Jan 17, 2014

Dihinggapi Tokoh Fiksi

Belakangan ini saya merasa sering dihinggapi roh dari beberapa tokoh fiksi yang pernah saya baca. Baiklah, barangkali ini adalah kekonyolan. Saya bahkan ingin menertawakan diri sendiri saking bodohnya hal yang sedang saya alami. Tetapi justru itulah letak permasalahannya. Begitu hebatnya gangguan tersebut hingga membikin saya susah tidur. Roh-roh mereka memaksa saya merasakan apa yang mereka rasakan dan ikut memikirkan apa yang mungkin mereka rasakan di dalam cerita fiksi di mana mereka dikisahkan.

Tokoh yang pertama-tama datang adalah Holden Caulfield dari The Catcher in The Rye. Dia membuat saya sinis pada orang-orang di sekitar saya. Apalagi karena lingkungan kerja saya memungkinkan saya untuk bersikap seperti itu. Holden beberapa kali mencela saya dan berkata, "ayolah kau pun tahu orang-orang di depanmu adalah sekumpulan hipokrit. Mereka sedang tersenyum palsu hanya karena seragam yang mereka kenakan menuntut mereka untuk bersembunyi di belakang formalitas. Apa kau mau ikut perlombaan dan memenangkan piala kepalsuan?" Cibiran semacam ini tentu saja membuat saya marah. Bahkan dia pun dengan sengaja mendendangkan lagu kebanggaan Thom Yorke yang terkenal itu, Fake Plastic Trees, untuk memancing saya. Tapi apa boleh buat. Yang Holden katakan merupakan sebuah kebenaran belaka. Tinggallah saya yang terbengong-bengong memikirkan hal yang sebetulnya telah saya ketahui.

Kemudian, pak tua Santiago rekaan Hemingway juga tak absen ikut menyapa saya. Ketika saya melamun dan menikmati secangkir kopi panas, dia tiba-tiba saja hadir dan langsung menyerocos menceritakan segala pengalaman dan petualangan di masa mudanya yang demikian mendebarkan: menjelajah hutan rimba, berburu binatang untuk santap siang, serta berkelahi dengan harimau kelaparan. Sambil memonyongkan bibir ia menantang saya agar mempersetankan segala rutinitas kantoran yang membosankan, lalu pergi ke dunia luar bernama kebebasan. Dia bertanya, "apakah kamu rela membuang masa muda yang berharga dan menjemput hari tua dengan penyesalan tanpa satu pun cerita?" Mendengar omong kosongnya, saya hanya memicingkan mata dan ingin segera mengejeknya balik. Santiago tak tahu, di era yang serba instan seperti sekarang ini, membanggakan sebuah petualangan bukanlah hal yang istimewa--bahkan cenderung menyedihkan. Segala kehebatan masa mudanya sungguh sangat gampang dicapai oleh manusia-manusia modern. Dia beruntung bisa terkenal karena hidup di masa lalu yang sepi dan tidak memiliki bantuan berbentuk teknologi. Kalau dia terlambat lahir beberapa abad, mungkin orang hanya mengenalnya sebagai traveler medioker yang hanya bermasturbasi memamerkan pengalaman di laman blog pribadi. Namun saya urung mempersoalkan hal tersebut sehingga adu mulut di antara kami terhindarkan. Pun setelah saya pikir-pikir kejiwaan saya masih terlalu normal untuk berkelahi dengan roh imajinasi yang entah datang dari mana itu.
Setelah Santiago diam dan akhirnya memutuskan untuk pergi, beberapa tokoh lagi datang. Saya tidak memiliki cukup waktu untuk menuliskan siapa mereka satu-persatu. Lagipula saya belum tahu apakah Big Brother yang dilepaskan dari kandang oleh Orwell ada di sekitar saya atau tidak. Karenanya saya harus jaga diri agar tak kebablasan omong. Yang penting adalah, mereka semua masing-masing meninggalkan satu pesan yang persis cocok dengan kondisi saya sekarang seolah sedang mengejek. Tetapi jika kau menebak Sukab yang pernah ditolak hingga dihinakan oleh Alina dan Watanabe dari Norwegian Wood yang terlalu setia (cenderung bodoh, malah) menunggu satu cinta ikut menasihati saya, kali ini kau salah. Atau bisa saja kau benar tentang kedatangan mereka berdua, tetapi tak sempat bertemu saya dan mengajak saya berbincang.
Sebenarnya kedatangan mereka tidak pernah merepotkan. Saya tak perlu menyajikan jajanan atau minuman untuk sekadar berbasa-basi menyediakan teman ngobrol kami karena mereka adalah roh. Lain dari itu nasihat yang mereka berikan tidak jelek-jelek amat. Beberapa justru ingin saya catat di notes pribadi biar esok hari gampang saya buka ketika membutuhkan saran. Namun waktu kedatangan mereka itulah yang mengganggu. Selalu pada malam hari ketika saya sedang membaca buku dan membutuhkan ketenangan. Sehabis salah satu dari mereka pulang saya selalu merasa kedamaian saya lenyap seketika. Pembicaraan yang mereka hadirkan memancing perenungan dan membuat saya melamun beberapa saat lamanya--kadang cukup lama hingga matahari terbit keesokan harinya. Akibatnya saya merasa kelelahan sekali dan terpaksa berangkat ke kantor dalam keadaan lunglai.

Mungkin inilah yang mereka inginkan. Kombinasi rasa lelah, kurang tidur, dan berpikir semalam suntuk berhasil membuat saya kehilangan daya berpikir jernih. Yang paling fatal, saya menjadi sensitif dan lekas marah. Saya merasakan persis apa yang tokoh-tokoh tadi rasakan di dalam cerita di mana mereka dikisahkan. Benar-benar menyebalkan.

Konon, alasan Chapman membunuh Lennon adalah karena orang yang dikagumi dan dicintainya ternyata tak lebih dari seorang yang munafik. Lennon sangat berbeda dibanding dengan bayangannya. Lennon menyerukan sesuatu yang fenomenal dalam lagunya, imagine there's no possesion, tetapi kehidupannya mewah sekali bergelimang uang. Jauh dari sosok sederhana yang tak lelah mengajak pendengarnya untuk menyingkirkan hal-hal yang menyebabkan perpecahan, termasuk harta benda. Menurut Chapman, Lennon yang awalnya idealis (yang membuatnya menyukai Lennon) jauh berubah setelah menjadi terkenal. Dan seperti yang semua orang tahu, Chapman membaca Catcher in the Rye ketika ditemukan di sebelah mayat John Lennon. Barangkali, roh Holden Caulfield juga mempengaruhi Chapman seperti dia sedang mempengaruhi saya sekarang ini.

Tiba-tiba saja darah saya menggelegak ingin melakukan seperti yang Chapman lakukan di waktu dulu juga: membunuh seseorang. Seseorang yang dulu membuat saya mencintainya karena keramahan dan keteduhan hatinya namun kini telah jauh berubah.

Jauh...

5 comments:

  1. Patah hati? Naek gunung kita? :))

    ReplyDelete
  2. Bukan, hahahahahaha. Tapi ayok sih camping! :D

    ReplyDelete
  3. git, mbok kalo nek gunung aku diajak po.. :'(

    ReplyDelete
  4. aku bagaikan zaenudin yang mendambakan hayatiiii... oooo hayatiiii kekasihkuuuu..... pikiranku penuh dengan zaenudin :(

    ReplyDelete
  5. ber ending dengan curcol yang gegap gempita kang, tapi seperti biasalah tulisan2 mu selalu membuatku terpana...

    ReplyDelete