Sep 8, 2013

Dadu

God doesn't play dice. He plays poker and always gets straight flush. - a friend of mine

Sejujurnya, saya hampir berhenti menanggapi setelah membaca tulisan Andre (baca: Sepatah Dua Patah Kata yang Tak Terlalu Penting). Karena buat apa melanjutkan hal yang sebenarnya sudah sama-sama kita tahu akan mengarah ke mana. Tetapi kemudian Marli membuat tanggapan lagi (baca: Seteguk Bir dan Susu Kedelai) yang berhasil menggelitik syaraf dan membuat saya gatal untuk kembali membalasnya.

Kali pertama saya ingin menegaskan kembali bahwa apa yang saya keluhkan bukanlah keadaan saya di tempat kerja. Saya sudah menjelaskan hal ini di tulisan kepada Heru (baca: Sedikit Tanggapan Buat Heru Irfanto). Di sana, saya mencoba menampilkan kesombongan yang penuh hiperbola untuk menjelaskan secara tersirat bahwa masalah yang saya deskripsikan (mengenai padamnya listrik setiap hujan dan sinyal susah) bukan berada di tempat saya. Tetapi meskipun itu terjadi di sini, masihkah kita perlu membandingkan siapa lebih banyak kena polusi, siapa lebih jauh dari keluarga, ataupun siapa yang paling pantas mengeluh dan siapa yang boleh tertawa di antara kita semua? Saya kira tidak.

Saya kira, Marli, kesialan biarlah menjadi sesuatu yang harus dipikul oleh masing-masing individu. Tidak sedetik pun waktu saya habiskan untuk menangisi jatah kesialan yang saya miliki. Dan bukankah tidak ada satu kalimat pun dari saya sebelumnya yang mempermasalahkan hak yang sudah seharusnya diterima oleh tiap-tiap dari kita? Jika terjadi kesalahpahaman, saya memohon maaf. Itu merupakan faktor IQ dan IPK yang rendah sehingga saya sukar menjelaskan gagasan yang saya punya.

Biarlah saya ulang untuk meluruskan: saya sama sekali tidak iri dengan rezeki orang lain. Tapi jika mereka yang memiliki rezeki lebih meludah dengan tatapan menghina pada saya, itu adalah masalah yang sama sekali berbeda.

Karena itu, menganalogikan apa yang tengah kita persoalkan dengan melihat orang makan saat berpuasa adalah gejala dari sesat logika. Orang makan karena ia memenuhi kewajiban, memenuhi kebutuhan tubuhnya. Namun memang ada beberapa keparat yang seenaknya bersendawa di depan muka kita saat ia kekenyangan. Ini--kembali mengulang apa yang saya tulis kali pertama--bukan masalah benar atau salah. Ini hanya persoalan sopan dan tidak sopan. Anda berhak sendawa di manapun yang anda inginkan. Toh uang yang diperoleh untuk membeli makan adalah hasil kerja anda sendiri, jerih payah anda sendiri. Hanya saja, beberapa orang tidak ragu untuk menempeleng tepat di hidung anda ketika anda berbuat tidak sopan kepadanya.

Sampai sini, sudah bersepakatkah kita mengenai apa yang saya keluhkan? Jika belum, silakan mengajukan nota protes dengan selayaknya. Saya menerima dengan tangan terbuka segala perbaikan dan koreksinya.

Sekarang mari kita melanjutkan bagian paling menarik: Tuhan dan permainan nasib.

Saya masih percaya adanya Tuhan. Saya percaya Tuhan tak pernah melakukan sesuatu yang percuma macam permainan dadu dan mengundi nasib makhluk ciptaan-Nya secara acak. Kalaupun Tuhan suka berjudi, Ia hanya bermain poker. Sebab Ia memegang kartu dominan berupa straight flush. Ia menentukan sendiri siapa lawan main (dalam hal ini manusia) yang hendak Ia pecundangi. Ia menentukan sendiri kapanpun Ia mau.

Kau tahu, Marli, beberapa orang berjuang mati-matian dan tetap menemui kekalahan saat peluit akhir berbunyi. Saya mengenal beberapa orang telah belajar dengan sangat keras semasa kuliah namun memperoleh hasil kurang memuaskann ketika nilainya diperdengarkan di yudisium. Mereka telah melakukan hal yang seharusnya. Belajar rutin, tidak tidur menjelang ujian, hingga merendahkan harga diri di depan kawan bernilai sempurna. Hanya saja Tuhan menginginkan mereka untuk kecewa, untuk kau pecundangi melalui premis-premis jemawamu itu.

Sungguh kau berhak menyebut saya berada di tempat ini karena saya pemalas. Memang faktanya begitu. Tapi kau tak bisa seenaknya mengambil kesimpulan seperti itu di depan semua orang. Kau bisa menyakiti hati mereka yang saya sebutkan di atas. Belum lagi pekerja keras yang memperoleh IPK besar namun bernasib buruk ditempatkan di luar kemauan mereka. Sekali lagi, analogimu mengenai penempatan dengan janji surga dan neraka itu tak sepenuhnya tepat. Instansi kita, kementerian kita bukanlah Tuhan. Ada perhitungan yang meleset--juga sengaja dipelesetkan--di sana. Tidakkah kita telah sama-sama mengetahuinya?

Kau perlu ingat, Marli, ego dan kesombongan adalah hal sia-sia yang tak patut untuk dipertontonkan di muka umum. Ketika kau menang, kesombongan akan menguasaimu. Ia bilang kau yang berusaha sehingga sudah sepantasnya kau memperoleh kemenangan. Ketika kau kalah, egomu berteriak lantang bahwa tidak seharusnya kau menerima hasil memalukan itu. Tak seharusnya kau menjadi objek cemooh dan celaan dari banyak orang yang merayakan kekalahanmu.

Kapan hari saya berkicau: orang yang merasa hebat dan memiliki ego besar sesekali harus dijatuhkan. Sesakit-sakitnya.

Saya paham mengapa beberapa reaksioner tiba-tiba menjadi bijak dan seolah berkata "kamu yang sabar ya" menanggapi tulisan saya. Jika ego yang kita punyai masih cukup banyak tersisa, mari lanjutkan perdebatan ini. Sebenarnya saya tak pernah bersungguh-sungguh berkicau seperti itu. Biar begitu, saya selalu siap jika ada orang yang sukarela ingin dijatuhkan. Sebelumnya, pastikan beli buku motivasi banyak-banyak untuk menemani kejatuhanmu.

3 comments:

  1. pas tak kasih liat blogmu, git, salah satu temenku yang penempatan papua bilang, "Kenopo wonge (maksude kowe) nggak neng Media Keuangan yo."
    dan aku njawab, "Terus aku ngancani kon neng Timika?"
    balik lagi dadu, nggak ada yang tau.

    udah itu tok git, bukan ngajak melanjutkan perdebatan. ampun, nggak siap nek kamu yang menjatuhkan.

    ReplyDelete
  2. Siiip mas.....lawan tulisan dengan tulisan...

    ReplyDelete