Dec 30, 2013

Quarter Life Crisis: Matinya Masa Muda Seorang Nuran Wibisono dan Nasihat Cinta yang Bijaksana

"Ditolak tepat di depan pintu rumah seseorang itu tidak seberapa mengesalkan ketimbang diminta masuk hanya untuk dihina dan diusir beberapa saat kemudian," tutur mas Nuran mengawali pembicaraan.

Sekira bulan Oktober kemarin saya mengambil cuti dan menyempatkan diri berkunjung ke Jogja. Sesampainya di Jogja saya menghubungi mas Nuran dan berjanji untuk bertemu di sebuah kafe untuk berbincang santai barang sejenak. Tak cukup sampai di situ, mas Nuran lalu meminta saya untuk menginap di kontrakannya dan melanjutkan pembicaraan. Jadilah saya kemudian mengirim pesan singkat kepada seorang kawan, mengabarkan bahwa saya tak jadi menginap di tempatnya.

Lewat tengah malam saya membonceng mas Nuran pulang, membelah dinginnya malam Jogja. Di tengah jalan saya meminta mas Nuran untuk berhenti di salah satu minimarket untuk membeli perlengkapan mandi, air minum, serta sedikit cemilan. Agak lama di minimarket karena mas Nuran usrek di salah satu pojokan seperti mencari sesuatu. Ketika ditanya, dia menjawab, "aku lagi nyari bir lokal (sambil menyebut nama salah satu merk bir), tapi ternyata nggak ada. Yasudahlah."

Sempat heran mengapa di tengah udara sedingin ini mas Nuran memilih bir dibanding minuman hangat macam kopi atau teh manis, akhirnya saya mendapat jawaban setiba kami di kontrakan. Belum juga saya menyelonjorkan kaki di lantai kamar, mas Nuran langsung membuka kembali obrolan kami yang sempat terputus.

"Kalau cintamu ditolak, sumber penderitaanmu hanya ada satu, yaitu penolakan itu sendiri. Tapi yang timbul akibat dikhianati paling tidak ada dua: fakta bahwa dia sebenarnya tidak menginkanmu--ini sama seperti ditolak sebetulnya, serta bagaimana getirnya didustai."

Akhirnya saya paham mas Nuran sedang ingin menasihati saya alih-alih membangkitkan bahan bincangan dengan bercanda seperti biasa. Malam itu lalu kami habiskan dengan bicara serius, terutama perihal cinta dan masa muda. Tentang harapan yang kandas atau keinginan yang tertunda. Tentu saja, seperti biasa mas Nuran kembali mencontohkan kisah cinta pahitnya yang termahsyur itu kepada saya. Mas Nuran menceritakan pengalamannya gagal menjalin hubungan dan dikhianati. Lalu patah dan luka. Kemudian mencoba kembali tertawa seperti sedia kala.

"Kamu tahu kutipan Pram yang menyoal cinta bertepuk sebelah tangan? Itu biasa. Buktinya Pram menegaskan kalimat tersebut dengan frase terlalu sering. Jangan merasa jadi yang paling istimewa hanya karena kamu patah hati. Orang lain juga begitu," ujar mas Nuran. Lantas ia buru-buru melanjutkan, "Terus kamu melakukan perjalanan jauh karena orang yang kamu suka dan merasa jadi yang paling hebat? Orak!"

Kali ini mas Nuran merepet ke tema perjalanan. Sebagai seorang traveler yang kondang dengan menulis berbagai catatan perjalanan, saya tahu dia kembali ingin mencontohkan dirinya sendiri. Siapa yang tak tahu perjalanan legendarisnya ke daerah timur Indonesia menggunakan sepeda motor, seorang diri? Saya kira hal itu telah menjadi legenda di berbagai kalangan. Sehingga, tanpa perlu dia jelaskan saya paham bahwa dia sedang menasihati bahwa apa yang saya lakukan dengan membeli tiket pesawat dari Jambi ke Jakarta dadakan di akhir pekan sangat kecil jika dibandingkan dengan kisahnya tersebut. Apalagi jika motivasi perjalanan sama-sama karena patah hati seperti mas Nuran dulu.
melakukan perjalanan karena patah hati, jauh sebelum menjadi tren

"Koen sabar lah. Ada masanya. Apalagi kamu masih muda. Pegawai pajak pula, masa iya nggak laku," ucapnya lagi, memecah kesunyian kamar kontrakan pada dini hari tersebut.

Itulah mengapa saya mengagumi mas Nuran. Berbagai predikat yang melekat pada dirinya tidak membuat dia menjadi tinggi hati. Dia tetap humble, ramah dan gemar bercanda, serta perhatian kepada kawan-kawannya (meski terkadang caranya dalam mencurahkan perhatian adalah dengan candaan yang mengesalkan beberapa pihak). Selain itu, harus diakui pula bahwa salah satu motivasi saya untuk bikin blog--meski tak bisa bagus-bagus amat--adalah karena membaca tulisan-tulisan mas Nuran.

Saya mengiyakan ucapan tersebut dan memilih untuk mengganti topik pembicaraan. Saat itu mas Nuran sedang mempersiapkan tesisnya, sambil ngobrol dia menulis pula untuk press release Sangkakala, sehingga rasanya egois sekali kalau saya masih membahas tentang cinta. Kemudian saya melanjutkan dengan topik yang tak kalah menarik, yakni masa muda yang akan segera kami--tentu saja mas Nuran terlebih dulu--tinggalkan.

Melihat begitu rajinnya mas Nuran mengerjakan tesis, saya menduga bahwa ada target yang harus segera digapai setelah kuliahnya ini selesai. Benar saja, mas Nuran kemudian menceritakan rencana pernikahannya dengan mbak Rani di tahun depan. Rangkaian target demi target yang mesti diselesaikan secara bertahap ini membuat kehidupan mas Nuran yang sebelumnya bohemian menjadi lebih teratur.

Sebuah pertanyaan lalu menghampiri saya: apakah memang selalu demikian sebuah senjakala masa muda?

"Tempo hari aku curhat karo Panjul, Git. Karo arek-arek liyane pisan. Kami merasa sama-sama lagi menghadapi quarter life crisis. Usia nanggung kami ini ternyata punya dampak psikologis yang kurang menyenangkan. Kekhawatiran-kekhawatiran mulai menampakkan wujud nyatanya. Pekerjaan, karir, rumah tangga, dan tetek bengek masa depan lainnya," kata mas Nuran.

Pada titik ini saya merenung, bahkan orang-orang haibat seperti mas Nuran, bang Panjul, dkk yang gemar omong besar dan menyombongkan diri di hadapan hidup perlahan mulai takluk pada persoalan duniawi. Mungkin hal tersebut senada dengan apa yang suatu hari dikatakan oleh Mark Twain. Bahwa orang-orang yang membaca banyak, tahu banyak, justru menjadi pesimis sebelum usia 48 tahun. Mereka adalah cerminan paling nyata bahwa kegalauan tidak hanya milik Don Juan wannabe yang kerap bermasalah dengan cinta.

Berbagai tuntutan dari luar memang seringkali memaksa manusia untuk berkompromi dengan keinginan-keinginannya sendiri. Berkaca dari cerita mas Nuran, ia akhirnya memilih untuk menyelesaikan tuntutan dan tanggung jawab tersebut ketimbang menuruti ego masa mudanya. Sekarang mas Nuran sangat jarang terdengar traveling lagi dan turut mencuri perhatian dalam ramainya panggung yang dulu pernah sangat akrab dengannya tersebut. Ia memilih menyepi dan hidup dalam dunia baru yang ia coba nikmati. Hanya musik yang masih digeluti oleh mas Nuran untuk sesekali ditulis. Baik demi kesenangan maupun lembar-lembar honor yang diterima atas jasa tulisannya.

Satu fase kehidupan mas Nuran telah khatam, telah diselesaikan dengan penuh rasa bangga. Masa mudanya sudah mati ia bunuh setelah ia nikmati berkali-kali. Agak kejam memang. Tetapi bukankah demikian siklus kehidupan? Setelah satu periode berakhir, akan ada periode baru yang menunggu. Seperti burung Phoenix yang mati lalu terlahir kembali. Dan di pergantian periode tersebut sang burung akan merasakan sakit yang teramat sangat. Untuk manusia, mungkin, salah satu kesakitan itu bernama quarter life crisis.

Dan demi ilmu-ilmu dan nasihat yang telah saya curi dari mas Nuran, saya doakan semoga ia tetap tegar dan tidak kembali melakukan perjalanan melarikan diri seperti dulu lagi.

Malam itu, saya tertidur dengan perasaan lega.

bareng mbak Rani yang membuat mas Nuran dipentung target tesis, hihi

***

post scriptum:
Ini adalah tulisan untuk ulang tahun mas Nuran tanggal 22 Desember, sebagai balas budi karena mas Nuran juga telah menulis untuk ulang tahun saya pada tanggal 15 kemarin di sini. Beberapa fakta di tulisan ini saya palsukan, tetapi rasa sayang dan kagum saya pada mas Nuran asli, kok!

1 comment:

  1. hore, perang tulisan antar seleb
    *menunggu balasan mas nuran berikutnya*

    ReplyDelete