Dec 21, 2014

Bapak dan Sepeda Motor



Tanggal 4 Desember 2014, menjelang pukul tiga sore, kakak menelepon. Sesenggukan, dia memintakan maaf untuk bapak, sebelum berkata bahwa bapak meninggal karena kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor. Saya yang sedang menyuntuki komputer di meja kerja hanya bisa bingung untuk sesaat, tertegun dan tidak percaya. Sama sekali tidak percaya.

Untunglah, beberapa saat kemudian saya berhasil menguasai keadaan. Saya menitipkan KTP kepada seorang kawan, meminta dipesankan tiket pesawat keesokan harinya. Saya sendiri meminta izin ke kepala kantor, pulang ke kosan, memesan travel dan memberesi pakaian seperlunya untuk dibawa. Saat itu saya bahkan tidak sempat merayakan kesedihan dengan menangis sepuasnya. Membayangkan lamanya perjalanan darat dari Bangko ke Jambi, dilanjut pesawat menuju Jogja yang transit dahulu di Jakarta, lantas meneruskan perjalanan darat lagi ke Purwokerto membuat saya lelah sebelum berangkat.

Dua puluh empat jam. Saya bergumam sendirian. Dan dua puluh empat jam kemudian, ketika saya turun di depan rumah dan sayup-sayup mendengar banyak orang mengaji, saya baru tersadar. Salah satu orang yang saya sayangi telah meninggal dunia: bapak. Bapak yang sedang rajin-rajinnya beribadah sampai-sampai bapak tak pernah ketinggalan shalat berjamaah. Bapak yang beberapa hari sebelumnya mengirimi saya pesan singkat, meminta dibelikan pemutar DVD agar bapak bisa menyaksikan pengajian-pengajian melalui layar televisi.

Nov 12, 2014

Perdamaian dalam Cangkir Kopi


Seorang kawan—dia seorang Batak—pernah bercerita tentang adat istiadat di tempatnya. Menurutnya, jika ada dua orang lelaki yang sedang bertengkar dan kau ingin mengidentifikasi apakah keduanya masih melanjutkan perselisihan atau sudah berdamai, coba tengok: apakah dua orang tersebut sudah berada di satu meja sembari minum tuak. Kalau jawabannya adalah iya, dapat dipastikan bahwa mereka telah menyudahi semua permasalahan di antara mereka dan bersepakat untuk melupakannya. Yang barangkali perlu kautahu, kata kawan tadi, ucapan maaf tidak begitu diperlukan. Mereka lebih butuh bukti berupa perbuatan, yaitu dengan cara minum tuak bersama. Barangkali kawan tadi menggeneralisasi sebuah keadaan yang tidak semua Batak mengalaminya. Mungkin juga ceritanya bias gender. Tetapi, peristiwa berdamai tanpa sebuah kata maaf sungguh menarik buat saya.

Oct 10, 2014

Semesta Rindu

Aku tidak merindukan kamu. Tetapi selalu ada ruang yang kosong ketika aku tiba-tiba teringat kepadamu. Selalu ada saat di mana aku terbangun dengan badan basah oleh keringat, dada yang tiba-tiba menjadi sesak dengan nafas tak teratur, serta pandangan kosong untuk sesaat setelah menyadari bahwa aku baru saja memimpikanmu. Selalu ada malam ketika aku ingin menuliskan berjuta kabar yang telah lama tak kubagikan kepadamu, tetapi buntu.

Ada jarak yang belum memiliki satuan tepat di antara kita. Jarak yang kian memuai seperti semesta raya berkembang dan menjauh setelah pada suatu masa pernah bersama. Planet-planet yang dahulu terlalu berdekatan hingga tampak saling menyatu perlahan-lahan meninggalkan posisinya karena sebuah ledakan besar. Sebuah ledakan yang ternyata cukup untuk bisa membuat segalanya tidak lagi sama. Aku masih di sini, tentu saja. Masih memelihara ego dan merasa bahwa akulah pusat dari semestamu. Masih tidak sadar kau sudah jauh mengambil langkah tegasmu untuk tidak lagi menanggapi semua ucapanku.

Bahkan dalam ramai yang paling riuh sekalipun sesekali kamu hadir. Mencipta lubang hitam yang begitu besar dan mengerikan, menyedot sebagian dari diriku tanpa sinyal kemungkinan untuk kembali. Mengajakku kembali pada masa ketika aku masih bisa berbincang akrab denganmu. Hal-hal remeh seperti kamu yang merencanakan liburan setelah penat oleh hari-hari penuh tekanan pekerjaan. Lembur dan keteledoran yang menyebabkan kamu marah kepada dirimu sendiri. Atau sayuran yang enggan kamu makan karena tidak cocok dengan selera lidahmu. Beberapa klise seringkali membuat bosan. Pertanyaan-pertanyaan kapan makan, sedang apa, hingga sapaan selamat pagi yang jauh lebih tepat waktu daripada jam berangkat kerjamu. Tetapi pada sebuah jeda sangat aku inginkan kehadirannya. Seperti rima yang selalu berulang pada sajak. Semua orang telah mengetahui teorinya dan berhasil dibuat jenuh olehnya. Tetapi, tanpanya, sebuah sajak hanyalah menjadi barisan kata-kata miskin keindahan.

Aku tidak akan mengatakan aku rindu kamu. Setidaknya, hingga surut banjir hujan amarahmu. Hingga nanti aku bisa memegang tanganmu, menggenggamnya dengan sisa-sisa kelembutan yang kuharap masih ada, dan meminta maaf karena pernah sangat menyakitimu.

Sep 28, 2014

Ulasan Kawan

gambar diambil dari blog Palupi

Dua kawan baik saya, Andreas Rossi dan Palupi Sunarwati, memberikan komentar mereka atas buku saya, Tentang Cerita yang Belum Kuceritakan Padamu. Sebagai catatan, ini adalah buku terbatas yang tidak saya edarkan kecuali kepada beberapa kawan dekat. Dan karena saya tidak bisa membagikan buku tersebut, ada baiknya kau membaca ulasan mereka di bawah ini:

***

Jika dan hanya jika kau bertanya mengapa saya mengepos ulasan dari Andre dan Palupi di blog sedang saya tidak menjual maupun membagikannya, ini adalah jawaban saya: postingan kali ini dimaksudkan sebagai arsip buat saya sendiri. Toh saya sadar betul pengunjung blog ini tidak seberapa. Tabik.

Sep 21, 2014

Memilih Buku

Bagaimana cara memilih buku?

Beberapa kali pertanyaan tersebut saya ajukan kepada diri sendiri, terutama ketika sedang berada di toko buku. Memilih buku akan menjadi salah satu kegiatan yang paling sulit. Keraguan dan ketakutan memilih buku yang salah dan tidak sesuai selera menjadi bahan pertimbangan yang berat. Meskipun sesungguhnya alasan utama munculnya pertanyaan tadi adalah karena pilihan buku yang menunggu untuk dibeli begitu banyak, begitu menggoda serta terlihat menarik, namun alokasi dana untuk membeli buku demikian kecil. Hal yang terlihat kemudian adalah saya berputar-putar mengelilingi toko buku dan memasang wajah seperti orang kebingungan.

Pertanyaan tersebut muncul sebab kenyataan menunjukkan bahwa memilih buku seringkali menjadi tindakan membeli kucing dalam karung, baik membeli langsung, apalagi melalui toko buku daring. Memang terkadang saya dapat melihat contoh buku yang sengaja dibuka untuk dijadikan referensi pembeli. Tetapi kebanyakan toko buku membiarkan buku-bukunya dalam keadaan masih disegel plastik. Saya tidak diperbolehkan melongok isinya sama sekali, kecuali membaca blurb di bagian belakang buku yang sebetulnya hanyalah media promosi--yang tidak selalu mencerminkan isi buku secara keseluruhan.

Sep 18, 2014

Urgensi Naik Gunung di Hari Kemerdekaan

Banyak cara untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh di bulan Agustus. Kantor-kantor, baik pemerintah maupun swasta, sibuk bersolek. Upacara dipersiapkan dengan matang. Parade baris-berbaris pun dilaksanakan dengan meriah. Selain peringatan macam demikian, banyak pula yang memilih prosesi yang lebih hebat—mengibarkan bendera Merah Putih di dasar laut maupun di puncak gunung, misalnya. Dibilang “banyak”, karena sejak beberapa tahun terakhir, peringatan hari kemerdekaan dengan cara demikian seolah menjadi hal yang biasa. Terutama dengan bantuan teknologi yang semakin mempermudah manusia hari-hari ini.

Mendaki gunung memang menyenangkan. Ada kebanggaan tersendiri ketika kita bisa berada di tempat yang jauh lebih tinggi daripada tanah yang biasanya kita injak. Sebuah novel (yang kemudian difilmkan) mengenai lima sekawan yang akhirnya berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di Jawa dan merayakan sakralitas upacara bendera di sana semakin menguatkan hal tersebut. Lantas orang pun ramai-ramai mengikuti jalan tersebut. Mereka lupa setidaknya dua hal. Yang pertama, lima sekawan di dalam novel tadi, meskipun dibilang terinspirasi dari kisah nyata, tetaplah manusia-manusia fiksi. Banyak hal terpaksa dipoles agar cerita terlihat lebih menarik. Dan yang kedua, meskipun tampak mudah, alam selalu memiliki bahayanya sendiri.

Sep 13, 2014

Galih Rakasiwi: Ucapan Selamat dan, Katakanlah, Sebuah Tantangan

Galih Rakasiwi merupakan salah seorang yang memiliki momentum terbanyak dalam linimasa kehidupan saya di kampus, di Bintaro. Saya mengenalnya pada awal kuliah karena kami satu kelas pada tingkat satu. Kemudian saya menyadari bahwa kami memiliki banyak kesukaan di bidang yang sama. Musik, membaca, olahraga, dan satu hobi yang baru kami temukan bersama pada akhir masa kuliah: menulis. Demi memenuhi hasrat yang terakhir, saya dan dia merelakan waktu-waktu untuk menyambangi warnet, bersepakat membikin blog masing-masing. Sebuah langkah awal yang di kemudian hari menjadi ide menghimpun kawan-kawan di birokreasi.

Galih adalah sosok yang tidak selalu saya jumpai karena dia masih sering pulang ke rumahnya yang tidak jauh-jauh amat di Jakarta Timur. Namun hampir bisa dipastikan dia bersedia ketika saya mengajaknya pergi menghindar dari pandangan gedung kampus yang membosankan. Entah dari sekadar melepas penat di warung kopi maupun berbelanja sepatu bajakan di Taman Puring dan pakaian yang aduhai di Mal Blok M. Sering pula saya hanya parkir di kosnya, meminjam koleksi majalah yang rutin dia beli serta tidak lupa membikin berantakan kamarnya yang demikian rapi bak milik perempuan.

Sep 3, 2014

Bertemu dengan Pak Slamet

Tempo hari, tepatnya tanggal 24 Agustus 2014, Bandung sedang asyik-asyiknya. Meskipun pada siang hari macet seperti layaknya kota-kota lain di Indonesia yang sarat keputusasaan (ini membuat saya sempat memaki-maki karena waktu saya yang hanya dua hari di situ makin berkurang), malamnya dingin dan memunculkan semangat beranjangsana. Karena alasan itulah, saya menghubungi  seseorang dan meminta izin berkunjung ke kediamannya.

Orang tersebut adalah Slamet Rianto. Beliau adalah seorang pejabat eselon IV di Direktorat Jenderal Pajak yang kebetulan sedang menikmati kantor barunya di Bandung (hehehe ampun pak!). Tetapi mengingat pertemuan pertama kami waktu itu (sebelumnya saya hanya berkomunikasi dengan beliau di media sosial), beliau lebih terasa sebagai kawan akrab yang menyenangkan ketimbang atasan yang seringkali menyebalkan. Usianya yang cukup matang untuk tidak dibilang sepuh tersamarkan oleh humor-humor yang menunjukkan bahwa beliau masih berjiwa muda.

Aug 13, 2014

Macan yang Berpengaruh

Ada yang salah, setidaknya menurut pandangan saya, ketika Kompas merilis daftar travel blogger yang berisikan 17 orang pejalan berpengaruh dari Indonesia (bisa dibaca di sini). Postingan yang merujuk pada situs ziliun.com dan ditujukan untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ini menimbulkan dua kekecewaan. Yang pertama adalah direndahkannya level penulis perjalanan kawakan Ayos Purwoadji dengan menempatkan dia di nomor buncit daftar tersebut. Barangkali penyebabnya adalah rehatnya blog hifatlobrain.net yang dikelola oleh Ayos. Jika saja Penulis artikel jeli dan mau berpikir sedikit lebih lama, tentu dia akan tahu bahwa Ayos sedang melakukan riset dan membuat konsep baru yang akan jauh lebih bermanfaat bagi pejalan di tanah air. Yang kedua, dan ini mengesalkan, adalah tidak dimasukannya satu nama yang lagi-lagi sedang rehat dari penulisan catatan perjalanan, tetapi tentu saja telah melegenda: Aunurrahman Wibisono.

Jul 19, 2014

Pekan Mengaji

Bulan Ramadan adalah bulan yang, menurut para ulama, sungguh mulia. Begitu mulianya sampai-sampai apapun yang kita lakukan akan menjadi pahala--bahkan dilipatgandakan. Akan tetapi urusan mencari pahala tidak sekadar kau memperbanyak ibadah yang berupa ritual belaka; puasa, shalat tarawih, ataupun membaca Al Quran. Hal-hal demikian saya yakin telah diperhitungkan dengan sangat baik oleh Allah SWT dan tak perlu diperdebatkan lagi. Jauh lebih luas dari itu, bagi saya, Ramadan adalah saat yang tepat untuk mencari berbagai bacaan tentang Islam, menekurinya untuk kemudian mempertanyakan lagi keimanan diri.

Karena itulah, saya memutuskan untuk mengambil beberapa buku dari rak dan mempelajarinya. Pekan ini pilihan jatuh kepada dua buah buku. Yang pertama berjudul Pergulatan Iman, kumpulan wawancara mengenai pengalaman religi beberapa tokoh kenamaan yang disunting Nong Darol Mahmada. Judul kedua adalah Islam di Mata Orang Jepang: Ulil, Gus Dur, Sampai Ba'asyir. Ini juga hampir sama karena bercerita tentang pengalaman seorang Jepang bernama Hisanori Kato dengan tokoh-tokoh Islam di Indonesia. Bedanya, Kato tidak berfokus kepada pengalaman religi, melainkan menggali ideologi tokoh-tokoh tersebut. Walaupun kemudian yang dia tulis hanya sebatas kulit luar dan malah cenderung bercerita tentang kesan pertemuan dengan mereka.

Jun 25, 2014

Juni Kesekian

Juni selalu menyapaku dengan terburu-buru. Pun kali ini, dia menepuk pundakku dan mengingatkan bahwa dia datang hanya untuk kembali pergi. Berita buruknya, sekarang semua tak sama lagi. Yang dulu pernah menegur dengan hangat, terpaksa berubah memalingkan muka. Keikhlasan selalu menyusahkan. Memang.
 /
Ada yang pecah ditelan ombak keegoisan. Jatuh berserakan. Semangkuk penuh kepercayaan yang dulunya telah susah payah dituangkan; tetes demi tetes. Semangkuk yang tumpah dan mengalirkan sungai air mata. Kekecewaan, katamu suatu ketika, merupakan helai-helai baju sehabis pakai yang kerap ditaruh begitu saja di pojok kamar. Tak seorang mau peduli, pada mulanya. Hingga tiba saatnya kotor yang kita simpan menumpuk meminta penjelasan.
//
Tiap tahun Sapardi didendangkan berulang kali: selarik bait tentang Hujan di bulan Juni. Berulang. Dan terus berulang. Berulang tanpa pernah menemui kebosanan dalam sunyi. Barangkali itu sebabnya dia memperoleh gelar sebagai makhluk paling tabah. Selalu datang meski tak ada lagi yang dia cari.
///
Selamat ulang tahun Juni. Kepadamu, segala doa dan kebaikan kupanjatkan.

Jun 10, 2014

Masih Ingin Bertambah Tua, Ndre?

Sebelum mengawali surat yang kutujukan kepadamu ini, Andreas Rossi, aku harus jujur mengenai satu hal. Aku ingin menertawai dirimu. Maafkan jika aku nampak kurang sopan karena berkata seperti itu. Seperti orang yang tidak pernah berkaca sebelum mencela orang lain, memang. Tetapi begitulah adanya. Sebetulnya aku hendak menertawai masing-masing dari kita. Menertawaimu, juga menertawai diri. Karena barangkali hal serius yang susah dilakukan oleh manusia adalah menertawai nasibnya sendiri yang seringkali lebih komikal dari cerita fiksi macam apapun juga.

Tentu kautahu kalau aku memiliki alasan untuk menuliskan hal remeh seperti di atas sebagai pembuka. Meski tak sepintar dirimu, aku selalu mencoba untuk berpikir terlebih dahulu ketika ingin melakukan sesuatu. Begitu pun kali ini. Tentang kenapa aku ingin menertawai dirimu, adalah sesuatu yang bukan main-main. Kalau boleh, izinkan aku meminta waktumu barang satu-dua menit untuk membaca tulisan pendekku. Tulisan yang sengaja kubuat sebagai, katakanlah, ucapan selamat ulang tahun untukmu.

Aku memilih untuk tertawa bukan karena aku ingin membalas candaan-candaan yang kerap kautujukan untukku. Bukan. Apalagi karena aku merasa sedang di atasmu dan bisa melihatmu dengan pandangan penuh cela. Tentu saja tidak mungkin. Orang sepertimu hampir mustahil berada pada level yang lebih rendah dari aku. Cerdas, punya ingatan fotografis, tampan, terbiasa dengan pujian, juga bergelimang penggemar. Aku takkan mampu sampai pada tahapan tersebut. Aku ingat beberapa saat lalu aku mampir ke kamar kosanmu di Jakarta. Pada salah satu sudut dinding di kamarmu aku melihat styrofoam yang ditempeli berbagai kertas bertuliskan kesan dan pesan dari kawan yang kautemui di reuni akbar Ikanas tahun lalu. Hampir semua menuliskan hal yang serupa. Tentang kekaguman mereka kepada kecerdasanmu. Julukan-julukan seperti "Einstein Baru" yang disematkan kepadamu semakin mengukuhkan kebenaran akan premis yang telah aku kemukakan sebelumnya.

May 8, 2014

#18

Barangkali aku akan mulai mengurangi kebiasaanku membeli buku.

Bukan karena aku tidak lagi menyukai buku. Bukan pula karena aku sudah kelelahan untuk membagi waktu di antara jam kerjaku. Sepertinya kamu mengerti betul bagaimana aku mencintai buku, bagaimana aku menjadikannya barang koleksiku. Bau kertas dari buku yang baru dibuka sungguh menggoda. Ketika kubalik lembar demi lembarnya, bau sedap segera saja menguar di udara. Macam itulah perasaanku kepada buku. Bahkan seringkali aku membeli sebuah buku walau aku sudah memiliki buku yang sama. Biasanya buku tersebut baru berupa buku digital, beberapa kali karena sudah kuberikan pada orang atau hilang. Karenanya, aku memahami mengapa Bung Hatta pernah memarahi orang yang mencoret-coret bukunya dan meminta orang tersebut menggantinya dengan yang baru.

Tetapi ironisnya kegemaranku membeli buku malah diusik oleh satu judul buku yang kubaca. Lebih tepatnya, sebuah puisi berjudul Catatan. Biar kautahu juga isi puisi itu, aku akan mengetik ulang di sini.
udara AC asing di tubuhku
mataku bingung melihat
deretan buku-buku sastra
dan buku-buku tebal intelektual terkemuka

tetapi harganya
Ooo.. aku ternganga
musik stereo mengitariku

penjaga stand cantik-cantik
sandal jepit dan ubin mengkilat
betapa jauh jarak kami
uang sepuluh ribu di sakuku
di sini hanya dapat 2 buku

untuk keluargaku cukup buat
makan seminggu
gemerlap toko-toko di kota
dan kumuh kampungku
dua dunia yang tak pernah bertemu

Apr 13, 2014

Tiga di Dua Ribu Empat Belas

Ketika di awal tahun saya memperoleh kabar bahwa Eka Kurniawan, AS Laksana, dan Puthut EA akan menerbitkan buku kumpulan cerpen yang baru, hati saya melonjak kegirangan. Betapa tidak? Ketiga penulis (Puthut EA sampai detik ini masih ngotot tidak ingin disebut sebagai sastrawan) tadi adalah penulis-penulis favorit saya. Waktu itu saya bahkan sempat bergumam bahwa tahun ini adalah tahun sastra. Kumpulan cerpen masing-masing dari mereka yang baru pasti akan melecut banyak nama lain untuk segera menyelesaikan karyanya dan menyusul menerbitkan buku pula.

Rupanya perkiraan saya sedikit keliru—jika tak mau dibilang salah. Rupanya informasi yang saya peroleh di awal tahun baru sepotong. Menjelang hari penerbitan buku saya baru tahu ternyata, dari ketiga nama penulis yang saya sebut di atas, tidak ada yang betul-betul menerbitkan buku, dalam artian memproduksi tulisan baru, cerpen-cerpen baru. Mereka (Puthut menerbitkan 3 buku dengan 1 buku di antaranya memiliki label cetak ulang) “hanya” mengemas ulang kumpulan cerpen lawas. Mengemas ulang berarti menerbitkan kembali cerpen-cerpen lama dengan disisipi beberapa cerpen yang belum pernah diterbitkan atau mengedit cerpen lama agar dengan versi yang sedikit berbeda (ini diakui Eka Kurniawan di bagian Catatan di akhir buku untuk proses pengerjaan bukunya Gelak Sedih).

Apr 12, 2014

Penempatan dan Hal-Hal yang Belum Selesai

*sebuah catatan pendek untuk penempatan pertama

Awal April 2013 adalah kali pertama saya melangkahkan kaki ke pulau Sumatera--tepatnya di Bangko, satu kota kecil di provinsi Jambi. Pada waktu itu, setelah mendarat dari pesawat, dengan kebingungan luar biasa saya mencari cara menuju ke kota tempat saya berdinas. Rupanya saya tak sial-sial amat. Di bandara, beberapa orang menjemput kawan yang penempatan di daerah  Jambi juga, dan berbaik hati mengantar saya dan seorang kawan lainnya meskipun "hanya" sampai di tempat menanti travel yang baru berangkat beberapa jam kemudian.

Menjelang tengah malam, sampailah saya di Bangko, tempat yang sama sekali asing bagi saya. Kurangnya jam tidur serta kelelahan setelah 6 jam perjalanan (belum ditambah sekira 7 Jam perjalanan kereta api dari Purwokerto menuju Jakarta pada malam sebelumnya, juga jeda waktu menunggu di antara itu) mengantar saya tiba di sebuah kantor tempat saya bekerja hingga saat ini. Saya (bersama seorang kawan yang disebut di atas) disambut banyak orang. Sebagian besar pegawai sama-sama berstatus sebagai perantau sehingga membuat rasa kebersamaan begitu kuat. Setelahnya, tak terhitung berapa banyak sudah bantuan yang mereka berikan. 

Setahun telah berlalu. Di sini saya belajar jauh lebih banyak dari apapun yang pernah saya peroleh di bawah bayang-bayang orang tua dulu. Di setiap ujung Indonesia lain pun, di banyak tempat yang jauh lebih melelahkan dan tidak nyaman, kawan-kawan saya sedang berjuang. Untuk masa depan. Untuk orang-orang yang mereka cinta. Mereka, saya rasa, tidak ingin dianggap sedang bernasib buruk. Setiap dari mereka hanya sedang diberi kesempatan untuk belajar lebih. Sama seperti saya. Melalui tulisan ini saya berdoa untuk mereka. Juga untuk saya sendiri. Semoga kita memperoleh apa yang berhak kita peroleh. Dan semoga memang itulah yang benar-benar terbaik bagi kita semua.

Dan sebagai penutup, saya ingin mengutip (baca: memelesetkan) ungkapan Socrates: jika kau memperoleh penempatan yang indah, kau akan bahagia. Jika kau memperoleh tempat yang jelek, kau akan menjadi filsuf. Benar?

Apr 9, 2014

Nikah Juga, Zahara

Suatu pagi, seorang perempuan berdandan dengan cantiknya. Orang-orang hilir mudik di sekitar si perempuan, baik untuk membantunya berdandan maupun membereskan keperluan lain. Kebaya dengan aksen Jawa yang kental disertai kerudung warna putih yang baru dia beli beberapa hari lalu menambah cerah wajahnya yang sudah berseri-seri sebelumnya. Meskipun dia nampak sedikit mengantuk karena kurangnya jam tidur, keceriaan wajahnya tidaklah bisa disamarkan dengan cara apapun juga. Semakin dia mencoba untuk menutupi, semakin jelas terlihat bahwa dia sangat bersemangat menyambut datangnya pagi itu. Pagi yang dia yakini akan mengubah jalan hidupnya. Selamanya.

Kemudian si perempuan melangkah menuju tempat di mana beberapa perlengkapan sudah disiapkan baginya. Sebuah kursi, gayung, dan gentong berisi air. Tidak lupa kembang-kembang dan rerupa wewangian. Dia, si perempuan, akan mengikuti siraman. Sebuah prosesi sakral yang dinubuatkan kepada orang-orang sebelum pernikahan. Tentu siraman bukanlah kewajiban sebab bagaimanapun juga, pelan-pelan tradisi ini mulai ditinggalkan karena berbagai alasan. Tetapi biarlah. Cerita tetap berlanjut. Si perempuan telah duduk di kursi tadi. Dengan sedikit kegugupan, dia menunggu acara dimulai.

Tidak berapa lama, orang-orang yang dikasihi si perempuan mendatanginya. Ayahnya, ibunya, serta beberapa orang lain bergilir menyirami dia. Saat itu kegembiraan yang ditampakannya di awal hari perlahan mengendur. Bukan karena dia menjadi sedih. Namun bayangan tentang apa yang akan terjadi dengan hidupnya di masa depan hinggap serentak sehingga pikirannya bercampur-aduk. Pada momen genting, kautahu, terkadang beberapa hal kecil justru iseng mengganggu. Tentang kakaknya yang sudah terlebih dulu menikah. Atau tentang adiknya yang akan kehilangan teman berbincang paling baik sedunia. Tentang candaan teman-teman sepermainannya. Atau—dan ini yang paling penting—tentang apa saja yang dia tahu dan dia belum tahu tentang calon suami yang segera menjadi pengisi hari-harinya. Setiap detik berikut selama sisa usianya.

Mar 28, 2014

Pengumuman: Arfindo Briyan Ulang Tahun!

Parameter kedekatan relasi antarmanusia tidak selalu diukur dari seberapa lama manusia-manusia tersebut saling berhubungan. Seringkali saya merasa beberapa kawan yang telah lama saya kenal justru kian hari kian jauh, dalam artian bertambah renggang karib keakrabannya. Sebaliknya, banyak yang baru saya temui malah langsung terasa cair. Lumer dan hilang jarak dalam percakapan.

Arfindo Briyan Santoso adalah salah satunya. Saya biasa memanggilnya "mas" Findo karena dia lebih tua walaupun di kampus satu angkatan. Sepanjang ingatan saya tidak salah, saya belum lama mengenal dia--bahkan baru sempat bertemu beberapa bulan lampau. Tetapi sungguh banyak topik obrolan yang telah khatam kami bahas. Mulai dari berbagi tips menulis hingga jodoh dan restu orang tua. Sungguh banyak hal yang telah saya minta dari dia, baik atas nama personal maupun dalam rangka urusan bersama (saya telah mengajaknya--lebih tepatnya memaksa--bergabung di birokreasi).

Tengoklah; header blog saya ini adalah hasil kerja dari dia. Contoh lain, saya pernah meminta mas Findo membawakan bunga kepada seseorang di acara wisudanya meski dia hadir di acara tersebut karena panggilan tugas (dia adalah awak media keuangan sehingga memiliki jobdesk yang membikin saya iri macam itu!). Pernah pula saya memesan buku ketika dia ada urusan dinas di Bangko (nah kan, kurang bikin iri apalagi?). Terakhir, saya memintanya membuat poster untuk mengiklankan buku Kuda Besi dari birokreasi. Mulanya dia menolak karena kesibukan kantor tidak mengizinkannya untuk berbagi waktu. Tetapi akhir pekan kemarin tiba-tiba saja kotak masuk surel saya memunculkan notifikasi darinya. Tanda bahwa pesanan poster telah tuntas dilaksanakan.

poster ciamik ini pun bikinan mas Findo!

Mar 10, 2014

Yang Tersisa dari Januari

(i)
Barangkali pertemuan bukanlah sebuah kemewahan yang perlu dirayakan berlebihan. Pertemuan adalah kita tak sengaja berada di sisi jalan yang sama pada sebuah perempatan. Saling sapa barang sebentar. Menanti lampu merah yang segera usai. Setelah itu membunyikan klakson lantas pamit melanjutkan perjalanan. Tiada guna jerit heboh dan saling berteriak. Sebab apapun selalu lesap di antara deru mesin dan arus waktu. Ribut dan keriuhan adalah segala hal yang bernama kesia-siaan. 

(ii)
Begitu pun dengan sesuatu yang kita sepakati dengan nama perpisahan. Dia sudah dituliskan jauh sebelum tangisan pertama manusia di dunia pecah. Malaikat yang dulu mendampingimu, dan malaikat yang mengunjungi rahim ibuku, pernah diam-diam bersepakat untuk mempertemukan aku denganmu barang sejenak hanya untuk dibubarkan kemudian.

(iii)
Aku dan kamu adalah kaum Baginda Raja Nimrod. Bermodal keangkuhan yang begitu besar kita coba melanggengkan pertemuan, membangun menara megah di bawah satu tujuan. Tanpa kita sadari semua akan berakhir dengan perceraian. Yang paling menyakitkan, semua kata masing-masing dari kita menjadi asing belaka. Aku terjatuh dalam kegagapan berbicara. Kamu terdiam dan tak bisa mendengar apa-apa.

(iv)
Sejak itu aku tahu bahwa bahasa adalah palsu. Buktinya tidak juga ada bahasa yang mampu mempersatukan orang-orang yang telah ditakdirkan untuk berpisah. Termasuk aku dan kamu. Kita. Dan segala sebutan yang pernah kamu sematkan untukku. Mereka fatamorgana di jalan raya yang amat terik. Fana yang lekas hilang seketika kita datang. 

Feb 20, 2014

Pak Tua yang Pragmatis dan Penguasa yang Tak Berguna

Dalam lingkup sekecil apapun, kau dapat mengidentifikasi penguasa yang sebetulnya tak berguna tetapi merasa penting hanya karena jabatannya.

Luis Sepulveda, seorang pengarang dari Chili, menggambarkan hal tersebut pada novel “Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta” (judul aslinya adalah Un viejo que leia historias de amor). Novel pendek yang bercerita tentang kehidupan di El Idilio, sebuah wilayah di daerah Amazon ini adalah sebuah kritik terhadap otoritas yang seenaknya menggunakan kewenangan untuk menindas rakyat yang seharusnya dia lindungi. Luis Sepulveda bahkan pernah dipenjara dan diasingkan oleh rezim pemerintahnya sendiri karena aktivitas politiknya meresahkan penguasa macam itu. Merasa de javu? Bisa jadi. Sebab kau pernah merasa sangat dekat dengan tokoh seperti itu di negeri ini: Pramoedya Ananta Toer.

Kekuasaan yang sewenang-wenang memang tak mengenal batas teritorial. Dalam lingkup besar macam negara, kota, organisasi, bahkan hingga lingkungan kerja dan keluarga, kesewenang-wenangan itu selalu nampak nyata. Di novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta, Luis Sepulveda menulisnya dengan deskripsi awal yang terang-benderang: Pak walikota, satu-satunya pegawai negeri, otoritas tertinggi, dan wakil sebuah kekuasaan yang terlampau jauh untuk bisa menebar rasa takut, adalah seorang lelaki tambun yang tak berhenti berkeringat. Deskripsi tersebut kemudian berlanjut. Walikota tambun tersebut digambarkan cukup buruk untuk membuatmu membencinya. Ia datang membawa kegemaran menaikkan pajak tanpa alasan yang jelas. Ia berusaha menjual izin berburu dan memancing di wilayah tak bertuan. Ia pungut retribusi atas hak para penebang mengumpulkan kayu-kayuan basah di sebuah rimba yang jauh lebih tua ketimbang negara manapun.

Jan 20, 2014

Dendam dan Sakit Hati

Aku ingin menceritakan kepadamu satu kisah sakit hati seorang ksatria.

Ksatria tersebut bernama Basusena. Sering pula dijuluki Sutaputra, yang berarti anak kusir. Atau, jika kau pernah membaca kisah pewayangan barang sedikit, kau akan lebih mengenalnya dengan nama Karna. Putra Batara Surya yang dibuang oleh ibu kandungnya dan ditemukan hanyut di sungai oleh si kusir kereta, Adirata. Selanjutnya, Karna diangkat anak oleh Adirata. Dia "dibaptis" masuk ke dalam golongan kusir yang dianggap rendah dan tanpa seorang pun mengetahui fakta bahwa dia adalah seorang ksatria.

Sebelum aku melanjutkan cerita, aku hanya ingin memastikan kau paham bahwa tujuanku menulis ini adalah agar kau tahu betapa menyakitkannya dipandang rendah dengan sebelah mata.

Karna tentu begitu akrab dengan hal tersebut. Sebagai anak kusir, dia terbiasa memperoleh perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka yang berkasta lebih tinggi. Tak sekalipun dia dihargai layaknya sesama manusia. Sayembara untuk memperistri Drupadi yang telah dia menangkan ditolak mentah-mentah oleh calon istri yang jijik dengan kondisinya. Bahkan orang-orang semulia Pandawa pun tak ketinggalan menolak ajakan bertanding dari Karna dengan satu alasan penuh penghinaan: dia dan Pandawa tidak berangkat dari golongan yang sederajat.

Jan 19, 2014

Mau Apalagi, Birokreasi?

Saya ingat tanggal itu: 8 Februari 2013.

Jumat sore, sepulang kerja, saya membeli tiket bus jurusan Purwokerto - Jakarta. Kepergian mendadak untuk menemui beberapa orang kawan keesokan harinya. Tujuannya adalah membahas sebuah proyek kecil di dunia tulis-menulis. Apa boleh buat, obrolan yang dimaksudkan sebagai pembahasan konsep proyek mentok di beberapa hal karena kami semua--saya, Fanny Perdhana, Galih Rakasiwi, Marli Haza, Anugerah Dwi Priadi--hanyalah amatiran yang ingin melepaskan hasrat dan kemauan (bukan kemampuan) menulis. Seingat saya, waktu itu kami hanya sepakat mengenai beberapa detil pembuatan sebuah web untuk menampung tulisan-tulisan kami. Ada juga niatan mengundang kawan-kawan untuk ikut menyumbangkan tulisan mereka di web ini. Nama web sendiri telah ditentukan sebelum pertemuan: Birokreasi.

pertemuan pertama kami, hampir setahun lalu

Jan 17, 2014

Dihinggapi Tokoh Fiksi

Belakangan ini saya merasa sering dihinggapi roh dari beberapa tokoh fiksi yang pernah saya baca. Baiklah, barangkali ini adalah kekonyolan. Saya bahkan ingin menertawakan diri sendiri saking bodohnya hal yang sedang saya alami. Tetapi justru itulah letak permasalahannya. Begitu hebatnya gangguan tersebut hingga membikin saya susah tidur. Roh-roh mereka memaksa saya merasakan apa yang mereka rasakan dan ikut memikirkan apa yang mungkin mereka rasakan di dalam cerita fiksi di mana mereka dikisahkan.

Tokoh yang pertama-tama datang adalah Holden Caulfield dari The Catcher in The Rye. Dia membuat saya sinis pada orang-orang di sekitar saya. Apalagi karena lingkungan kerja saya memungkinkan saya untuk bersikap seperti itu. Holden beberapa kali mencela saya dan berkata, "ayolah kau pun tahu orang-orang di depanmu adalah sekumpulan hipokrit. Mereka sedang tersenyum palsu hanya karena seragam yang mereka kenakan menuntut mereka untuk bersembunyi di belakang formalitas. Apa kau mau ikut perlombaan dan memenangkan piala kepalsuan?" Cibiran semacam ini tentu saja membuat saya marah. Bahkan dia pun dengan sengaja mendendangkan lagu kebanggaan Thom Yorke yang terkenal itu, Fake Plastic Trees, untuk memancing saya. Tapi apa boleh buat. Yang Holden katakan merupakan sebuah kebenaran belaka. Tinggallah saya yang terbengong-bengong memikirkan hal yang sebetulnya telah saya ketahui.