Nov 3, 2013

Perempuan yang Menunggu

Apa kamu sedang merasa bosan menunggu?

Kekasih jauh. Beda zona waktu. Dan tak bisa memberimu kabar setiap kali kamu rindu

Aku akan paham jika suatu saat kamu merasa lelah dan jenuh dengan satu kata itu. Tetapi tunggu. Tunggu dulu. Aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang yang mungkin tidak pernah kamu tahu. Namanya adalah Maemunah Thamrin, istri Pramoedya Ananta Toer. Ia, kalau boleh kusebut, adalah perempuan yang menunggu. Sama seperti kamu.

Ketika aku membaca Nyanyi Sunyi Seorang Bisu—salah satu buku yang berisi himpunan catatan dan surat-surat pribadi Pramoedya selama di pulau Buru—aku mendapati satu nama tersebut. Sekali lagi, Maemunah Thamrin. Kuharap kamu mengingat baik-baik nama itu. Karena, Pram sendiri—dalam suratnya kepada salah satu anaknya—menuliskan nama istrinya dengan penuh rasa bangga. Aku pun dapat mengerti jika ia begitu menghormatinya.

Maemunah adalah istri Pram yang kedua. Ia menikah lagi setelah mengalami kegagalan dalam pernikahan yang pertama. Ia bercerai setelah diusir oleh istri pertamanya karena ia begitu miskinnya. Pekerjaannya sebagai penulis tak membuat Pram memiliki uang berlimpah, meskipun pada saat itu ia telah mulai menempatkan namanya sebagai salah seorang penulis yang disegani. Dan dengan terpaksa ia pun angkat kaki dari rumah mertuanya. Untuk kemudian bertemu dengan Maemunah.

Setelah geger PKI 1965, Pramoedya merupakan salah seorang penumpang kapal berisikan banyak orang yang penuh muka ketakutan. Ia dianggap sebagai anggota PKI yang pantas dimasukkan daftar hitam dan dibuang sejauh-jauhnya demi keutuhan negara. Ia adalah tahanan politik dan diasingkan di sebuah tempat terpencil bernama Pulau Buru. Dan karenanya kita tahu bahwa ia harus berpisah dengan seluruh cinta yang ia punya, termasuk istrinya.

Lalu apa yang membuatku mengistimewakan Maemunah hingga ingin menceritakannya kepadamu?

Karena ia dapat berkawan begitu karibnya dengan jarak, selain, tentu saja, dengan kemiskinan.

Mungkin ia bukan satu-satunya perempuan yang tabah dengan penantian. Terutama pada waktu itu ketika banyak istri ditinggal suami yang terpaksa ditahan dan diasingkan. Tapi bahwa Maemunah yang cantik (Pramoedya mengakui ini dalam salah satu suratnya) memilih untuk dihantui ketidakpastian daripada mencari pengganti ayah untuk anak-anaknya perlu kita renungkan. Bisa saja ia dikecewakan oleh harapan. Bisa saja Pram ditembak tentara, dimakan harimau, atau jatuh ke sungai beraliran deras dan akhirnya meninggal. Bisa saja Maemunah mengakhiri hidupnya dengan kesendirian. Faktanya, ia tetap menunggu. Fakta itu sekaligus menyingkirkan anggapan mantan istri Pramoedya yang pernah bilang bahwa takkan ada perempuan sanggup bersanding dengan manusia miskin nan keras kepala macam Pramoedya selama lebih dari lima tahun.

Jika dan hanya jika kamu belum mengetahui ini: Pramoedya berada dalam cengkeraman militer selama belasan tahun.

Tentu tidak ada maksud agar kamu mengambil hikmah dari sedikit ceritaku. Aku tidak mengingatkanmu untuk bersyukur karena kamu takkan menunggu  selama itu. Atau karena kamu telah hidup di zaman yang begitu modern sampai-sampai kamu selalu bisa melihat muka kekasihmu. Aku pun tidak akan menyuruhmu meniru seorang Maemunah yang demikian kuat menghadapi nasib, termasuk melihat anak-anaknya dipukuli karena aib membawa nama keluarga. Tidak. Biarlah semua kepahitan ditanggung oleh masing-masing orang yang membawa takdirnya.

Aku hanya ingin menulis ini biar kamu dapat menghabiskan barang satu-dua menit untuk membacanya, biar kamu tak bosan-bosan amat menunggu balasan pesan dari kekasihmu. Semoga kamu dapat tersenyum selagi membacanya dan beranggapan bahwa kamu tak sendirian.

Kamu tahu, di hadapan cinta, tak ada seorang pun yang benar-benar istimewa. Termasuk kamu, perempuan yang sedang menunggu.

1 comment: