dan berpendidikan sehingga dia lebih banyak tahu dari siapapun juga. Pernah suatu kali Pak Tua bertanya mengenai keadaan suatu daerah kepada walikota, “kok Anda tahu? Pernah ke sana?” Walikota menghindar dengan berdiplomasi, “belum. Tapi aku terpelajar. Itu juga sebabnya aku jadi walikota.”

Sayangnya kenyataan di lapangan seringkali menamparmu lebih keras dari apapun yang pernah kaupelajari dari buku-buku. Pengetahuan dan kecakapan walikota dalam memecahkan masalah selalu dikalahkan oleh seorang tua yang tak dia kenal sebelumnya. Pak Tua itulah, Antonio Jose Bolivar, orang yang berpengalaman keluar masuk hutan rimba; orang yang mengenal daerah Amazon seperti dia mengenal bagian tubuhnya sendiri. Kenyataan-kenyataan tersebut membuat keduanya terlibat dalam relasi saling membenci sekaligus saling membutuhkan. Tarik ulur kepentingan pun hadir di antara mereka.

Konflik semakin meruncing ketika Antonio Jose Bolivar diharuskan bekerja sama dengan walikota. Mereka berdua, dengan ditambah beberapa orang lainnya, bergabung menjadi satu tim pemburu macan (oh baiklah semoga tak ada yang menganggapnya sebagai sinergi yang dipaksakan karena sama-sama butuh). Walikota sebetulnya membenci pak tua yang sering mempermalukan dan menjatuhkan wibawanya itu. Namun walikota membutuhkan tenaga dan pengalamannya agar misi perburuan berjalan lancar.

“Begini kek, ngobrol membuat orang bisa saling bertatap mata. Benar apa yang kubilang padamu. Rumahmu dibangun di atas tanah milik negara dan kau tak punya hak tinggal di sini. Lebih lagi, aku bisa menahanmu sebagai pemukim liar, tapi karena kita teman, dan ibarat tangan yang satu membasuh yang lain dan keduanya sama-sama menyeka pantat, kita harus saling menolong,” bujuk si gendut tak berguna itu.

Di lain pihak, Antonio Jose Bolivar pun malas mengikuti perintah walikota, apalagi menjadikannya seorang atasan dalam sebuah tugas yang bertentangan dengan nuraninya. Sampai misi perburuan dilaksanakan, dia tetap menganggap bahwa macan dan segala binatang hutan takkan membahayakan nyawa siapapun kecuali mereka diganggu lebih dulu. Tetapi ancaman pengusiran dari tempat tinggalnya sungguh mengusik kedamaiannya setiap malam. Siapapun pasti tak mau zona nyamannya digoncang oleh orang lain, begitu pun dengannya. Lagipula, walikota selalu bisa membuatnya takluk dengan janji hadiah yang dia ajukan kepada Pak Tua. Cerutu serta sebotol Frontera—minuman keras tradisional Amazon—diterima Antonio Jose Bolivar dengan gerundel dalam hati. Walikota tahu benar bahwa Pak Tua yang menjadi bawahannya adalah seorang pragmatis yang mau melakukan apapun asal ada bayaran yang pas. Apapun, termasuk melawan akal sehatnya sendiri.

Perburuan tersebut makin menegaskan bahwa walikota, orang nomor satu di wilayah tersebut, sungguh tak tahu dan tak bisa apa-apa. Berkali-kali perhitungan (jika tak mau dibilang analisis asal) walikota dimentahkan oleh buasnya hutan rimba. Di awal keberangkatan, walikota langsung ditertawai oleh seluruh anggota tim. Sebabnya walikota (mereka menyebutnya sebagai Siput Lendir) memakai pakaian lengkap dengan jas hujan yang panas dan sepatu bot karet yang menyusahkannya berjalan di hutan. Perjalanan kemudian makin susah justru karena kehadiran walikota. Segala hambatan yang mungkin tak pernah dia bayangkan ada di kantornya yang nyaman sangat sering ditemui di pedalaman. Kalajengking yang bersembunyi di balik lumpur, lele raksasa yang jauh lebih menyeramkan dari piranha, juga musuh utama mereka: macan yang sangat peka terhadap cahaya dan bunyi asing sekecil apapun yang muncul di hutan kediamannya. Tenaga yang seharusnya bisa dipakai dengan efisien untuk menemukan macan buruan mereka justru habis dipergunakan menolong lelaki gendut yang memperlambat kerja mereka.

Kebodohan-kebodohan tadi akhirnya berujung dengan kaburnya walikota. Dia kembali ke singgasananya sebelum sempat menuntaskan tujuannya, kembali ke ruang kerja dan sofa empuknya. Dan seperti kisah nyata di mana-mana, orang kecil lah yang membersihkan noda yang terlanjur tumpah. Dalam novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, pengemban tugas itu adalah Antonio Jose Bolivar. Dia ditinggal di pedalaman hutan sementara walikota dan anggota tim lain pulang ke El Idilio. Meskipun merasa tidak adil, toh Pak Tua itu tetap bertahan di posisinya. Alasannya? Apalagi kalau bukan bayaran yang dia sukai.

 ***

Post Scriptum:

Beberapa hari lalu, seorang kawan meminta saya untuk membuat tanggapan atas tulisan beberapa rekan satu instansi—meski saya sebetulnya juga tak kenal mereka—di blog (baca: kompasiana) tentang sebuah lubang besar mengenai ketidakadilan di lingkungan kerja. Alih-alih mengiyakan permintaan kawan tadi, saya malah membikin tulisan semi resensi seperti di atas. Saya tak hendak menganalogi Pak Tua dan walikota dengan penguasa atau siapapun karena sebuah cerita telah berdiri sendiri dengan seluruh kekuatan hidupnya. Seperti Pramoedya menganggap bahwa karya-karya yang telah ia buat adalah anak rohaninya, yang bisa hidup dan memiliki konteks sendiri tanpa pertolongan orang yang melahirkannya. Dan untuk tulisan saya di atas, interpretasi apapun yang dimunculkan oleh pembaca adalah di luar kekuasaan saya. Tabik!

0 comments:

Post a Comment