Dec 26, 2013

Lima (+2) Buku Terbaik 2013 Versi Saya

Tiba-tiba saja saya kepingin membikin daftar “Lima Buku Terbaik 2013 Versi Saya” untuk menutup tahun ini. Terbaik di sini tentu saja bukan dalam konteks keilmuan dengan segala riset dan analisisnya. Bagi saya, buku terbaik berarti buku tersebut meninggalkan kesan dan membuat saya memikirkannya dalam waktu yang cukup lama. Dan patut dicatat, saya tidak gila-gila amat dengan buku dan bacaan. Kuantitas buku yang saya baca  tidak cukup banyak untuk dipamerkan ke khalayak, pun tahun ini saya lebih suka mencomot buku-buku ringan karena saya masih beradaptasi dengan pekerjaan dan tempat baru saya. Karena itulah kau bisa meninggalkan postingan ini begitu saja atau mungkin transit barang sejenak untuk mempertimbangkan buku-buku yang telah saya daftarkan.

Oh iya, di daftar ini saya sengaja memilih hanya buku-buku Indonesia. Selain saya tidak banyak membaca buku luar atau terjemahan, kali ini saya ingin mencoba membuktikan bahwa di tengah himpitan penuhnya buku motivasi, biografi politik menjelang pemilu tahun depan, juga kumpulan kicauan yang sebetulnya tidak perlu-perlu amat dibukukan, masih ada penulis-penulis yang berusaha dengan gigih untuk menerbitkan buku yang bermutu, yang layak dibaca untuk menambah wawasan kita.

Baiklah. Untuk tahun 2013 inilah buku-buku terbaik versi saya.
1. Murjangkung

Saya tidak mengikuti ribut-ribut Khatulistiwa Literary Award kemarin. Konon salah satu dewan juri KLA 2013 memiliki hubungan istimewa dengan Leila S. Chudori sebagai penulis Pulang yang didaulat sebagai pemenang KLA. Tetapi itu biarlah menjadi polemik para kritikus sastra. Sebagai penikmat yang tentu saja subjektif, saya mempunyai pandangan tersendiri.

Di antara 5 nominasi akhir KLA 2013, saya hanya memiliki 3 di antaranya. Pulang, Amba, dan Murjangkung. Pulang memang perlu diapresiasi. Begitu pula dengan Amba. Dua novel tersebut memiliki magisnya tersendiri. Tetapi kecenderungan beberapa novel dengan latar belakang tahun 1965 bagi saya sudah memasuki titik jenuh. Seolah-olah Indonesia hanya bisa berpijak pada tahun keramat tersebut. Dan untuk itu saya berterima kasih kepada bung Sulak (panggilan akrab A.S. Laksana) yang telah menulis tema segar di kumpulan cerpen terbarunya: Murjangkung.

Murjangkung, kau tahu, adalah oase di tengah gurun sastra. Kumpulan cerita ringan nan remeh-temeh di buku ini meruntuhkan mitos bahwa sastra haruslah “berbobot”, penuh dengan kalimat indah dan menyelipkan pesan moral di sela-selanya. Murjangkung tidak demikian. Tagline "cinta yang dungu dan hantu-hantu" menjadi sebuah pembuka bahwa dia bukanlah sebuah rancangan bangunan kokoh yang sukar dimasuki. Murjangkung adalah sastra yang terlalu gampang dipahami, namun juga begitu mudah untuk dinikmati.

Satu yang khas: di buku ini bung Sulak menuliskan dongeng dengan terlebih dahulu mengajak pembaca untuk mempercayainya seolah-olah dongeng yang dia tulis adalah nyata. Tentu saja ajakan tersebut akan membuat banyak orang termasuk saya percaya kepadanya. Sama percayanya dengan cerita bahwa sinterklas itu memang benar-benar ada.

2. Saling Silang Indonesia-Eropa

Tahun ini setidaknya penerbit Marjin Kiri mengeluarkan dua buku yang cukup penting untuk ditandai, yakni terjemahan tulisan Fernando Baez yang berjudul Penghancuran Buku dari Masa ke Masa dan Kekerasan Budaya Pasca 1965 yang merupakan thesis Wijaya Herlambang. Judul terakhir bahkan sempat dan masih menimbulkan perseteruan karena di buku tersebut Wijaya Herlambang menunjuk beberapa nama budayawan besar sebagai “racun” yang mencemari pusaran budaya Indonesia yang sedemikian luas. Namun saya memilih untuk tidak memilih kedua judul di atas.

Buku terbitan Marjin Kiri terbaik yang saya baca di tahun ini adalah Saling Silang Indonesia-Eropa, sebuah kumpulan tulisan Joss Wibisono. Memang agak telat sebetulnya melihat tahun terbit buku ini berada  di angka 2012 akhir. Namun saya baru membaca di awal tahun dan sengaja saya memperlama membacanya. Bukan apa-apa. Tetapi saya pikir sangat disayangkan jika buku sebagus ini habis dibaca dalam waktu sekali duduk saja. Begitu sayangnya hingga mungkin untuk setiap judul di buku ini selalu saya selingi dengan membaca buku lain demi mengendapkan isinya di kepala saya.

Lalu apa saja yang Joss tulis? Banyak. Beberapa di antaranya sempat dimuat di media massa. Dari bahasa hingga musik. Dari sejarah sampai ke politik. Joss mengurai berbagai aspek hubungan antara Indonesia dengan Eropa, terutama kaitannya dengan Belanda—negeri mantan penjajah yang ditempati olehnya saat ini. Tulisan-tulisannya hanya di permukaan masalah, yang justru memancing pembaca untuk mencari tahu detail-detailnya lebih dalam lagi.

Satu judul yang menyebabkan saya tercengang adalah EYD versus Edjaan Djadoel. Sengaja menggunakan ejaan Suwandi, tulisan ini menyoroti EYD, sebagai sebuah ejaan yang disempurnakan, justru memiliki tujuan politik yang begitu besar. Menurut tulisan ini, “pemaksaan” penggunaan EYD yang dilakukan oleh orde baru dimaksudkan agar generasi baru kesulitan membaca ejaan lama. Akibatnya, sejarah menjadi kabur dan kita tidak bisa membedakan siapa yang benar dan siapa yang salah. Selanjutnya bisa kita tebak seperti apa jalan ceritanya.

3. Wiji Thukul: Teka-Teki Orang Hilang (Seri Buku Tempo)

Kalau ingatan saya tidak salah sejak tahun kemarin Tempo memutuskan untuk membuat Seri Buku Tempo (yang sebetulnya ditulis di majalah mingguannya) mengenai orang-orang dalam sejarah Indonesia. Dimulai dari seri bapak bangsa macam Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka. Lalu  orang-orang kiri seperti Musso, Aidit, Njoto, dan Sjam. Kemudian secara bergelombang muncul kelompok-kelompok lain. Semua tulisannya dikupas secara bagus khas Tempo dan saya sangat menikmatinya.

Hingga akhirnya saya berhenti sejenak pada seri Prahara-Prahara Orde Baru. Dalam seri ini Tempo menulis Wiji Thukul. Sang seniman cadel antek PRD yang dianggap berbahaya oleh gerombolan Soeharto. Thukul berbahaya karena selain ia suka protes, ia pun menulis, hobi mengagitasi, kerap berorasi dalam demo, dan yang paling penting: ia berpartai. Ini yang mungkin dilupakan banyak orang.

Seandainya Thukul tidak berpartai, mungkin ia tidak dianggap benalu yang membahayakan singgasana sang diktator. Banyak kawan-kawannya yang telah memperingatkan Thukul akan hal ini. Ia diminta berkesenian saja dan tidak usah cari masalah dengan utak-atik politik. Namun Thukul percaya bahwa untuk melawan ketidakadilan penguasa ia harus masuk ke dalam politik praktis, melawan dengan tegas korupnya pemerintahan. Dinyatakan sebagai buronan, ia kemudian menghilang dari radar intel, hidup dalam persembunyian hingga akhirnya benar-benar dinyatakan hilang selepas gonjang-ganjing 1998 berakhir.

Kepalanya pernah dibenturkan ke kap mobil aparat hingga matanya nyaris buta dalam salah satu demo. Tulisannnya (kebanyakan berupa puisi) menjadi senjata perlawanan. Dan hidupnya dihabiskan di jalan sunyi, jalur bawah tanah. Sedikit banyak Thukul mengingatkan saya kepada Tan Malaka. Seseorang yang nyaris terlupakan dalam sebuah revolusi. Untuk itulah saya memasukkan buku ini ke dalam daftar karena tulisan di buku ini adalah pengingat. Karena bukankah memang begitu fungsi sebuah tulisan?

4. Titik Nol

Sebetulnya saya tak begitu suka tulisan perjalanan dalam bentuk apapun juga. Entah tulisan perjalanan yang betul-betul sebuah laporan pandangan mata atau fiksi yang terinspirasi dari sebuah perjalanan. Apalagi menurut saya Agustinus Wibowo tidak pandai-pandai amat dalam menulis. Ceritanya kering, metaforanya payah, dan miskinnya imajinasi membuat saya cepat bosan dalam membaca buku ini.

Celakanya, Titik Nol menjadi pengantar saya yang sedang menjalani hari-hari pertama saya di tanah rantau. Alhasil tema kepulangan yang diusung Agustinus Wibowo di bukunya kali ini berhasil membikin saya terperangkap dalam melankolia kangen rumah. Lembar per lembar—dengan mengatasi kebosanan yang saya sebut di atas—saya habiskan dengan tekun. Ada sebuah rasa penasaran, apakah yang menunggu di bagian selanjutnya. Hingga tak terasa buku ini habis saya baca dan saya merasa kehidupan saya berhenti dalam sekejap.

Coba saja bayangkan, kau bepergian jauh dari rumah dan tidak kembali dalam waktu yang lama. Kau berpikir bahwa akan banyak yang diperoleh dari kepergianmu. Pengalaman, harta, ilmu, atau bisa saja jodoh. Namun sepulangnya kau dari perjalanan itu kau menyadari fakta bahwa apa yang telah kau peroleh selama itu adalah sebuah kesia-siaan. Ibu, orang kesayanganmu, sakit keras dan tidak dapat ditolong. Lebih parahnya, mungkin sakit yang beliau derita disebabkan karena terlalu berat memikirkan buah hati yang jauh dari pandangannya. Piye perasaanmu, jal?

5. Pada Suatu Hari Nanti & Malam Wabah

Ini bukan dua judul buku yang saya pilih jadi satu karena kuota lima buku telah habis. Tetapi satu buku yang terbelah menjadi dua bagian judul. Yang satunya Pada Suatu Hari Nanti, berisi dongeng-dongeng lama yang akhirnya memiliki ending berbeda karena penulis ingin agar tokoh di dalam dongeng bisa keluar dari pakemnya. Yang kedua Malam Wabah adalah kumpulan cerita pendek biasa yang memang baru dan tidak berusaha menyaru menjadi apapun. (oke baiklah, ini memang dua judul buku)

Penulis buku ini adalah seorang yang sudah pasti dikenal oleh para pembacanya. Ia adalah legenda yang bahkan dengan mendengar namanya saja, seorang bayi akan langsung menghentikan tangisnya: Sapardi Djoko Damono. Masalahnya, Sapardi lebih terkenal dalam dunia kepenyairan dengan puisi-puisinya. Ketika ia menulis cerpen, apakah ia bisa membuat cerpen yang bisa disejajarkan dengan puisi yang terlanjur besar?

Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Bagian Malam Wabah adalah sesuatu yang sangat biasa. Benar bahwa cerpen yang ditulis cukup renyah dan lumayan enak buat dinikmati. Tetapi saya rasa tidak ada yang khas dan spesial di sana. Misalnya Sapardi adalah serupa koki profesional di hotel bintang lima, maka kali ini ia memasak terlalu sederhana dan menjadi makanan kebanyakan.

Berbeda dengan Pada Suatu Hari Nanti. Saya pikir di sini lah Sapardi meletakkan bumbu rahasianya. Ramuan ajaib yang membuat orang memaki sesaat setelah menikmatinya, kemudian meminta tambah ketika apa yang tersaji sudah habis. Siapa berani membuat Sita lebih memilih Rahwana ketimbang Rama? Atau apa jadinya jika apa yang kancil banggakan selama ini kepada anak-anak sebelum tidur adalah kebohongan besar? Sapardi, di buku ini, tega melakukannya.

***

Addendum

Ada dua buku yang tidak terbit di tahun 2013, tetapi baru sempat saya dapatkan dan baca di tahun ini. Dan menurut saya sangat disayangkan jika saya lewatkan dalam daftar karena sangat saya nikmati. Dua buku tersebut adalah:

1. Affair, Obrolan tentang Jakarta

Buku Seno Gumira Ajidarma yang ini sebetulnya terbit pada tahun 2004, tetapi baru berjodoh dengan saya ketika sebuah toko buku online menampilkan buku ini di webnya. Kali ini Seno tidak hadir melalui label fiksi yang seolah sudah melekat kepada namanya, tetapi dengan esai-esai, atau katakanlah ocehan ringan, tentang Jakarta. Tentang kota dan manusia-manusia di dalamnya, yang lebih suka disebut Seno sebagai homo Jakartensis.

Meskipun saya telat membacanya hampir sepuluh tahun lamanya, tetapi wacana-wacana yang dimunculkan Seno masih sangat relevan bagi kota sebesar, seramai (dan sekaligus sesunyi) Jakarta. Tentang macet, banjir, juga masalah yang dihadapi oleh mungkin sebagian besar masyarakat ibu kota tersebut. Saya yakin ketika membaca buku ini banyak orang yang mengaku-ngaku modern nan berbudaya akan tersentil ketika disebut Seno sebagai makhluk kesepian di bawah gemerlap lampu kota yang patut dikasihani. Meskipun, bisa saja mereka denial, menolak dan berkata tidak dengan wajah yang memerah menahan malu.

Dan yang paling saya suka adalah hal-hal kecil yang seringkali luput kita perhatikan karena seringnya kita alami, tetapi menjadi menarik ketika dibahas oleh Seno. Sandal jepit yang dipakai para pekerja kantor, penjual buntil di depan kompleks, hingga kesulitan para supir taksi ketika menahan kencing di jalanan. Rasanya, buku ini akan saya baca lagi, lagi, dan lagi…

2. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Jilid 2

Cetakan pertama buku ini mempunyai tanggal muncul jauh sebelum Affair, Obrolan tentang Jakarta terbit. Tetapi berhubung saya fanboy Pramoedya Ananta Toer, begitu buku ini saya dapat dan kelar saya baca, itu berarti saya harus menganggapnya sebagai terbaik. Problems?

***

Catatan:
Untuk melihat daftar buku 2013 milik kawan saya Galih Rakasiwi, sila berkunjung ke sini. 

6 comments:

  1. Affair-nya SGA juga punya judul lain: Kentut Kosmopolitan kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepertinya beda ya, setahu saya Affair muncul sebelum Kentut Kosmopolitan.

      Delete
    2. ini sama apa beda ya dengan kentut metropolitan?

      Delete
  2. toko buku online mana yang masih menjual buku seno itu mas?
    trims :)

    ReplyDelete
  3. wah kurang tahu, saya nemu juga modal keberuntungan kok :D

    ReplyDelete
  4. Wow luwar biasa, bukuku jang terbitan 2012 ternjata bisa njangkut pada peringkat keduwa. Trims banjak dan bersjukur djuga anda bisa dibikin tertjengang karenanja. Tabik.

    ReplyDelete