Oct 5, 2013

Orang Biasa di Dalam Sistem

Seseorang menanyakan kepada saya: masih adakah tempat buat orang biasa di dalam sistem (pemerintahan)?

Saya tak buru-buru menjawab pertanyaan tersebut. Saya tahu dalam setiap periode kehidupan, dalam situasi sesulit apapun, segala hal memang bisa terjadi. Sekecil apapun, selalu ada kata mungkin yang bisa menyalakan harapan. Seperti kata seseorang--yang mengaku biasa--yang seringkali memungut kata bijak: tak perlu merutuk pada kegelapan, nyalakanlah lilin jika kau mengharapkan cahaya.

Di dalam hidup yang keburu penuh oleh kekecewaan, selalu ada peristiwa ajaib yang kerap membikin kita lupa bahwa kita masih menjejakkan kaki di atas tanah. Mungkin kita pernah mendengar ada anak tukang kayu yang menjadi presiden. Atau orang nomor satu di negara nomor satu dunia dulu hanyalah seorang bocah dengan baju penuh lumpur yang doyan makan bakso pinggir jalan. Barangkali  memang nasib beberapa orang ditakdirkan untuk ditulis dalam lembar-lembar buku motivasi lalu segera dilupakan sesaat setelah kita melihat tagihan listrik rumah yang harus dibayar.

Beberapa alasan membuat saya tak segera bisa menjawab pertanyaan di atas. Saya justru ingin menceritakan sedikit dari apa yang saya rasakan di dalam sistem.

Saya hidup dari keluarga biasa. Secara turun-temurun, saya mewarisi darah pegawai yang bekerja pada pemerintah. Pegawai di sini tentu bukan pejabat yang bisa seenak perut menyelonjorkan kaki untuk kemudian menerima duit dalam jumlah cukup banyak. Ayah hanya pegawai rendahan di departemen penerangan yang--setelah departemen tersebut dibubarkan--lalu dipindahtugaskan menghuni kursi rusak di sebuah kantor kecamatan. Kakek, ayah dari ayah, setahu saya adalah polisi yang tidak menduduki jabatan apapun. Ibu bukan pegawai negeri memang. Tetapi kakek dan nenek dari garis ibu adalah orang-orang yang mengabdi di dunia pendidikan. Kakek sebagai penilik kebudayaan dan hanya nenek mempunyai posisi yang lumayan, yakni sebagai kepala sekolah.

Dari deskripsi tersebut, tentu bisa diketahui bahwa saya bukan keturunan yang diberi privilege untuk mengubah keadaan suatu negeri. Saya hanya orang biasa. Dan sekarang saya yang keturunan orang biasa ini memperoleh kesempatan untuk kembali masuk ke dalam sebuah sistem.

Saya selalu bayangkan bahwa sebuah sistem tak ubahnya seperti model atom lengkap dengan konfigurasi elektronnya. Orang-orang biasa, termasuk saya, yang terlanjur masuk ke dalam sistem dan menghuni satu posisi di pemerintahan tidak bisa langsung bermimpi untuk menuju puncak sistem. Meskipun berusaha semaksimal mungkin, kesempatan untuk mendaki hampir tertutup.

Kami adalah elektron-elektron terluar. Dan sebagaimana hukum kima, alih-alih bisa mendekati inti atom, kebanyakan elektron luar justru biasanya terpental dan keluar dari lintasannya.

Saya mengetahui betul bagaimana rasanya ingin keluar dari sistem karena begitu muak. Orang luar menilai bagaimana enaknya bekerja di departemen X yang basah dan bergaji besar. Mereka tak tahu, di sini hampir setiap hari beredar info yang tidak menyenangkan. Bukannya ada perbaikan, ketimpangan justru makin terasa. Melanjutkan pendidikan dipersulit. Kesenjangan terjadi jika seseorang merupakan lulusan sekolah A bukannya sekolah B. Dan seterusnya. Siapa yang senang memperoleh hak yang berbeda hanya karena beda golongan, beda pendidikan terakhir, meskipun duduk di kursi yang bersebelahan dan melakukan pekerjaan yang sama persis?

Dalam hal ini mengakrabi sistem berarti mengambil posisi yang serba salah. Setiap tahun tak terhitung banyaknya orang biasa mengadu nasib untuk mengisi lintasan yang kosong, menjadi elektron terluar. Tetapi di sisi lain banyak yang terlanjur di dalam ingin segera mungkin mengundurkan diri dan pergi jauh-jauh dari hal yang melawan hati nurani seperti ini. Saya berada di golongan kedua ini. Satu-satunya yang menghentikan keinginan saya untuk resign adalah kewajiban untuk memenuhi kebutuhan pokok yang kian hari kian bertambah.

Saya pernah ditanyai oleh seorang kawan mengapa saya mau menjadi pegawai negeri. Dulu saya bangga mengutip obrolan Soe Hok Gie dengan rektornya, Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro yang ditulis oleh Gie di bukunya.
"Ketika Rektor UI, Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro diangkat menjadi Menteri Pertambangan, saya datang padanya. Saya tanyakan mengapa ia mau diangkat menjadi menteri dan bekerja dengan bajingan-bajingan minyak, calo-calo modal asing dan pejabat yang korup dan sloganistis. Rektor menjawab bahwa hal-hal tadi juga disadarinya. “Tetapi kita punya dua pilihan jika kita melihat keburukan-keburukan yang terjadi di kalangan pemerintahan.Terjun ke dalam berusaha (dan belum tentu berhasil) memperbaikinya atau tinggal di luar sambil menantikan aparat tadi ambruk. Saya memilih yang pertama dengan segala konsekuensinya.”
Dulu saya menjawab dengan angkuh penuh idealisme. Namun kini saya tidak bisa berbohong bahwa alasan saya masuk ke dalam sistem karena saya hanyalah orang biasa yang kalah dan terpaksa menyerah.
 

5 comments:

  1. jika sudah terlanjur berada dalam sistem yang harus Anda perbuat adalah revormasi. miliki kekuasaan dan rubah. kebusukan negara ini tidak akan pernah berakhir jika pemimpin yang dzalim masih berkuasa. alhamdulilah masih ada presiden setegas tentara. jika tidak mlempem Indonesia. saya gak pro presiden. saya pro tentara aja. buktikan, jangan terlalu banyak menjelekkan institusi dan muak. semakin kamu tidak bersyukur semakin kamu tidak ada gunanya jadi PNS ;p

    ReplyDelete
  2. Selalu ada 2 sisi mata uang mas. Keep the spirit....tulisan bagus.salam kenal. Slamet rianto p2humas kpdjp.

    ReplyDelete
  3. Lho blogmu dibaca sama fotografernya pak fuad, git. Hahaa

    ReplyDelete
  4. Seolah kalau di tentara kita hanyalah kopral sersan yang harus selalu jalankan perintah perwira-perwira diatas, apakah perwira mau tau atau peduli kita sanggup atau tidak? Tentu tidak. Selalu ada jawaban "itu sudah resiko". Sabar kawan, toh pernah perang dunia 2 dimulai mantan kopral. Kenapa kelak kita tidak bisa menjadi hebat dan mengubah ketidakbaikan? Kopral sersan ini belum menyerah kawan :) semangat!

    ReplyDelete