Dec 30, 2013

Quarter Life Crisis: Matinya Masa Muda Seorang Nuran Wibisono dan Nasihat Cinta yang Bijaksana

"Ditolak tepat di depan pintu rumah seseorang itu tidak seberapa mengesalkan ketimbang diminta masuk hanya untuk dihina dan diusir beberapa saat kemudian," tutur mas Nuran mengawali pembicaraan.

Sekira bulan Oktober kemarin saya mengambil cuti dan menyempatkan diri berkunjung ke Jogja. Sesampainya di Jogja saya menghubungi mas Nuran dan berjanji untuk bertemu di sebuah kafe untuk berbincang santai barang sejenak. Tak cukup sampai di situ, mas Nuran lalu meminta saya untuk menginap di kontrakannya dan melanjutkan pembicaraan. Jadilah saya kemudian mengirim pesan singkat kepada seorang kawan, mengabarkan bahwa saya tak jadi menginap di tempatnya.

Lewat tengah malam saya membonceng mas Nuran pulang, membelah dinginnya malam Jogja. Di tengah jalan saya meminta mas Nuran untuk berhenti di salah satu minimarket untuk membeli perlengkapan mandi, air minum, serta sedikit cemilan. Agak lama di minimarket karena mas Nuran usrek di salah satu pojokan seperti mencari sesuatu. Ketika ditanya, dia menjawab, "aku lagi nyari bir lokal (sambil menyebut nama salah satu merk bir), tapi ternyata nggak ada. Yasudahlah."

Dec 26, 2013

Lima (+2) Buku Terbaik 2013 Versi Saya

Tiba-tiba saja saya kepingin membikin daftar “Lima Buku Terbaik 2013 Versi Saya” untuk menutup tahun ini. Terbaik di sini tentu saja bukan dalam konteks keilmuan dengan segala riset dan analisisnya. Bagi saya, buku terbaik berarti buku tersebut meninggalkan kesan dan membuat saya memikirkannya dalam waktu yang cukup lama. Dan patut dicatat, saya tidak gila-gila amat dengan buku dan bacaan. Kuantitas buku yang saya baca  tidak cukup banyak untuk dipamerkan ke khalayak, pun tahun ini saya lebih suka mencomot buku-buku ringan karena saya masih beradaptasi dengan pekerjaan dan tempat baru saya. Karena itulah kau bisa meninggalkan postingan ini begitu saja atau mungkin transit barang sejenak untuk mempertimbangkan buku-buku yang telah saya daftarkan.

Oh iya, di daftar ini saya sengaja memilih hanya buku-buku Indonesia. Selain saya tidak banyak membaca buku luar atau terjemahan, kali ini saya ingin mencoba membuktikan bahwa di tengah himpitan penuhnya buku motivasi, biografi politik menjelang pemilu tahun depan, juga kumpulan kicauan yang sebetulnya tidak perlu-perlu amat dibukukan, masih ada penulis-penulis yang berusaha dengan gigih untuk menerbitkan buku yang bermutu, yang layak dibaca untuk menambah wawasan kita.

Dec 17, 2013

Dumadi

*untuk tanggal 15, untuk hari di mana umur saya resmi berkurang satu menurut perhitungan kalendar masehi
Saya tak pernah menganggap hari ulang tahun merupakan sesuatu yang istimewa dan menyenangkan. Justru, pada tanggal yang sama setiap tahunnya, saya merasa makin malu dan menyedihkan. Malu, karena di bilangan usia yang kian bertambah ini saya tak kunjung membuat sesuatu yang berguna. Menyedihkan, karena faktanya saya semakin dekat dengan mati.

Namun bukan berarti hal itu menjadi penghalang bagi saya untuk bersyukur. Tahun 2013 ini adalah tahun pertama saya resmi lepas dari tanggung jawab orang tua. Pertengahan tahun kemarin saya merantau, jauh dari tanah kelahiran (masa-masa kuliah tidak saya hitung) dan mulai berdiri di atas kaki saya sendiri, mencari uang untuk makan dari hasil kerja sendiri. Mencoba sedikit-sedikit melompat dan bermimpi kecil tentang masa depan.

Selain itu, di tanah perantauan ini saya disadarkan bahwa masih ada orang-orang yang sayang, atau minimal peduli, pada saya. Tahun-tahun sebelumnya, ketika saya masih di rumah, ucapan selamat ulang tahun lebih saya rasakan sebagai rasa sungkan dari orang yang kita kenal. Semacam basa-basi karena orang yang ditemui sedang merayakan hari istimewa. Tetapi kemarin, saya dikirimi oleh adik saya sebuah video ucapan selamat yang bisa ditonton di bawah ini.

Dec 7, 2013

Monumen Ingatan Untuk Seorang Kawan

Adakah sesuatu yang lebih menyebalkan dari seorang jomblo yang kesepian di malam minggu?

Jawabnya ada. Yaitu kesenangan kencan di malam minggu yang lenyap saat menerima kabar duka.

Cerita itu bukanlah pengantar dari sebuah cerpen melodramatis. Tetapi kejadian nyata yang saya alami setahun lampau. Waktu itu saya sedang pergi untuk sebuah makan malam, menikmati malam minggu bersama kawan-kawan. Sialnya, telepon genggam saya berbunyi karena ada panggilan masuk dari ayah. Beliau mengabarkan bahwa seorang tetangga--seorang teman bermain--baru saja meninggal karena kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor.

Rizal Riyadi, 24 November 2012

Sehabis menutup telepon, saya minta izin kepada kawan saya, memacu diri untuk pulang ke rumah yang masih berjarak 30-an kilometer dari tempat saya bermain. Sambil was-was karena saat itu jalanan licin akibat hujan yang baru reda. Sampai di rumah, saya langsung menuju rumah Rizal dan di sana sudah ramai orang dengan segala kesedihannya. Jenazah datang tak lama kemudian. Saya ikut memberi penghormatan terakhir dengan shalat jenazah dan mengantarkannya ke kuburan pada keesokan hari.