Sep 5, 2013

Sedikit Tanggapan Buat Heru Irfanto


Talk don't change a thing.  - The Temper Trap (Fader, 2009)

Saya merasa senang. Ocehan saya sebelum ini (baca: Als Ik Eens) mendapat tanggapan oleh Heru (baca: Sebuah Erata). Sebabnya, Heru mengerti bahwa saya sedang mengajukan protes. Bahwa di tulisan itu saya sedang menyindir dan dia mencoba untuk "menenangkan" saya. Dia bilang agar saya tak usah lah banyak berandai-andai dan biarkan saja orang-orang yang saya coba sindir berbuat semau dia. Sebab, Heru yang banyak membaca Chairil mungkin mengamini: nasib adalah kesunyian masing-masing.

Saya setuju pada beberapa poin yang dia kemukakan. Tetapi ada poin-poin yang sebaiknya saya jelaskan ulang agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Menurut apa yang saya tangkap, Heru secara tersirat menganggap bahwa isi tulisan saya hanyalah berisi keluh kesah dan rasa iri. Sehingga tidak perlu diteruskan lebih jauh lagi. Benar saya mengeluh, tetapi yang saya keluhkan adalah kelakuan mereka yang kesombongannya melebihi Firaun sehabis menang undian siapa-yang-menjadi-raja di alam sebelumnya. Bukan mengeluh tentang keadaan saya di Bangko yang jauh dari kemacetan ini. Heru salah jika menganggap keluhan saya adalah rasa iri terhadap apa yang dipamerkan oleh kawan-kawan di Jakarta. Untuk Heru ketahui--jika saya mau sombong--saya bisa berkata bahwa tempo hari saya membeli tiket pesawat termahal di akhir pekan hanya untuk menemui seseorang beberapa jam di Jakarta. Setelah itu pulang. Tak ada alasan sama sekali untuk menumbuhkan sifat buruk yang menurut rasulullah laksana "api yang menggerogoti kayu" itu.

Poin berikutnya adalah kalimat Heru: kamu pikir teman-teman di Jakarta tak pernah iri kepada kalian yang bisa berlibur dengan ‘cuma-cuma’ tanpa harus membayar tiket mahal atau harus mengemis pada keberuntungan agar mendapatkan tiket promo untuk sekadar melepas penat barang sejenak setelah sepekan dihimpit kerjaan, dicekoki junk food, dipekakkan bunyi klakson, dan dijejali asap knalpot?

Mungkin generalisasi macam inilah yang biasa dilakukan oleh orang pusat. Mereka menganggap semua  KPP di daerah memiliki kapasitas SDM, baik kualitas maupun kuantitas, sama dengan orang di kantor ajaib di Jakarta, yang memiliki fasilitas berlebih. Sehingga, tanpa pandang bulu seringkali mereka mengeluarkan satu kebijakan. Sama rata.

Indonesia itu luas, Heru. Kita bahkan bisa mengetahuinya hanya dengan mengetik beberapa kata di mesin pencari. Tetapi yang perlu Heru pahami, tidak semua daerah adalah tempat wisata. Tak semua kota memiliki gunung yang rimbun dan pantai yang menawarkan senja. Beberapa lebih mirip tempat pembuangan seperti pulau Buru pada era orde baru. Listrik padam tiap kali hujan. Air mati tiap beberapa jam sekali. Sinyal telepon apalagi, susah dicari. Yakinkah ada di antara kawan-kawan Jakarta iri dengan mereka yang penempatan di kota ini? Saya kira tidak. Dalam kasus ini, Heru, saya kira pepatah manis sawang-sinawang yang kausebutkan sudah tak berlaku.

Tetapi dari semua poin yang saya sebutkan di atas, poin paling penting adalah anjuran Heru agar saya tidak menulis seperti kemarin. Karena, kata Heru, sebanyak apapun saya mengentri keluhan, toh keadaan tetap tak akan berubah. Saya tetap di Bangko, dan yang pamer tetap ada di tempatnya semula.

Sejak kapan kegiatan menulis berfungsi untuk mengubah nasib?

Saya teringat pada ucapan Mario Vargas Llosa. Dia bilang, "saya menulis sebab saya tidak senang. Saya menulis karena menulis adalah cara untuk melawan perasaan tidak senang itu."

Belum pernah ada kegiatan menulis yang dibebani tugas seberat yang Heru sebutkan: mengubah takdir. Kecuali Tuhan yang hobi menulis di Lauhful Mahfudz, tak ada satu tulisan pun bisa mengubah nasib tanpa ada usaha dari yang bersangkutan. Manusia menulis hanya karena ia gundah, hanya karena ia memiliki gagasan yang ingin ia katakan. Sesimpel itu. Kalau setelah menulis ternyata ia bisa melakukan perubahan, itu adalah bonus. Kalaupun tak bisa, setidaknya ia telah mengungkapkan kegundahan yang ada di hatinya. Bukankah itu juga tujuan kau menulis selama ini, Heru kawanku?

Heru dengan bijak berkata bahwa hidup bukanlah karnaval untuk memamerkan kesedihan. Kalimat merdu yang hanya pantas dipakai dalam puisi untuk kekasih. Justru karena itulah, Heru, saya kemarin menuliskan apa yang saya gelisahkan. Karena terlalu banyak orang yang kusebut melakukan parade keluhan, sementara mereka yang kausebut sahabat, hanya kebagian sumpah serapah di media sosial di mana mereka ingin beristirahat.


***

*catatan: postingan ini telah ditanggapi pula oleh Andreas Rossi.

2 comments: