Jan 20, 2014

Dendam dan Sakit Hati

Aku ingin menceritakan kepadamu satu kisah sakit hati seorang ksatria.

Ksatria tersebut bernama Basusena. Sering pula dijuluki Sutaputra, yang berarti anak kusir. Atau, jika kau pernah membaca kisah pewayangan barang sedikit, kau akan lebih mengenalnya dengan nama Karna. Putra Batara Surya yang dibuang oleh ibu kandungnya dan ditemukan hanyut di sungai oleh si kusir kereta, Adirata. Selanjutnya, Karna diangkat anak oleh Adirata. Dia "dibaptis" masuk ke dalam golongan kusir yang dianggap rendah dan tanpa seorang pun mengetahui fakta bahwa dia adalah seorang ksatria.

Sebelum aku melanjutkan cerita, aku hanya ingin memastikan kau paham bahwa tujuanku menulis ini adalah agar kau tahu betapa menyakitkannya dipandang rendah dengan sebelah mata.

Karna tentu begitu akrab dengan hal tersebut. Sebagai anak kusir, dia terbiasa memperoleh perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka yang berkasta lebih tinggi. Tak sekalipun dia dihargai layaknya sesama manusia. Sayembara untuk memperistri Drupadi yang telah dia menangkan ditolak mentah-mentah oleh calon istri yang jijik dengan kondisinya. Bahkan orang-orang semulia Pandawa pun tak ketinggalan menolak ajakan bertanding dari Karna dengan satu alasan penuh penghinaan: dia dan Pandawa tidak berangkat dari golongan yang sederajat.

Sampai di sini, rasanya kita perlu rehat dari dongeng yang aku tahu bakal membosankan bagimu. Aku baru sadar, kau yang merasa terhormat dan istimewa takkan peduli pada hal-hal semacam itu. Toh pada dasarnya kau tidak pernah merasakan bagaimana menyedihkannya diremehkan. Harta dan kedudukan telah purna kaugenggam sejak dulu. Kau telah memiliki semua yang dibutuhkan agar tidak memperoleh tatapan sengit dari orang-orang yang gemar melecehkan.

Biar bagaimanapun kita sama-sama mengerti, propaganda mengenai dihapusnya konsep kasta dalam dunia modern adalah omong kosong belaka. Manusia selalu menemukan hal yang dapat dipergunakan untuk membedakan dirinya dengan manusia lain, untuk merasa eksklusif dan jauh lebih baik dari golongan di luar dirinya. Merasa gagah di antara para pengangguran, memarahi pengemis yang mengganggu di trotoar jalan, atau bahkan menyombongkan diri di hadapan kawan. Bukankah kau sendiri gemar melakukannya?

Tidak apa-apa. Aku yakin banyak orang, termasuk aku, tak luput dari dosa macam ini. Tetapi belakangan aku merasa kau (juga aku sendiri) perlu diingatkan, mereka yang rendah, yang hina di mata kita, juga memiliki harga diri. Jika kau coba-coba lukai, hati mereka akan tersakiti. Dan kita semua tau sakit hati berkawan akrab dengan perasaan bernama dendam.

Bedanya, sakit hati hanya terasa untuk sejenak. Namun dendam bisa berlangsung sangat lama. Dia mempunyai usia seperti kura-kura yang kaupunya.

Di padang Kurusetra yang banjir darah, Karna berdiri tegak. Menggeram. Memandang ke perkemahan Pandawa dengan penuh amarah. Saat itu sudah dia lupakan sakit hati yang pernah dia terima. Sudah dia persetankan hina dan cela dari Pandawa kepada dirinya, si anak kusir. Tapi dendam telah membatu dan harus dia lampiaskan perasaan itu Tak dia hiraukan apakah Pandawa sedang memperjuangkan haknya dan Kurawa sedang melanggengkan kelaliman. Dia tetap kukuh membela Kurawa, membela Duryudana; satu-satunya orang yang mau menghargainya. Bahkan jika itu berarti dia harus berada di pihak yang berseberangan dengan ibu dan keluarga kandungnya.

Kauperlu ingat sekali lagi: dendam telah membatu.

Tak perlu kita lanjutkan kelanjutan kisah itu. Tak penting bagimu. Aku hanya ingin bilang kalau kau tengah berhadapan dengan orang yang memelihara dendam macam Karna, berhati-hatilah. Dia akan memburu tanpa lelah. Dia seperti anjing yang siap memangsamu ketika kau lengah. Dan kautahu dia, anjing itu, adalah aku.

3 comments:

  1. Karna mati karena dibikin panik dendamnya sendiri, Git.

    ReplyDelete
  2. setuju dengan ini kang "propaganda mengenai dihapusnya konsep kasta dalam dunia modern adalah omong kosong belaka" epic ceritanya..

    ReplyDelete
  3. Kutau ini merupakan ungkapan amarahmu dari cerita yg km tuliskan diatas. Ya itulah hidup. Dirimu pernah begitu dekat dengannya, berusaha utk merengkuhnya perlahan2 disaat pesaingmu yang mgkn disaat itu bukan siapa2, dan disaat ini yg kutau dia telah mencapai apa yg pujaan hatimu itu dambakan selama lebih dari 5thn perjalanan cintanya dikesunyian tanpa byk org tau.. Syarat yg diajukan oleh pujaan hatimu itu emg banyak. Kutahu diantara kalian adalah cinta segi empat yg begitu ruwet. Ahh itu lah jalan Allah SWT utk mempertemukan jodoh mu kelak,, bila engkau lolos ujian ini pasti km akan mendapatkan yg lebih baik dari dia. Cinta itu tak bisa dipaksakan, semakin engkau memaksa dia akan semakin menjauh. "Salam dari Semar yang akan dilupakan" yang hanya melihat kalian dari kejauhan dan tak bisa berbuat banyak. Belajarlah untuk ihklas dan sabar.

    ReplyDelete