Oct 7, 2013

Norwegian Wood

Peringatan: tulisan ini mengandung spoiler cerita Norwegian Wood karya Haruki Murakami.

Informasi Buku

Penerbit        : Norwegian Wood

Pengarang     : Haruki Murakami

Penerbit         : KPG (cetakan keempat, Mei 2013)

Halaman        : iv + 426







Seorang lelaki, usia awal 20-an tahun, mencintai seorang perempuan yang tidak akan pernah bisa mencintainya. Sebab perempuan tadi terlanjur cinta mati kepada lelaki lain. Cinta mati dalam arti sebenarnya karena lelaki yang dicintai si perempuan telah mati bunuh diri. Selanjutnya, mereka berdua menjalani kisah cinta yang aneh hingga si perempuan ikut bunuh diri menyusul kekasih yang terlebih dahulu meninggalkannya.

Lelaki tersebut bernama Watanabe. Meskipun tahu bahwa perasaannya hanya berupa cinta yang platonis, dia tak serta merta bisa menghapus Naoko dari pikirannya. Entah berapa banyak perempuan lain yang telah dia tiduri, berapa jauh dia melakukan perjalanan, dan berapa lama dia mencoba. Faktanya, 17 tahun setelah kematian Naoko, dia masih bisa mengingat kejadian-kejadian yang pernah mereka alami berdua saat mendengarkan lagu kesukaan Naoko, Norwegian Wood, mengalun.

Dari sebelas bab yang djabarkan dalam 426 halaman, Norwegian Wood menyajikan episode-episode yang penuh dengan kemurungan. Hampir tak ada nada riang berarti yang dibawakan oleh Murakami kecuali beberapa pesta semu antara Watanabe dan kawannya yang flamboyan, Nagasawa, di mana begitu banyak minuman keras dan persetubuhan. Itu pun masih terkesan bahwa Watanabe melakukannya untuk menutupi kesedihan akibat memikirkan Naoko yang sangat dicintainya.

Watanabe adalah pralambang bahwa seseorang perlu memperjuangkan cinta meskipun terasa sia-sia.

Watanabe pernah membicarakan hal itu dengan Naoko. Dia bilang bahwa dia akan menunggu hingga Naoko betul-betul telah melupakan Kizuki, mantan kekasihnya yang bunuh diri, dan bisa menerima orang baru di hatinya. Dan ketika Naoko berkata bahwa mungkin selamanya ia takkan melupakan Kizuki, Watanabe hanya menanggapinya dingin.

Apa yang dirasakan Watanabe sebenarnya sama seperti Naoko. Mungkin ia masih bisa menyukai Midori--yang mendekatinya terlebih dahulu. Tetapi Watanabe yakin betul bahwa ia takkan pernah menerima orang baru di hatinya karena ia telah terlanjur mencintai orang lain. Bedanya, orang yang dicintai Watanabe masih hidup dan terasa nyata. Sedangkan perasaan Naoko berhenti semenjak kematian Kizuki.

Hubungan mereka semakin rumit ketika Naoko pun divonis gila. Pada ulang tahun Naoko yang ke-20, Watanabe datang ke apartemennya, memberi kado dan kue ulang tahun, lalu mengajaknya bercinta. Setelah itu Naoko pindah dari apartemen dan menghilang tanpa jejak. Beberapa lama kemudian Naoko memberi kabar bahwa ia sedang menyepi di tempat rehabilitasi mental.

Naoko merupakan gambaran bahwa kehilangan tak pernah menjadi sesuatu yang mudah diterima.

Dia terbiasa bersama dengan Kizuki sedari usia tiga tahun, berciuman untuk kali pertama saat kelas enam SD, dan hampir tak pernah terpisah untuk waktu lama. Mereka berdua adalah pasangan yang amat bahagia sampai perpisahan yang sangat tiba-tiba menjemput kebahagiaan itu tepat di depan muka. Pada suatu malam Kizuki menyambungkan selang karet pada pipa knalpot mobil, menutup sela-sela kaca jendela dengan lakban, lalu menghidupkan mesinnya.

Sebuah cara bunuh diri yang menyakitkan karena dengan cara itu manusia butuh beberapa jam untuk bisa benar-benar mati. Tetapi lebih menyakitkan dari kematian adalah fakta bahwa ada orang yang hidup dan terus-menerus merasa ditinggalkan. Dalam kasus ini, Naoko bahkan tidak sanggup menanggung beban yang dia tanggung. Setelah dalam waktu yang cukup lama menderita gangguan jiwa, ia akhirnya memutuskan untuk bunuh diri juga.

Melalui Naoko, Murakami hendak menunjukkan bahwa kehilangan akan terasa sangat menakutkan jika ia tidak dipersiapkan. Sebab, melalui tokoh lain bernama Midori, kita bisa belajar tentang cara bersahabat dengan perpisahan. Saat ayahnya yang telah lama sekarat meninggal, ia justru minum arak hingga pagi, lalu tertidur dengan nyenyak. Tak ada satu tetes pun air mata.

"Kalau dibandingkan dengan kerepotan kita merawatnya setiap hari, upacara itu (kematian) benar-benar seperti berpiknik," kata Midori.i

Midori merupakan anomali bagi kemurungan di sepanjang cerita. Dia adalah seorang tokoh dengan deskripsi keriangan luar biasa. Rambut pendek, pakaian kasual, dan tindak lincahnya yang menyerupai lelaki menutupi banyak kesedihan yang dia derita. Ibunya telah meninggal sebelumnya. Tetapi Midori justru mengaku lega setelah ibunya tiada.

"Aku gunakan anggaran rumah tangga untuk membeli barang-barang yang kusukai,"ii kata Midori dengan wajah serius.

Dan saat Watanabe bertanya di mana ayahnya berada, Midori tidak segera mengaku bahwa orangtuanya yang tersisa tengah terbaring menderita penyakit yang sama dengan ibunya. Dengan senyum ia bilang ayahnya pindah ke Uruguay, menyabung nasib di sebuah perkebunan.  Keanehan-keanehan Midori dibawa oleh Murakami sebagai penengah konflik batin yang dialami oleh Watanabe

"Kauanggap saja kehidupan ini sebagai kaleng biskuit," ujar Midori. "Di dalam kaleng biskuit itu ada bermacam-macam biskuit, ada yang kamu sukai ada pula yang tak kamu suka. dan kalau terus memakan yang kamu suka, yang tersisa hanya yang tidak kamu suka."iii

Paradoks tidak sepenuhnya diemban oleh Midori. Nagasawa pun ditugaskan sebagai antitesis dari sifat-sifat Watanabe. Jika Watanabe adalah pendiam kutu buku, Nagasawa adalah tipe mahasiswa idola. Ia memiliki aura aneh di dalam dirinya sehingga orang yang baru dikenalnya pun senang berada di dekatnya. Aura itulah yang menjadikan ia tak pernah merasakan kegagalan, termasuk dalam mengajak perempuan bercinta dengannya.

Kehilangan itu absolut. Rasa sedih karena kehilangan itu pasti. Norwegian Wood memberikan alternatif-alternatif aneh namun menarik untuk mengatasi kehilangan. Paska kematian orang yang disayanginya, masing-masing orang menempuh jalan berbeda.. Watanabe memilih bepergian  jauh ke tempat yang belum pernah ia singgahi. Midori menjual rumahnya setelah bercinta di depan foto mendiang ayahnya. Naoki, setelah sekian lama mengidap depresi, kemudian mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Mereka, sebagai manusia dengan kehendak bebas, telah menentukan pilihannya sendiri tanpa campur tangan, atau memohon belas kasihan orang terdekatnya. Karena, mengutip omongan Nagasawa: jangan mengasihani diri sendiri. Mengasihani diri sendiri adalah tindakan orang hina.iv

***

Catatan kaki:

i. halaman 325
ii. halaman 102
iii. halaman  366
iv. halaman 353

8 comments:

  1. demen sama resensi yang nggak sok tau, nggak menggurui, kayak gini. pas.
    dan tulisanmu rapi kayak biasane.

    bukunya dari covernya aja udah keliatan 'suram' jadi pengen beli juga. tapi kemarin sisa 1 tok. eerr

    ReplyDelete
  2. Sepertinya, meresensi buku itu ada dua gaya, ya. Ada yang menafsir bebas satu poin dr novel itu (sprti ttg kehilangan yg km dedah skrg) dan ada yg sifatnya mengavaluasi (seperti di http://jakartabeat.net/idea/kanal-idea/film/item/524-norwegian-wood-antara-yang-verbal-dan-yang-visual.html#.UlQEkdJQFfs atau http://daftpust.wordpress.com/2011/05/11/norwegian-wood-ketika-mengamati-mengganti-komunikasi/).

    Yang bisa dikritik dr artikel ini: (1) gak ada judul lain, kah? Hahahaha, (2) jatuh-jatuhnya bahas kehilangan, melankolis lagi, melankolis lagi. Hahaha.

    Sama ini, komen org di atasku, kok bs bilang tlsn ini gak menggurui. Jelas-jelas disodori satu tafsir gitu, kok :p

    Nulis tema lainlah. Jangan melankolis terus, Git.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dyarwe mas Findo dikomen guruku nulis. haha.

      baik, cik. secepatnya bakal nulis yang nggak melankolis!

      Delete
  3. entah gw harus bersyukur ato nggak kmaren ga jadi ambil buku ini pas ke gramed... takut makin suram idup gw ._.

    ReplyDelete
  4. resensi yang renyah buat dibaca, sebab ditulis dengan gaya khas Gita yang sastrawi dan melankolis. tetapi, mungkin karena terlalu banyak menyigi soal kehilangan, membaca resensi ini lama kelamaan jadi terasa monoton. utamanya sejak paruh kedua tulisan.

    mungkin jika tidak melulu berfokus pada kehilangan yang dialami para tokohnya, resensi ini bakal terasa majemuk untuk dibaca. misalnya, dengan menyorot gaya bertutur yang dipakai Murakami. atau mengkomparasi dengan tulisan-tulisan Murakami yang lain. bukankah masih banyak hal yang bisa disorot ketimbang soal kehilangan, Git?

    ReplyDelete
    Replies
    1. woh iya, bener juga. nggak kepikiran.
      tapi kalo direvisi bakal ngubah total isi resensi ya, lagian jadi mainstream dong cara ngeresensi kaya gitu?

      Delete