Dec 7, 2013

Monumen Ingatan Untuk Seorang Kawan

Adakah sesuatu yang lebih menyebalkan dari seorang jomblo yang kesepian di malam minggu?

Jawabnya ada. Yaitu kesenangan kencan di malam minggu yang lenyap saat menerima kabar duka.

Cerita itu bukanlah pengantar dari sebuah cerpen melodramatis. Tetapi kejadian nyata yang saya alami setahun lampau. Waktu itu saya sedang pergi untuk sebuah makan malam, menikmati malam minggu bersama kawan-kawan. Sialnya, telepon genggam saya berbunyi karena ada panggilan masuk dari ayah. Beliau mengabarkan bahwa seorang tetangga--seorang teman bermain--baru saja meninggal karena kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor.

Rizal Riyadi, 24 November 2012

Sehabis menutup telepon, saya minta izin kepada kawan saya, memacu diri untuk pulang ke rumah yang masih berjarak 30-an kilometer dari tempat saya bermain. Sambil was-was karena saat itu jalanan licin akibat hujan yang baru reda. Sampai di rumah, saya langsung menuju rumah Rizal dan di sana sudah ramai orang dengan segala kesedihannya. Jenazah datang tak lama kemudian. Saya ikut memberi penghormatan terakhir dengan shalat jenazah dan mengantarkannya ke kuburan pada keesokan hari.

Meskipun tiada kelebihan menonjol yang bisa dipamerkan, Rizal adalah sosok baik yang pasti akan membuat orang kehilangan atas kepergiannya. Dia berasal dari keluarga yang boleh dibilang kurang mampu. Selepas lulus SMA dia memilih bekerja sebagai operator warnet yang berada di dekat rumah. Karena itu pula saya kembali akrab dengannya setelah bertahun-tahun jarang bertemu (saya SMA cukup jauh dari rumah dan ngekos, kuliah pun demikian). Tahun kemarin kuliah selesai dan ada jeda waktu menganggur, saya sering bermain di warnet dan mencoba kembali ke pergaulan setelah sekian lama menjadi liyan. Selain Rizal, ada juga beberapa kawan yang telah saya kenal sejak kecil dan kini sudah berada pada usia dewasa.

Dan di sanalah saya menghabiskan waktu sebagai penyandang status pengangguran. Siang, malam, hingga seringkali sampai dini hari berada di warnet. Menyusuri dunia internet dan main game sampai lupa waktu. Bahkan seringkali saya justru berada di sana hanya untuk berbincang dan bercanda bersama kawan-kawan. Dan di sana pula saya sering menjumpai Rizal selaku operator warnet.

Satu hal yang saya ingat dari Rizal, yaitu fakta bahwa dia merupakan seorang pekerja keras. Dia memiliki jadwal kerja setiap hari tanpa mengenal libur. Yang luar biasa, setiap akhir pekan dia mengikuti kuliah yang jarak tempat perkuliahannya lumayan jauh dari rumah. Resikonya, dia bertukar jadwal kerja sehingga dia masuk pada malam hari setelah pulang kuliah, setelah dia lelah mengikuti perkuliahan dan menempuh jarak yang sedemikian. Kemauan kerasnya untuk menempuh pendidikan itu selalu membuat saya berdecak kagum. Saya seringkali berpikir bagaimana cara dia mengatasi waktu dan kelelahan yang makin menumpuk setiap harinya. Kiranya benar bahwa orang-orang yang berada dalam keterbatasan memiliki cambuk mereka sendiri untuk melecut motivasi.

Hal lainnya yang melekat pada almarhum adalah dia penyuka musik reggae seperti saya. Di warnet sering terdengar lantunan lagu-lagu dengan genre musik ini dari speaker komputer tempat dia beroperasi. Untuk hal satu ini, saya sempat membelikannya buku biografi Bob Marley beberapa bulan sebelum dia meninggal dunia. Saya ingat wajah senangnya ketika saya tunjukkan buku tersebut karena dia begitu menggemari bapak reggae dunia itu. 

Keakraban memang ditumbuhkan oleh hal-hal kecil. Saya ingat pada satu kebiasaan kecil yang menjadi ritual anak-anak warnet. Pada dini hari, jika belum bosan bermain game atau ngobrol, kami menyodorkan satu-dua lembar uang ribuan untuk iuran membeli makanan. Biasanya dua orang ditugaskan membeli nasi kucing atau kampel (ketupat yang digabungkan dengan gorengan dages) untuk kemudian disantap bersama-sama di warnet. Rizal sering menggerutu--dengan setengah bercanda--jika anak-anak membuang sampahnya dengan sembarangan karena dialah yang harus membersihkan kotorannya.

Buat saya, Rizal selalu menjadi orang baik.


***

Hari ini saya kembali sadar akan betapa rapuhnya ingatan. Praktis saya lupa bahwa kematian Rizal Riyadi sudah menginjak satu tahun. Mungkin saya tidak akan ingat andai saja tempo hari saya tidak melihat postingan seseorang di wall facebook milik Rizal. Postingan itu mengingatkan saya bahwa dulu ada seorang kawan dengan keceriaan masa mudanya yang kini telah menghilang. Jika saya sedang berada di rumah tentu saya akan menengok ke kuburnya, "melihat" bagaimana dia di sana sekarang dan mendoakannya. Berhubung saya berada jauh di Sumatera sini, maka saya memutuskan untuk menuliskan ini sebagai monumen ingatan yang selalu bisa dikunjungi sebelum kenangan-kenangan saya tentang dia perlahan menghilang, tentang seorang kawan baik penyuka musik reggae, seorang kawan yang pernah berada di antara kita semua: Rizal Riyadi.

berangkatlah dengan tenang
bawa sebersit senyuman
doaku panjatkan
selamat jalan kawan.....
(Steven n Coconut Treez - Selamat Jalan Kawan)

0 comments:

Post a Comment